DISKUSI : Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara (tengah) menjawab pertanyaan wartawan bersama Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean (kanan) dan S&D Regional Head Jawa Timur & Bali Nusra CIMB Niaga Rusidi (kiri) di sela acara Diskusi bersama CIMB Niaga tentang prospek perekonomian Indonesia pada semester II/2019 di Surabaya. (duta.co/wiwik)

SURABAYA | duta.co – Potensi pasar perbankan syariah yang sangat besar di Indonesia menjadi satu alasan utama bagi PT Bank CIMB Niaga untuk fokus dan serius memacu kinerja Unit Usaha Syariah.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P Djajanegara mengatakan kondisi perekonomian saat ini cukup positif. Hal ini diharapkan turut menumbuhkan bisnis perbankan Syariah yang masih berkutat dengan marker share dibawah 6%.

“Kita mempersiapkan proses spin off UUS. Namun sebelum benar-benar terlaksana, kita akan pacu kinerja UUS menjadi lebih maksimal sehingga memiliki performansi yang kuat dari modal, asset dan kekuatan lainnya,” jelasnya usai media gathering di Surabaya kemarin.

Pandji P Djajanegara menambahkan sesuaiperaturan pemerintah, Bank Umum Konvensional harus memisahkan diri  dari unit usaha Syariah sebelum tahun 2023. Ketentuan ini dilakukan berdasarkan Pasal 40 Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/10/PBI/2009 mengenai Unit Usaha Syariah (PBI 11/2009).

“CIMB Niaga sebagai Bank umum Konvensional (BUK) yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) mulai memikirkan rencana pemisahan tersebut. Targetnya sebelum batas akhir regulasi sudah terlaksana spin off-nya,”jelas Pandji P Djajanegara.

Tantangan terbesar bank syariah selama ini yakni anggapan masyarakat mengenai unit usaha syariah masih kurang. Banyak yang berpikir bahwa syariah merupakan Bank KW 2. Selain itu, banyak masyarakat yang masih ragu apakah unit tersebut halal atau tidak.

“Masalah kurangnya pemahaman mengenai bank Syariah juga menjadi faktor utama kurangnya minat masyarakat,” katanya.

Pada kuartal pertama, pembiayaan CIMB Niaga Syariah tumbuh 61,1 persen Year-on-Year (YoY) menjadi Rp 28,04 triliun. Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 51,0 persen YoY menjadi Rp 26,52 triliun. Dengan kinerja tersebut, laba sebelum pajak sebesar Rp 236,52 miliar, naik 54,1 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Perkuat Penetrasi lewat Wakaf Digital

Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga masih cukup optimistis dapat mencapai pertumbuhan positif pada semester kedua 2019. Kondisi perekonomian yang dinilai positif serta penguatan penetrasi melaui berbagai terobosan dinilai dapat merealisasikan target tersebut.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P Djajanegara mengatakan kondisi perekonomian saat ini cukup positif. Hal ini diharapkan turut menumbuhkan bisnis Syariah, termasuk penghimpunan dana wakaf dari masyarakat kepada Iembaga-Iembaga pengelola wakaf.

CIMB Niaga Syariah sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS PWU) terus mendukung pengembangan wakaf dengan mengedukasi masyarakat. Termasuk, dengan menyediakan channel digital yang Iengkap untuk pembayaran wakaf uang dan wakaf melalui uang.

Di antaranya melalui CIMB cliks, Go Mobile, ATM, dan aplikasi e-salaam. ”Masyarakat bisa berwakaf dengan mudah melalui channel digital yang kami sediakan melalui berbagai kemudahan tersebut. Kami juga menyediakan kode QR (Quick Response) khusus wakaf di sejumlah masjid dan Iembaga wakaf yang dapat dipindai melalui berbagai aplikasi pembayaran di ponsel,” kata Pandji di Surabaya, Kamis (25/7/2019).

Pandji menambahkan bahwa CIMB Niaga Syariah tak sekadar menyediakan kanal pembayaran, lebih dari itu juga membuat produk khusus untuk menghimpun dana wakaf yaitu Tabungan iB Mapan Wakaf. Tersedianya beragam channel serta produk pembayaran wakaf tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan penghimpunan dana wakaf melalui CIMB Niaga Syariah.

Dana wakaf yang terkumpul akan disalurkan untuk membiayai berbagai program. Untuk memaksimalkan hal tersebut, CIMB Niaga Syariah memiliki 15 nazhir (pengelola wakaf) mitra.

”CIMB Niaga Syariah senantiasa mendukung kemajuan perekonomian umat dengan terus berinovasi menyediakan produk dan Iayanan yang mudah diakses sesuai kebutuhan para nasabah guna mengoptimalkan besarnya potensi bisnis perbankan Syariah di Tanah Air,” tutup Pandji.

Sementara Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean menambahkan bahwa pihaknya cukup optimis prospek pasar keuangan dan perekonomian Indonesia pada semester Il/2019 positif. Prospek positif tersebut di antaranya terlihat dari menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) ke level Rp13.900 dan turunnya yield obligasi bertenor 10 tahun ke level 7,0 persen dari 7,80 persen

”Kondisi tersebut merupakan kontribusi dari net foreign inflow di pasar modal yang sangat besar pada semester l/2019, mencapai sekitar Rp160 triliun. Hal ini juga didukung faktor lainnya seperti dollar AS yang relatif soft dibanding bulan Ialu serta kurs mata uang Tiongkok (CNY) yang tidak banyak terdepresiasi terhadap dollar AS,” kata Adrian. (imm)