
SURABAYA | duta.co – Museum NU (Nahdlatul Ulama) di Jl Gayungsari Timur 35, Surabaya, Selasa (1/7/2025) kedatangan Direktur Utama TV9 Nusantara Dr H Ahmad Hakim Jayli, ST, MSi dan Komisaris TV9 Dr KH Drs Misbahul Munir, SH, MAg.
“Rasanya, tetap berhutang kalau belum ada ruang khusus Media NU di Gedung Museum NU. Ini sekaligus menghidupan jariyah Cak Anam (almarhum Choirul Anam red) yang notabene pendiri Museum NU,” tegas Dr H Ahmad Hakim Jayli kepada Mokhammad Kaiyis, Pemred Harian Umum Duta Masyarakat yang mendampingi keduanya saat berkunjung ke Museum NU.
Menurut CEO TV9 Nusantara ini, sebagai tokoh media sekaligus penulis di kalangan NU, semangat Cak Anam ini perlu dibangun terus agar kader muda NU semakin gemar menulis. “Di samping itu, biar kader-kader muda NU paham, bahwa, kita (NU) sesungguhnya sudah lama sadar media. Lahirnya Majalah Swara Nahdlatoel Oelama 1348 H /1929 M adalah bukti, bahwa kita paham pentingnya media,” tambah Gus Hakim panggilan akrabnya.
Gagasan membuat ruang khusus media-media NU di Gedung Museum NU, juga mendapat dukungan kuat dari Komisaris TV9 Dr KH Drs Misbahul Munir, SH, MAg. Menurut Kiai Misbah, – dalam bidang media — NU telah melewati jalan terjal. “Cak Anam banyak menginspirasi kader-kader penulis NU, bagaimana mengelola media dengan benar,” urainya.
Ikut hadir dalam kunjungan itu, adalah Ketua Yayasan Museum NU, Imam Budi Utomo. Mantan Ketua GP Ansor Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya ini, mengapresiasi gagasan Dirut TV9 agar ada ruang khusus Media NU.
“Selama ini kita (nahdliyin) dinilai ‘masbuk’ dalam urusan media. Faktanya tidak, para penulis NU sudah menunjukkan kelasnya ketika yang lain masih tidur. Buku Cak Anam (Pertumbuhan dan Perkembangan NU) adalah bukti, bahwa, kader NU juga giat menulis,” terangnya.
Belajar dari Banser Vs Jawa Pos
Tak kalah menarik adalah keinginan untuk mengulas lebih jauh tentang konflik Banser dan Jawa Pos. Menurut Dr Hakim Jayli, konflik ini menjadi pelajaran penting bagi nahdliyin sekaligus media massa. Sehingga ia sendiri perlu mengangkatnya dalam penelitian (tesis) S2 di kampus UI (Universitas Indonesia). “Ini perlu dibukukan, setidaknya menjadi pelajaran penting bagi kader NU dan media massa, agar terjalin hubungan baik demi stabilitas yang ada,” tegasnya.
Kisah Banser Vs Jawa Pos ini memang menarik dicermati. Setidaknya bisa menjadi pelajaran bersama. Wakila tanah yang (sekarang) berdiri megah Kantor PCNU Jombang, itu juga merupakan bagian dari solusi konflik tersebut. “Rekam jejak ini bisa menjadi cermin besar media massa, agar mereka tidak gegabah dalam menulis berita,” pungkas Imam Budi Utomo. (mky)