Michelle Lowe, Konselor Bidang Pembangunan Manusia, kedutaan Besar Australia Jakarta (kiri) menyerahkan cinderamata kepada Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Saiful Rachman disaksikan Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno (kanan), di Surabaya, Kamis (10/1). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Persoalan pendidikan di Indonesia ternyata berada di dalam ruang kelas.

Hal itu diungkapkan Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno saat hadir dalam acara Penyerahan Kesepakatan Bersama dan Sarasehan Bersama Gubernur Jawa Timur dan 5 Kepala Daerah Mitra Inovasi di Surabaya, Kamis (10/1).

Totok mengatakan Indonesia sudah bekerja keras dan mengeluarkan investasi yang sangat besar untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Namun kenyataannya, sampai saat ini pendidikan masih standard dan tidak ada kemajuan sedikitpun.

“Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani sampai geram, sudah dikasih anggaran besar tapi mutu pendidikan tidak kunjung meningkat. Ini ada apa?,” tandasnya.

Ternyata di Indonesia ini, sistem pendidikannya masih schooling without learning (bersekolah tanpa belajar).

Investasi di bidang pendidikan di Indonesia itu tidak sampai ke ruang kelas. Ini yang disesalkan, padahal masalah itu ada di ruang kelas.

“Mutu pendidikan di Indonesia ini baru dilihat dari banyaknya laboratorium yang dibangun, banyaknya perpustakaan yang didirikan, banyak buku yang diadakan dan sejenisnya,” tukasnya.

Totok menjelaskan, sampai saat ini ujian nasional (UN) masih belum bisa dijadikan sebagai sebuah tolak ukur.

Sekolah dan pemerintah daerah setempat masih mengejar angka semu keberhasilan. Sehingga UN sampai saat ini masih saja dicurangi.

Padahal seharusnya UN dijadikan tolak ukur. Jika memang jelek, maka harus diakui jelek. Dan kejelekan itu harus dibenahi.

“Bukan masalah baik buruknya, bukan masalah naik turunnya yang penting bagaimana membenahinya supaya pendidikan bermutu. Kalau sudah begitu, maka UN tidak perlu lagi dicurangi,” jelasnya.

Di sinilah diperlukan guru-guru yang inovatif. Karena guru yang inovatif akan bisa mencari solusi atas permasalahan yang ada di ruang kelas masing-masing.

“Solusinya bukan dari pihak lain, bukan dari pemerintah, bukan dari luar negeri, tapi ya dari guru itu sendiri. Solusi yang bermuatan lokal atas masalah yang timbul. Guru yang tahu sakitnya ya guru yang tahu obatnya,” jelasnya.

Sehingga Totok pun sangat mengapresiasi program Inovasi yang merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Australia.

Tidak hanya Totok, Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Saiful Rachman juga mengapresiasi program Inovasi ini. “Semoga semua kabupaten/kota di Jatim ini bermitra dengan program Inovasi ini,” tandasnya.

Program Inovasi di Jawa Timur memiliki lima mitra pemerintah daerah yakni  Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Probolinggo dan Kota Batu serta  Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Michelle Lowe, Konselor Bidang Pembangunan Manusia, kedutaan Besar Australia Jakarta  mengatakan Indonesia dan Australia telah bekerjasama selama bertahun-tahun dalam memperkuat sistem pendidikan di Indonesia.

Pemerintah Australia percaya, bahwa pendidikan yang berkualitas sangat penting bagi Indonesia, karena hal ini berkontribusi langsung terhadap pembangunan sumber daya manusia, serta angkatan kerja yang sehat dan produktif.

“Bekerja dengan pemerintah daerah, sekolah, dan guru di berbagai ruang kelas dan sekolah di Indonesia-termasuk Jawa Timur –Inovasi bertujuan untuk memperkuat kualitas pengajaran dan pembelajaran, khususnya dalam literasi dan numerasi,” kata Michelle Lowe. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.