
“Nah! Kalau PBNU hasil muktamar nanti berhasil merekrut kader-kader handal nahdliyin yang masih bersembunyi di sejumlah pesantren salaf, InsyaAllah jamiyah ini akan banyak memberikan manfaat kepada jamaah.”
Oleh Yusuf Hidayat*
PRO-kontra kepanitiaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) sudah mencuat ke permukaan. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad Wijaya As’ad (Gus Ulib), lantang mendesak agar dilakukan pembenahan total pada struktur kepanitiaan Muktamar ke-35 NU.
Gus Ulib memakai diksi menarik: Sterilisasi. Menurutnya, langkah ini penting agar NU (benar-benar) bersih dari anasir politik, pengaruh kepentingan yang unfaedah bagi jamiyah. Tidak mengulang pola lama, di mana NU baru saja ‘dilanda’ kisruh internal yang cukup memalukan bagi seluruh jamaah.
Masih soal pro-kontra kepanitiaan. Menurut kader NU yang lain, misalnya, Purwanto M Ali, menyoal kepanitiaan muktamar ke-35 NU itu tidak rasional. Bukan itu substansi masalah NU. Apalagi, tugas kepanitiaan hanyalah pelaksana dari kebijakan yang telah diambil oleh Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU.
Apabila ada pihak-pihak yang meributkan susunan panitia Muktamar NU ke 35, katanya, maka, mereka ini jelas tidak paham tentang organisasi NU. “Sangat disayangkan bila masih ada pihak–pihak yang mempersoalkan Gus Ipul (Sekjen PBNU) sebagai ketua panitia muktamar ke-35 NU,” kata Purwanto (duta.co 1 April 2026).
Ya! Substansi jamiyah NU memang bukan pada susunan kepanitiaan. Meski ada kekhawatiran ‘intervensi’ panitia. Bahwa problem NU kemarin cukup menjadi alasan untuk mengubah sistem rekrutmen PBNU. Muktamar ke-35 NU, di mana pun tempatnya, siapa pun panitianya harus menjadi arah baru untuk menentukan masa depan NU. Setuju!
Memasuki abad kedua, Muktamar ke-35 NU nanti harus mampu melahirkan kepengurusan yang lebih baik dan mampu membawa perubahan positif bagi organisasi. Konflik internal yang terjadi antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU kemarin, sudah lebih dari cukup untuk menjadi pelajaran bersama.
Ia seakan memaksa NU melakukan pembenahan total, sehinggga lahir kepengurusan yang lebih baik dan mampu membawa perubahan positif bagi organisasi. Panitia muktamar memang memiliki makna strategis, tetapi, semua itu kembali kepada sesepuh NU, apakah kita ikhlas jamiyah NU menjadi ‘bulan-bulanan politik’. Bukankah konflik kemarin sudah begitu menyusahkan para masyayikh?
Butuh ‘Sosok Lengkap’ Pemersatu Jamiyah
Muktamar ke-35 NU sangat strategis untuk memulai babak baru Abad Kedua NU. Kita tidak boleh lengah dalam muktamar kali ini. Mengapa? Karena tantangan NU ke depan – baik nasional maupun global – makin kompleks. Tidak ada waktu lagi untuk bercerai berai. NU membutuhkan ‘sosok lengkap’ yang sanggup menjadi pemersatu jamiyah.
Setuju! Semua setuju, bahwa, pengurus NU tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Bahkan kalau perlu, jauh dari urusan politik praktis. Ia harus mengayomi semua pihak. Artinya, tidak cukup hanya ‘berdarah biru’ tetapi harus memiliki komitmen tinggi demi jamiyah. Bersih dari kepentingan pribadi atau kelompok.
Hari ini, hemat kami, masih banyak kader NU ‘berdarah biru’ dan bersih dari kepentingan politik praktis. Kita bisa mencermati bagaimana PWNU Jawa Timur menjadi tolok ukur NU secara nasional maupun global. PWNU Jawa Timur dalam kepemimpinan KH Abdul Hakim Mahfudz, akrab disapa Gus Kikin terlihat sangat matang dalam menhadapi dinamika yang melanda jamiyah. PWNU Jawa Timur tidak larut dalam konflik internal PBNU. Sebaliknya, mampu menghadirkan Rais Aam serta Ketua Umum PBNU dalam satu panggung di Harlah NU 100 tahun di GOR Gajayana Malang.
Bukan cuma Presiden RI Prabowo Subianto, yang sukses memberikan pidato fenomenal, kehadiran Ketua PWNU se-Indonesia menjadi bukti adanya kekuatan dahsyat dari KH Abdul Hakim Mahfudz, cicit dai Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam menyatukan seluruh kekuatan nahdliyin. Isi pidato Gus Kikin tentang pentingnya soliditas organisasi, pentingnya mengamalkan nilai-nilai Qonun Asasi — pokok-pokok pikiran Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari – rasanya menggetarkan hati kita untuk cepat bangkit dari masalah berkepanjangan.
Paket Lengkap PBNU Mendatang
Gus Kikin adalah aset besar NU. Dalam diskursus kepemimpinan PBNU, nama KH Abdul Hakim Mahfudz mencuat sebagai sosok yang dinilai layak memimpin organisasi tersebut menjelang Muktamar ke 35. Tentu saja, kelayakan tersebut didasarkan pada kombinasi unik antara faktor nasab (keturunan), rekam jejak kepemimpinan, kemandirian finansial, dan pengalaman organisatoris yang matang.
Meminjam analisa KH Imam Jazuli, Lc MA, Gus Kikin memiliki banyak kelebihan. Pertama, soal nasab. Beliau adalah cicit pendiri NU (Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari). Faktor nasab memiliki nilai historis dan spiritual yang signifikan dalam tradisi pesantren dan NU. Hubungan darah ini bukan sekadar klaim silsilah, melainkan representasi dari kesinambungan perjuangan dan pemikiran para muassis (pendiri) NU.
Kepemimpinan yang bersandar pada nasab sering kali membawa barokah dan legitimasi moral yang kuat di mata warga nahdliyin, terutama di akar rumput. Gus Kikin sangat fasih mengisahkan perjuangan Mbah Hasyim dalam mendirikan pesantren dan kepeduliannya terhadap rakyat kecil. Ini menunjukkan pemahaman mendalam akan spirit awal pendirian organisasi. Warisan spiritual ini menjadi modal sosial yang tak ternilai untuk mempersatukan elemen-elemen di NU yang beragam.
Kedua, sosok yang selesai dengan diri sendiri. Ini salah satu argumen terkuat yang mendukung kelayakan Gus Kikin adalah statusnya sebagai pribadi yang telah “selesai dengan diri sendiri” dalam aspek material. Dikenal sebagai ulama sekaligus pebisnis atau pengusaha, Gus Kikin tidak memiliki ketergantungan ekonomi yang dapat mempengaruhi kebijakan organisasinya.
Ketiga, sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng. Gus Kikin saat ini merupakan pengasuh sebuah institusi pendidikan Islam yang monumental dan menjadi salah satu pusat rujukan utama dalam keilmuan NU. Peran sebagai pengasuh pesantren tidak hanya berarti mengelola institusi pendidikan, tetapi juga memegang peran sentral dalam menjaga tradisi keilmuan, mencetak kader ulama, dan merawat karakter santri.
Keempat, rekam jejak kepemimpinan organisasi sudah teruji. Dalam struktur organisasi NU, Gus Kikin juga memiliki pengalaman nyata di tingkat wilayah. Beliau menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, ini posisi strategis mengingat Jatim adalah basis massa NU terbesar.
Nah! Apalagi kalau PBNU hasil muktamar nanti berhasil merekrut kader-kader handal nahdliyin yang masih bersembunyi di sejumlah pesantren salaf, insyaAllah jamiyah ini akan banyak memberikan manfaat kepada jamaah. Semoga! (*)





































