DIBURU : Mahasiswa FK Unair belajar di lorong belakang kampus A di Jalan Prof Moestopo, Rabu (12/6). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Untuk bisa menjadi  mahasiswa baru program studi (prodi) Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) memang tidak mudah.

Persaingan untuk bisa masuk fakultas paling tua di Unair ini satu banding 30 pada 2018 lalu.

Dekan FK Unair, Prof Dr dr Soetojo, SpU (K) mengungkapkan daya tampung prodi Pendidikan Dokter hanya 250 mahasiswa baru (maba).

Dari jumlah itu, dibagi dalam tiga jalur yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi  Negeri (SBMPTN) dan Mandiri.

“Kalau keketatannya satu banding 30 berarti yang daftar 250 dikalikan 30. Benar-benar kita mengutamakan nilai terbaik dan prestasi terbaiknya,” ujar Prof Soetojo usai acara halal bihalal dengan para dosen dan karyawan FK Unair, di Graha Bik, Rabu (12/6).

Seperti diberitakan sebelumnya, dari 250 mahasiswa baru yang diterima, 100 maba dari jalur SNMPTN, 75 jalur SBMPTN dan 75 maba dari jalur mandiri.

“Daya tampung kita maksimal memang segitu (250 maba) tidak bisa ditambah karena fasilitas cukupnya segitu. Juga kita memikirkan perbandingan dosen dengan mahasiswa,” tambah Prof Soetojo.

Untuk jalur SNMPTN dan SBMPTN, dikatakan Prof Soetojo sudah ada jalur resmi dari pemerintah dan sudah diatur sedemikian rupa. Yang untuk jalur mandiri, Unair bisa melakukan seleksi sendiri.

Seleksi sendiri inilah yang banyak beredar isu-isu miring dengan menarik dana sumbangan ratusan juta hingga miliaran. Sama dengan Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih, Prof Soetojo pun membantahnya.

“Tidak benar itu. Sekarang ini uang kuliah awal (UKA)-nya Rp 99 juta. Sebelumnya Rp 70 juta. Kenaikan ini karena kebutuhan kampus yang juga meningkat tajam. Tapi tidak seperti yang diisukan,” tukasnya.

Untuk uang kuliah awal memang ditetapkan minimal Rp 99 juta. Namun Prof Soetojo mengungkapkan banyak orang tua yang anaknya sudah diterima di FK Unair jalur mandiri yang memberikan sumbangan lebih dari nilai minimal UKA.

“Kalau mau sumbang lebih  besar, ya boleh saja. Rp 500 juta bisa, Rp 1 miliar pun bisa. Tapi besar kecilnya sumbangan itu tidak menentukan peserta diterima. Kami tetap mengutamakan nilai tes seleksi,” jelasnya.

Nilai tes memang menjadi penentu diterima tidaknya peserta menjadi mahasiswa baru FK Unair.

“Untuk jalur mandiri ini memang kebanyakan diikuti mereka yang pintar dan memiliki kemampuan financial. Kalau pintar tapi tidak memiliki kemampuan financial bisa mengikuti seleksi lainnya yakni SNMPTN dan SBMPTN. Unair ini berimbang kok, kita akomodir semua kalangan,” katanya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.