TUGAS NEGARA: Wahabi Takfiri maupun Syiah Takfiri diyakini menjadi ancaman serius bagi NKRI. Ini yang belum banyak disadari banyak orang, termasuk pemerintah. Mestinya, apa yang dilakukan GP Ansor menjadi tugas Negara, tinggal bagaimana rumusannya. (FT Sarkub)

JOMBANG | duta.co — AR Al Amin, salah seorang santri dari Tambakberas, Jombang, Selasa (7/3/2017) menulis artikel singkat, tentang isu terbaru, Khalid Basalamah. Umat masih belum paham, apa yang disoal dan apa bahayanya. Judul yang digunakan AR Al Amin untuk mengangkat masalah tersebut, mengutip Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad bahwa keduanya bagaikan ‘Kotoran Onta yang Dibelah Dua’.

Saat ini, beriringan dengan kasus Khalid Basalamah, isu Wahabi plus takfiri yang sedang rame diperbincangkan. “Saya di sini fokus pada takfirinya saja,” begitu tulis AR Al Amin yang sejak Rabu (8/3/2017) mulai rame disimak banyak orang.

Takfiri biasanya dilekatkan kepada oknum atau kelompok Wahabi saja. “Saya rasa. ini kurang adil. Karena oknum dari kelompok lain juga ada yang cocok bila disematkan padanya sebagai takfiri. Yakni, Syiah takfiri. Arti takfiri itu simpelnya kalau menyimak ujaran Habib Riziq (sekali kali ngutip bibib lah he he), adalah siapapun, entah wahabi,  entah syiah yang suka mengkafirkan muslim lain,” tulisnya.

Lebih lanjut, menurutnya, deteksi ciri khas Wahabi Takfiri adalah mereka yang dalam ceramahnya gampang obral, sekali lagi; gampang obral dengan memberi stempel ke pihak lain sebagai pelaku syirik, takhayul, bid’ah, khurafat, dan kekufuran, itulah Wahabi Takfiri.

Teologi ini bermuara ke aliran yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Namun harus ditegaskan, tidak semua Wahabi adalah takfiri. Faktanya Raja Salman sebagai pengikut Wahabi tapi tidak takfiri. Raja Salman sangat moderat, bisa menghargai paham lain, bisa bekerjsama dengan yang lain, tidak mengkafir-kafirkan yang lain.

Adapun Syiah Takfiri ciri khasnya, dalam ceramahnya sering mengkafirkan sahabat dan istri Nabi. Muaranya secara teologis bisa ditelusuri ke Syiah Akhbari (walau harus dikatakan tidak semua Syiah Akhbari adalah takfiri). Syiah Akhbari adalah kelompok yang saklek,  leterlek atau rigid dalam memegang hadits Syiah. Lawan dari Syiah Akhbari adalah Syiah Ushuli (Syiah yang sekarang berkuasa di Iran).

“Dari sini bisa dipahami,  Syiah Akhbari walau minoritas, tapi masih ada. Mereka tidak bisa disebut sebagai Syiah yang mempertuhankan Sayyidina Ali. Hemat saya, saat ini sudah tidak ada lagi orang Syiah yang kebacut kembali ke zaman batu, yakni menyembah manusia,” imbuhnya.

Untuk itu, lanjut AR Al Amin, pembagian Habib Rizieq Shihab tentang ragam Syiah dengan memasukkan para penyembah Ali sebagai bagian dari Syiah ghulat hanya sejarah dan tidak relevan untuk dijadikan bahan analisis. Lihat video pandangan Habib Rizieq tentang syiah.

Perbedaan Wahabi Takfiri dengan Syiah Takfiri antara lain adalah; bagi Wahabi Takfiri, pengejawantahan ke-takfiri-annya tidak hanya berupa ujaran mulut atau tulisan. Tapi sudah berupa tindakan fisik berupa pengerusakan, penyiksaan,  pemerkosaan,  pengeboman,  dan pembunuhan. Contoh nyata dan teranyar seperti kelakuan ISIS.  Apa ISIS juga berideologi Wahabi?  Kata habib Ali al Jufri, ISIS berakar dari ideologi Wahabi.

Adapun Syiah Takfiri, sepanjang pengetahuan AR Al Amin, hanya sebatas ucapan dan tulisan. Belum ada, dan semoga tidak ada perbuatan jahat dan keji kayak perbuatan ISIS.  Untuk kasus Iran, Syiah Takfiri  tidak tinggal di negeri Iran. Mereka justru tinggal di Inggris dan Australia. Anehnya, mereka mempunyai jaringan televisi untuk menyebarkan kebenciannya, adu dombanya, dan ketakfiriannya

Kabar baiknya, mereka dikecam dan ditolak rame rame oleh komunitas Syiah itu sendiri.

Mereka dituduh  agen Zionis. Tidak hanya komunitas Syiah, bahkan pemimpin Iran, Ali Khamenei juga menolak dan mengkritiknya.

Andaikan komunitas Wahabi ‘moderat’, lebih mantap lagi Raja Salman bertindak langsung dengan mengkritik para ulama Wahabi Takfiri, tentu akan lebih baik. Mereka akan tersisih. Karena mereka memang tidak mau bersatu dalam perbedaan.

“Persatuan menurut takfiri ini ya sesama mereka saja.,” katanya. Lihat video Yasir Habib al Londoni  dan Yazid Jawwas. Walau fakta anehnya,  sesama mereka saling cela, caci, dan menjatuhkan.

Mereka adalah sumber perpecahan umat. Mereka kayak buih yang tidak berguna untuk persatuan. Bahkan membawa kekotoran. Maka, tepat ucapan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad bahwa keduanya bagaikan “Kotoran unta yang dibelah dua.” (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.