Direktur Eksekutif ReforMineraI institute, Komaidi Notonegoro saat memaparkan "Dinamika Hilir Migas Nasional" dalam Ngobrol Pintar Energi (Ngoper) bersama Pertamina Parta Niaga di Surabaya, Jumat (25/3/2022). DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA | duta.co – Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus mengajak mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Surabaya, Ngobrol Pintar Energi (Ngoper) di Surabaya, Jumat (25/3/2022).

Hadir dalam diskusi ini, Section Head Communication and Relation Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Arya Yusa, Ketua DEM Surabaya Febrian Satria dan Direktur Eksekutif ReforMineraI institute Komaidi Notonegoro.

Arya Yusa mengatakan kegiatan ini untuk mengedukasi sekaligus memberikan wawasan kepada awak media dan mahasiswa terkait dinamika energi terutama minyak dan gas saat ini.

“Kami harap media dan mahasiswa mendapatkan pemahaman energi terkini dan dapat menyampaikan melalui publikasi mengenai saran-saran dan masukan kepada pemerintah,” ujar Arya.

Sementara itu Komaidi Notonegoro menjelaskan mengajak mahasiswa untuk ikut menjaga ketahanan energi nasional. “Anak-anak muda adalah yang akan menjaga semua ini,” ujarnya.

Komaidi dalam kesempatan itu menjelaskan Indonesia hingga 2050 masih akan tergantung pada bahan baku fosil. “Sebanyak 70 persen masih fosil, sisanya 30 persen bauran energi lainnya,” ungkap Komaidi.

Dari beberapa publikasi ilmiah, pada 2050 juga diprediksi masih banyak mobil konvensional di pasar Indonesia. “Sehingga masih butuh energi dari fosil ini. Uforia mobil listrik juga harus berhati-hati,” jelasnya.

Dengan kondisi seperti ini, Komaidi menegaskan dengan cadangan migas sebanyak 3 juta barel saat ini, diprediksi akan habis pada 11 tahun ke depan. Karena itu, diperlukan adanya cadangan baru.

“Untuk bisa menemukan cadangan produksi baru, dibutuhkan investasi. Adanya investasi juga harus ada pro ke badan usaha. Insentif harus diberikan pemerintah pada badan usaha,” tukasnya.

Febrian Satria, mahasiswa tetap harus dalam koridor intelektual begitupun dalam masalah energi, minyak dan gas ini. “Mahasiswa itu memang harus melakukan kajian sebelum melangkah lebih jauh. Setelah itu baru merumuskan rekomendasi lalu audiensi dengan banyak pihak terkait,” katanya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry