“Saatnya kita mengubah arah kemudi komunikasi di dalam tubuh Himasal. Jika kita tidak mampu mendinginkan suasana, maka diam adalah pilihan khidmah terbaik.”
Oleh : M.Sodikin

​AKHIR-akhir ini, menyaksikan dinamika di grup WhatsApp (WAG) alumni Pondok Pesantren Lirboyo (Himasal) menghadirkan rasa perih yang mendalam. Sebagai santri yang pernah mereguk sumber mata air keilmuan yang sama, kita disatukan oleh ikatan sanad dan barokah kiai yang tak lekang oleh waktu. Namun sayang, ikatan suci itu kerap koyak oleh syahwat politik dan perbedaan pandangan duniawi.

​Lebih menyedihkan lagi, polarisasi ini tidak jarang dipicu dan diprovokasi oleh satu atau dua orang oknum dzurriyat sendiri.. Alih-alih bertindak sebagai pengayom yang mendinginkan suasana di tengah badai dinamika Nahdlatul Ulama (NU) yang kita cintai, kehadiran mereka justru kerap memercikkan api kompor provokasi. Celakanya, sebagian alumni yang gagal berpikir jernih dan kritis, langsung terperosok dalam arus provokasi tersebut.

​Akibatnya sungguh mengerikan: hilangnya tarbiyah dan runtuhnya fondasi adab. Ulama-ulama senior alumni Lirboyo sekelas KH. Anwar Iskandar menjadi sasaran tuduhan, bully, cibiran, dan pelecehan verbal di ruang siber.

Padahal, beliau adalah potret hidup santri Lirboyo yang sukses berkhidmah di puncak tertinggi umat: Ketua Umum MUI Pusat, Wakil Rais Aam PBNU, dan pengasuh pesantren. Penghinaan serupa juga menimpa Gus Fahrur (KH. Fahrur Rozi) yang berkiprah di PBNU dan MUI, serta KH. Imam Jazuli yang menakhodai salah satu pesantren terbesar di Jawa Barat dengan ribuan santri berprestasi.

​Bagaimana mungkin, seorang santri yang bertahun-tahun membaca Kitab Ta’limul Muta’allim dan Adabul ‘Alim wal Muta’allim, mendadak menjelma menjadi kritikus kasar yang kehilangan rasa takzim kepada para senior dan masayikh?

​Kita harus jernih membedakan hierarki penghormatan. Menghormati dzurriyat adalah kewajiban sebagai bentuk cinta kepada muassis (pendiri) pesantren. Namun, dzurriyat yang memprovokasi kerusakan dan mencaci ulama alumni tidak boleh diikuti langkah provokatifnya. Apakah karena statusnya sebagai dzurriyat, lalu tindakan mereka yang merusak ukhuwah santri divalidasi? Tentu tidak. Santri Lirboyo dibekali ilmu untuk berpikir kritis, bukan taklid buta pada provokasi, dari mana pun datangnya.

​Bukankah Kiai kita dahulu mengajarkan bahwa perbedaan pendapat dalam organisasi atau politik adalah hal yang lumrah, namun merawat mahabbah (rasa cinta) dan ta’dzim (penghormatan) adalah kewajiban abadi seorang santri?

​Mari kita merenung. Apakah menuduh tanpa bukti, mem-bully, mencerca, dan menghina kiai senior alumni itu tidak berisiko nguwalati (kualat)? Ingatlah, daging para ulama itu beracun (luhumul ulama masmumah). Siapa yang “hobi” menjatuhkan kehormatan ulama, padahal dalam dirinya tidak ada yang terlihat fasiq, Allah akan mematikan hatinya sebelum fisiknya mati.

Kita harus mafhum dan dewasa dalam menata hati. Menghormati dzurriyat karena faktor nasab adalah bagian dari tanda cinta kita kepada para muassis Lirboyo. Namun, menghormati nasab tidak sama dengan melegalisasi tindakan provokasi yang menabrak kaidah akhlakul karimah. Ketika ada oknum dzurriyat yang justru memantik api perpecahan dan meruntuhkan marwah kiai-kiai alumni, maka tugas santri yang waras adalah mengerem diri, bukan malah menjadi bensin yang memperbesar kobaran api.

​Ingatlah, ketaatan di pesantren tidak pernah dibangun di atas fondasi taklid buta. Jika pilihan politik atau pandangan organisasi seorang dzurriyat nyata-nyata menyerang kehormatan ulama yang istiqamah berkhidmah untuk umat, kita tidak punya kewajiban untuk mengikutinya. Menolak provokasi mereka sama sekali tidak akan membuat kita kualat, sebab kualat yang sejati adalah ketika kita ikut mem-bully, mencerca, dan menguliti kehormatan para guru dan senior yang ilmunya telah menghidupi sanubari umat dan ribuan orang.

​Oleh karena itu, mari kita bangun benteng pertahanan berpikir kritis yang berbasis pada ngaji yang khatam. Jangan mudah terombang-ambing oleh potongan video, narasi tendensius, atau pesan berantai di grup WhatsApp yang sengaja didesain untuk membenturkan sesama alumni. Setiap kali jempol kita gatal untuk ikut menghujat kiai senior di ruang siber, ingatlah wajah teduh para masayikh Lirboyo yang dahulu mengajarkan kita cara bersikap tawaduk dan menjaga lisan.

​Sudah saatnya kita mengubah arah kemudi komunikasi di dalam tubuh Himasal. Jika kita tidak mampu mendinginkan suasana atau meluruskan pemikiran kawan alumni yang terprovokasi dengan cara yang santun, maka diam adalah pilihan khidmah terbaik. Menjaga lisan dan jempol dari menghina sesama alumni—terlebih kepada para ulama —adalah wujud konkret dari upaya kita menyelamatkan berkahnya ilmu Lirboyo agar tetap mengalir dalam darah daging kita dan anak cucu kita kelak.

​Sekali lagi, kini saatnya momen terbaik, kita menanggalkan ego. Mari kembalikan WAG Himasal sebagai wadah sambung rasa, penyulut semangat, dan sarana saling bertukar doa demi keselamatan dunia-akhirat. Jangan biarkan jempol kita menjadi jaminan masuk neraka hanya karena membela ego politik oknum tertentu. Lirboyo telah membesarkan kita dengan nilai-nilai luhur yang anggun. Mari buktikan bahwa sekencang apa pun angin perbedaan bertiup, ikatan batin santri Lirboyo tetap kokoh tak tergoyahkan.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry