Gus Amin dan wa yang isinya minta supaya 5 peserta lulus bersyarat untuk ikut PMKNU lagi, (FT/IST)

JOMBANG | duta.co – Polemik antara Tim Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) dan lima peserta dari Jombang, masih saja memanas. Pernyataan tegas Tim PMKNU PBNU bahwa “tidak ada istilah lulus bersyarat” dan sesuai juklak juknisnya justru memantik respons keras dari peserta.

Koordinator peserta, KH Ahmad Amin, menilai pernyataan itu hanyalah bentuk alibi (pembenaran) untuk menutupi ketidakkonsistenan pelaksanaan di lapangan.

“Sekali lagi, kami bukan minta diluluskan. Tapi kami mempertanyakan kenapa peserta lain yang justru sering bolos, terlambat lebih dari 30 menit, malah dinyatakan lulus. Ada apa ini? Jangan-jangan memang ada sesuatu, sehingga instruktur tak punya nyali untuk mendiskualifikasi,” tegas Gus Amin, sapaan akrab KH. Ahmad Amin. kepada duta.co Senin malam (14/7).

Pernyataan Ketua OKK PBNU, KH. Miftah Faqih, yang juga Tim PMKNU yang menyebut bahwa peserta dengan absensi tercoret merah otomatis tidak lulus, dinilai hanya mengulang argumen yang tidak menyentuh persoalan inti. “Yai Miftah hanya bicara itu-itu saja, padahal masalahnya bukan di situ,” tambah Gus Amin serius.

Gus Amin dan absensi peserta yang beredar di peserta.. (FT/IST)

Kelima peserta dari Jombang, yakni Gus Amin, Agus Machfudin, Gus Ibnu Sina, Ustad Rouf, dan Hamid, menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Mereka menyerukan agar Dewan Tahkim PBNU turun langsung ke Jombang untuk mengusut tuntas dan menegakkan keadilan demi menjaga marwah PCNU Kabupaten Jombang dan PBNU secara umum.

“Kami hanya ingin aturan ditegakkan secara adil dan tidak tebang pilih. Kalau kami dianggap tidak layak lulus karena absensi, maka peserta lain yang pelanggarannya sama, bahkan lebih berat, harusnya juga tidak lulus. Ini soal keadilan, bukan soal mental,” tandasnya serempak.

Menurut mereka, jika ketidakadilan ini dibiarkan, maka semangat PMKNU dalam mencetak kader militan dan bertanggung jawab akan menjadi isapan jempol belaka.

“Di pengkaderan saja kami sudah diajari berbohong, apalagi nanti ketika para alumni ini turun ke masyarakat. Lulus bersyarat itu malah disebut-sebut Yai Miftah sendiri. Ini bukan sekadar polemik teknis, tapi soal prinsip dalam pengkaderan,” tutup Gus Amin penuh keprihatinan, dengan mengingatkan bahwa pernyataan tersebut bahkan disampaikan di depan makam muassis NU. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry