NGKRINGAN : GM Hotel Grand Tunjungan Surabaya, Fajar Subeni menunjukkan keahliannya secara langsung memasak Nasi Goreng untuk para pengunjung Angkringan Surabaya, Jumat Malam. DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA | duta.co – Pandemi Covid-19 berdampak sangat serius pada industry hotel. Dan sampai enam bulan sejak pandemi Covid-19 diumumkan di Indonesia para pelaku industri perhotelan di Surabaya masih harus berjuang keras agar tetap bertahan menjalankan bisnis mereka di tengah pandemi Covid-19. Sebab, Tingkat hunian (okupansi)  hotel masih belum pulih meskipun sejumlah sentimen positif perekonomian sudah digulirkan.

Dengan mengusung konsep angkringan jogya dan live musik, cahaya lampu juga lesehan, Hotel Grand Tunjungan ingin merubah image hotel dengan kondisi pandemi Surabaya hidup perekonomian dengan tidak merumahkan para pegawai Hotel. (duta.co/wiwik)

Salah satu pelaku industri perhotelan, Fajar Subeni yang juga General Manager Grand Tunjungan Surabaya menjelaskan, saat ini food and beverage (FNB) menjadi salah satu divisi yang bisa digunakan untuk mendongkrak pendapatan yang terus memburuk. Karena itu, kreativitas maupun diversifikasi harus dilakukan agar divisi layanan makanan dan minuman itu bisa mandatangkan pundi-pundi rupiah. “Kami mengakalinya dengan membuat angkringan saat weekend,” ungkap Fajar Subeni  General Manager Grand Tunjungan Hotel Surabaya, Sabtu (12/9).

Dijelaskannya, dalam kondisi normal, divisi FNB memberikan kontribusi lebih kecil bila dibandingkan dengan layanan kamar. Kontribusinya antara 30-40 persen terhadap pendapatan hotel. “60-70 persen masih dari jasa sewa kamar,” lanjutnya.

Namun, kata pria yang akrab disapa Beni itu, kontribusi berubah total saat pandemi Covid-19 melanda pada Maret lalu. Kontribusi kamar terus tergerus hingga tinggal 30-40 persen saja.

“Sekarang, setelah sekitar lima bulan berjalannya pandemi, kontribusi FNB justru yang terbanyak. Sekitar 60-70 persen,” ungkapnya.

Perbadingan yang berubah 180 derajat itu karena okupasi hotel yang terus merosot. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia mencatat, hinga pertengahan Juli, okupansi hotel di Surabaya masih di angka 15 persen. Angka itu masih lebih baik bila dibandingkan okupansi hotel di Makassar yang hanya 8 persen, Jogjakarta (10 persen), Medan (10 persen), Batam (10 persen), dan Bali (1 persen).

Fajar Subeni melanjutkan membuat angkringan dipilih karena konsumen Surabaya dan sekitarnya identik dengan budaya cangkruk, ngobrol sambil ngopi, ngeteh atau makan kudapan. Angkringan yang hanya buka Jumat malam dan Sabtu malam itu mengincar market family, komunitas serta anak muda.

“Awalnya target kita orang sepedaan, lama-lama yang datang malam di luar itu,” ungkap pria asal Jogjakata itu.

Dengan harga yang murah, Beni mengaku jika angkringan yang diberi nama Cofte itu mampu menarik perhatian. Buktinya, di hari Jumat, angkringan yang dibuat di halaman parkir Hotel Inna Tunjungan di jalan Gubernur Suryo itu bisa dikunjungi sekitar 250 hingga 300-an orang. Jumlah itu akan naik dua kali lipat saat malam minggu.

“Karena harga di tempat kami relative murah untuk ukuran pasar Surabaya. Bawa uang Rp 20 ribu sudah bisa makan sego kucing, aneka sate dan minuman,” pungkasnya.

Dengan mengusung konsep angkringan jogya dan live musik, cahaya lampu juga lesehan, Hotel Grand Tunjungan ingin merubah image hotel dengan kondisi pandemi Surabaya hidup perekonomian dengan tidak merumahkan para pegawai Hotel. (imm)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry