SURABAYA | duta.co – Purwanto M Ali, Ketua PP GP Ansor periode 2005-2011, yakin bahwa pertemuan di Ndalem Kasepuhan Tebuireng, Sabtu (6/12/25) akan mendukung isi Risalah Syuriyah PBNU yang diteken Rais Aam KH Miftachul Akhyar.

Mengapa? “Karena isi risalah (berupa pemberhentian Ketua Umum PBNU red) itu sudah tepat. Ini perlu demi menjaga marwah NU, sangat prosedural, dilakukan dengan dua tabayun, saya membaca ada jawaban tertulis,” tegas Purwanto kepada duta.co, Jumat (5/12/25).

Dalam pandangan Purwanto, pertemuan Tebuireng, Jombang itu kesannya justru kurang elok. “Apalagi ada dua pertemuan. Melihat isi dua surat itu saja, sudah multitafsir. Dan dari tokoh -tokoh yang diundang, ini jelas menyiratkan adanya dua kubu. Yaitu kubu Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan kubu Ketua Umum PBNU. Kedua kelompok diundang pada jam yang berbeda,” tegasnya.

Menurut Purwanto, dari undangan yang ia baca, dengan mengundang (2 undangan ) tersebut sudah tampak jelas arahnya. “Makin jelas adanya penguatan konflik dua kubu yang mesti didamaikan atau dicarikan penyelesaian damai melalui musyawarah para mustasyar menuju islah tersebut. Ini menurut saya kurang elok,” terangnya.

“Jadi, secara eksplisit sudah dapat ditebak, bahwa agenda Tebuireng itu mengusung tema ‘islah’. Di sini, pihak yang telah diberhentikan oleh Syuriyah PBNU itu berharap kembali. Lalu, muncul pertanyaan, buat apa ada Rais Aam segala,” tambah Purwanto yang menilai Rais Aam dan Sekjend PBNU bisa saja tidak menghadiri acara itu.

Ia menilai penyelesaian persoalan pelanggaran berat organisasi, bisa salah jalur bila dilakukan dengan cara islah. Pelanggaran berat haruslah diselesaikan dengan pemberian sanksi organisasi dengan mekanisme organisasi pula.

Apalagi Risalah Syuriyah (pemberhentian Gus Yahya sebagai Ketum PBNU) itu sudah disosialisakan ke seluruh PWNU. Dan 36 PWNU dan mendukung pemberhentian Gus Yahya Cholil Staquf, maka langkah berikutnya membawa keputusan rapat syuriyah dalam rapat pleno PBNU yang sudah direncanakan tanggal 9 -10 di Jakarta.

“Dengan demikian, demi tegaknya disiplin organisasi dan menjaga marwah NU, maka, Rais Aam dan Syuriyah PBNU, Sekjen dan Bendum PBNU yang diundang dalam pertemuan Tebuireng hari Sabtu besok, tidak wajib hadir,” pungkasnya.

Berbeda dengan mantan Sekjen PP IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), HM Maksum Zuber. Menurut pertemuan Tebuireng itu urgen. Setidaknya menjadi jalan keluar menyelesaikan masalah. “Alhamdulillah! Semoga cepat tuntas,” kata HM Maksum Zuber kepada duta.co, Jumat (5/12/25).

Artinya, tegas HM Maksum Zuber, jalan menuju islah terbuka lebar. “Umat yang dibawah ini prihatin menyaksikan kondisi PBNU sekarang. Seluruh warga NU di bawah, ini bingung melihat konflik yang terjadi di elit PBNU. Apa iya soal tambang,” tegas pembina IPNU-IPPNU Jember ini.

Menurut Maksum, jalan terbaik adalah islah, sebagaimana saran para kiai sepuh. Apa yang difatwakan para kiai sepuh adalah yang jalan menuju damai. Jangan ada pihak yang menolak. “Kalau menolak islah, pertanyaan untuk apa? Bukankah semua itu dilakukan dalam rangka pengabdian. Ber-NU itu, pengabdian,” tambahnya.

Dengan turun tangannya PP Tebuireng bersama Mustasyar PBNU, ia yakin seluruh masalah akan terurai dengan baik. “Kita tunggu hari Sabtu (6/12) besok. Rais Aam dan Ketua Umum masuk dalam daftar undangan, walau pun waktunya berbeda. Tapi masih satu hari, Sabtu. Semoga segera selesai,” harapnya.(mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry