Bupati Jombang, H. Warsubi, dan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, saat pembukaan Permata CAI.

JOMBANG | duta.co – Udara sejuk Wonosalam terasa berbeda. Kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan pinus menjadi saksi ribuan anak muda yang datang dari berbagai penjuru Jawa Timur. Mereka bukan sekadar berkemah. Mereka sedang belajar menjadi manusia dengan cara mencintai tanah, udara, dan satu sama lain.

Bumi Perkemahan Kosambiwojo, Dusun Kombo, Desa Sambirejo, menjadi panggung tempat anak-anak Jawa Timur memulai petualangan batin dalam perkemahan tahunan bertajuk Permata CAI (Cinta Alam Indonesia) ke-46.

Ada yang datang dengan wajah gugup, ada pula yang tertawa riang memanggul ransel lebih besar dari tubuhnya. Tapi semua membawa semangat yang sama; ingin tumbuh.

Di tengah barisan tenda-tenda yang berjejer rapi, hadir Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Jombang, H. Warsubi. Namun bukan formalitas yang mereka bawa, melainkan pesan mendalam tentang karakter dan harapan.

“Substansi kegiatan ini adalah cinta alam, cinta Indonesia, dan kemandirian,” ujar Khofifah di hadapan peserta, dengan suara yang menggema di antara pepohonan. “Anak-anak kita perlu fondasi kuat agar tumbuh jadi pribadi tangguh dan peduli lingkungan.”

Sore itu, matahari menyelinap di balik awan, tapi semangat tetap mengalir. Di seberang lokasi, sekelompok pelajar dari Mojokerto sedang belajar membuat tandu darurat dari bambu. Tak jauh dari mereka, sekelompok santri dari Lamongan menyanyikan yel-yel cinta tanah air.

Mereka datang dari kota dan desa, dari lembah dan perbukitan. Dan menariknya, kegiatan ini tidak hanya terpusat di Jombang. Sebanyak 375 titik lain di seluruh Jawa Timur termasuk pelosok Malang Selatan dan kawasan lereng di Bojonegoro ikut terhubung secara virtual. Cinta alam menjalar dalam diam, dari layar ke hutan, dari kata ke tindakan.

Bupati Jombang, H. Warsubi, menyampaikan harapannya dengan bahasa sederhana namun dalam maknanya. “Teknologi canggih tidak boleh menjauhkan kita dari alam. Anak-anak harus tetap mengenal tanah, hujan, dan kerja sama,” ujarnya.

Bagi Abah Warsubi, perkemahan ini bukan sekadar latihan baris-berbaris atau lomba yel-yel. Ini adalah tempat di mana anak-anak dilatih untuk tidak hanya menjadi penonton zaman, tetapi pelaku aktif yang mampu memimpin dengan hati.

Di salah satu sudut perkemahan, seorang anak perempuan bernama Aini (13) dari Sidoarjo terlihat tengah menyusun logistik kelompok. Tangannya cekatan, wajahnya penuh konsentrasi. Saat ditanya apa yang paling ia sukai dari perkemahan ini, ia menjawab singkat, “Belajar saling bantu,” singkatnya.

Dalam kesederhanaan jawabannya, tersimpan makna besar anak-anak ini sedang membangun karakter, pelan-pelan, tanpa sadar.

Saat malam turun dan api unggun menyala, suasana menjadi magis. Lagu-lagu perjuangan dan pujian pada alam menggema. Di bawah langit Wonosalam, di antara kabut dan kabar dari jauh, mereka menyatukan langkah; menjadi bagian dari generasi yang diharapkan mampu menyongsong Indonesia Emas 2045—dengan hati yang cinta tanah air dan jiwa yang berakar pada nilai. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry