(Catatan Haru Seorang Salik di Hari ke-10 Suluk Ramadhan 1447 H di Ponpes Pasulukan Al Masykuriyah, Batuampar, Condet Raya Jakarta)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

PAGI menyapa Pasulukan dengan cahaya yang terasa berbeda. Tidak semegah hari-hari sebelumnya, namun justru itulah keindahannya, kesyahduan yang sederhana, menusuk ke dasar jiwa. Angin yang lewat pelan seolah membawa bisikan: “Inilah akhirnya. Untuk sekarang.”

Sepuluh hari.
Sepuluh malam.
Kami para salik datang dari berbagai penjuru, membawa hati yang penuh beban, tubuh yang lelah oleh dunia, dan jiwa yang haus akan makna.

Di pondok yang sunyi tapi terang oleh dzikir ini, kami ditempa. Bukan oleh kekerasan latihan fisik, tetapi oleh kelembutan cinta Sang Mursyid. Bukan oleh teriakan, tapi oleh bisikan nur ilahi yang menyusup perlahan lewat lafaz “Allah… Allah…” yang kami lafazkan ribuan kali setiap hari.

Kini, setelah satu dudukan terakhir, sebuah penutup sesuai maqamnya, kami dipersilakan pulang. Bukan karena perjalanan sudah selesai, tetapi karena suluk sejati kini harus dilanjutkan di tengah keluarga dan masyarakat. Kami kembali, namun tidak sama.
Kami kembali, namun bukan lagi sebagai diri yang lama.

Hati ini berat…
Bagaimana tidak? Meninggalkan suasana di mana langit terasa dekat, di mana setiap malam seperti malam lailatul qadar, dan di mana mursyid kami, Syeikh KH. Ali Masykur Musa, duduk dengan wajah teduh, memandang kami seperti ayah memandang anak-anak ruhaniahnya. Ia tidak mengikat kami dengan janji, tapi dengan kasih. Ia tidak memaksa kami bertahan, tapi cinta darinya membuat kami tak ingin pergi.

Namun kami tahu,
Ini bukan perpisahan abadi.
Ini hanya tahallul dari tempat, bukan dari tali ruhani.

Kami akan kembali. Kami akan berjumpa lagi. Kami akan duduk lagi dalam lingkaran dzikir yang sama. Dalam keheningan yang sama. Dalam cahaya yang sama. Di hadapan mursyid yang sama, yang doanya menjadi jembatan antara langit dan kami.

Perjalanan ini bukan akhir. Ini hanya titik koma dari sebuah kalimat panjang bernama suluk.

Kami pulang membawa bekal bukan berupa makanan, tapi dzikir yang melekat di dada,
restu, himmah dan berkah yang menempel di langkah, dan karamah yang bersemi di kalbu.

Dan di dalam hati, kami menyimpan satu harap, Semoga perjumpaan kami pada suluk berikutnya, lebih dalam, lebih suci, lebih fana’.
Karena dalam suluk, yang terpenting bukan sampai, tetapi bagaimana kita melebur.

الهى انت مقصودى ورضاك مطلوبى “Ya Tuhanku, Engkau adalah tujuanku, dan keridhaan-Mu adalah yang aku dambakan.”

Rindu Berjumpa dalam Sebuah Puisi.

يَا لَيْلَ سُلُوكٍ قَدْ مَضَى فِي سُكُونِ
وَالْقَلْبُ بَيْنَ دَمْعٍ وَنُورٍ مَكْنُونِ

إِنْ غِبْنَا عَنِ الْخَلْوَةِ يَوْمًا وَمَكَانَا
فَذِكْرُ الإِلٰهِ يَبْقَى فِي الصُّدُورِ مَصُونِ

Wahai malam suluk yang berlalu dalam sunyi,
Hati kami basah oleh air mata dan cahaya tersembunyi.

Meski suatu hari kami meninggalkan tempat khalwat ini, Namun dzikir kepada Allah akan tetap terjaga di dalam dada.

يَا رَوْضَةَ الذِّكْرِ فِي لَيَالِي رَمَضَانْ
كَمْ سَكَنَتْ فِيكِ أَرْوَاحٌ تَحِنُّ لِلرَّحْمٰنْ

نَرْحَلُ الْيَوْمَ وَالدَّمْعُ فِي الْمُقَلْ
وَنَرْجُو لِقَاءً فِي سُلُوكٍ بِمُحَرَّمٍ ثَانْ

Wahai taman dzikir di malam-malam Ramadhan, Di dalamnya ruh-ruh tinggal merindu kepada Ar-Rahman.

Hari ini kami pergi dengan mata yang basah,
Namun berharap berjumpa kembali pada suluk Muharram mendatang.

سَلَكْنَا الطَّرِيقَ وَالْقَلْبُ مُضْطَرِمٌ حُبًّا
وَالذِّكْرُ فِي الصَّدْرِ كَالنُّورِ إِذَا هَبَّا

إِنْ عَادَتِ الدُّنْيَا تُنَادِي خُطُوَاتِنَا
فَاللهُ مَقْصُودُنَا وَرضاه مطلوبنا

Kami menapaki jalan ini dengan hati yang menyala cinta, Dzikir di dada seperti cahaya yang berhembus lembut.

Jika dunia kembali memanggil langkah-langkah kami, Allah tetap tujuan kami, dan ridha-Nya yang kami cari.

دُمُوعُ السَّالِكِينَ فِي آخِرِ السُّفْرَةِ
لَيْسَتْ حُزْنًا بَلْ بَشَارَةُ النُّورِ وَالْقُرْبَةِ

إِذَا بَكَى الْقَلْبُ مِنْ خَوْفٍ وَمَحَبَّةٍ
فَذٰلِكَ بَابٌ إِلَى حَضْرَةِ الرَّحْمَةِ

Air mata para salik di akhir perjalanan ini
Bukan kesedihan, tetapi kabar tentang cahaya dan kedekatan.

Ketika hati menangis karena takut dan cinta kepada Allah, Itulah pintu menuju hadirat rahmat-Nya.

يَا رَبَّنَا هٰذِهِ خُطُوَاتُنَا قَدْ بَلَغَتْ
وَأَنْتَ تَعْلَمُ مَا فِي الصُّدُورِ وَمَا خَفَتْ

فَاجْعَلْ لِقَاءَنَا فِي الذِّكْرِ دَائِمًا
حَتَّى نَلْقَاكَ وَالرُّوحُ بِحُبِّكَ قَدْ سَكَنَتْ

Wahai Tuhan kami, langkah-langkah ini telah sampai di ujungnya, Dan Engkau mengetahui rahasia hati kami.

Jadikan pertemuan kami selalu dalam dzikir kepada-Mu, Hingga suatu saat kami bertemu-Mu dengan ruh yang telah tenang dalam cinta.

Ahad Wage, 18 Ramadhan 1447 H.

#SulukRamadhan1447H
#PasulukanAlMasykuriyah
#AliMasykurMusa
#Tahallul

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry