Munawir Aziz adalah Sekretaris PCINU Inggris Raya/United Kingdom. (FT/IST)

“PCINU Inggris Raya siap berkhidmah untuk transformasi digital dan inovasi PBNU saat ini dan mendatang. Kami ada puluhan experts santri lintas bidang: sebagian professor, sebagian peneliti ahli di kampus-kampus Inggris, sebagian praktisi di perusahaan-perusahaan internasional.”

Oleh Munawir Aziz*

PCINU Inggris Raya memberi catatan khusus, terkait permintaan Presiden Jokowi agar PBNU ‘membawa pulang’ Mas Ainun Najib, dan para diaspora santri. Tujuannya agar mereka berkhidmah untuk NU.

Nah, untuk menindaklanjuti ini, perlu ada skema agar khidmah diaspora santri itu bisa lebih maksimal.

Pertama,  ini Presiden Joko Widodo yang mention nama Mas Ainun Najib sebagai representasi santri-santri professional di luar negeri. Sangat membanggakan. Mas Ainun jelas santri tulen, professional, yang khidmahnya luar biasa. Di luar itu, ada ratusan santri-santri atau nahdliyyin yang saat ini belajar dan bekerja di luar negeri. Mereka mempunyai keahlian di berbagai bidang, baik data scince, artificial intelligence, robotika, financial technology dan banyak lagi keahlian lain.

Bahkan, ada sebagian diaspora santri yang juga professor, berpengaruh di berbagai kampus internasional. Beberapa praktisi juga menjadi experts di lembaga-lembaga internasional. Mereka sebenarnya siap khidmah, dan sangat mau diajak berjuang bersama-sama untuk mengabdi ke NU dan Indonesia.

Kedua, untuk itu, PBNU sebaiknya dan sudah seharusnya menyiapkan skema agar khidmah ini, bisa dilangsungkan dengan sistem digital yang terintegrasi. Jadi, ada komando tugas, koordinasi project, dan kemudian tim-tim kecil antardiaspora santri yang saling mensupport untuk membantu satu inovasi yang disiapkan PBNU.

Kalau basicnya tugas atau project dengan tenggat waktu yang jelas dan koordinasi teknis yang rapi, maka di manapun khidmahnya akan memungkinkan. Bisa jadi, timnya dari Singapura, Jepang, Jerman, Belanda, Inggris, Amerika, Australia, atau negara manapun. Tapi, tetap dalam komando dan terorkestrasi oleh PBNU.

Ketiga, terkait pulang ke Indonesia atau tidak, itu soal pilihan. Para diaspora ini bisa jadi lebih baik dalam 5-10 tahun ini biar mengembara di berbagai negara, memaksimalkan networking sembari menapaki karir professional di berbagai bidang. Toh, tetap bisa khidmah untuk NU dan Indonesia.

Asal target dan sistem koordinasinya jelas, komunikasinya rapi, dan baseline project-nya realistis dan do-able, para diaspora santri akan bisa menyesuaikan ritme untuk khidmah.

Sebagai contoh, diaspora India dan China di berbagai negara, justru melebarkan sayap dan menapaki karir. Mereka kita minta berkontribusi, tanpa harus pulang. Para diaspora ini tetap bisa berkarir dan bisa membantu negaranya.

Sesekali bisa pulang untuk koordinasi, tapi memang harus ada sebagian yang menguatkan networking di luar negeri.

Keempat, PCINU Inggris Raya siap berkhidmah untuk transformasi digital dan inovasi PBNU saat ini dan mendatang. Kami ada puluhan experts santri lintas bidang: sebagian professor, sebagian peneliti ahli di kampus-kampus Inggris, sebagian praktisi di perusahaan-perusahaan internasional.

Begitu juga dengan PCINU lainnya. Kalau kita data secara serius, ada ratusan diaspora santri yang punya keahlian bidang sains, dan bidang-bidang lain, dan siap mengabdi. Salam!

*Munawir Aziz adalah Sekretaris PCINU Inggris Raya/United Kingdom.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry