Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Prof. Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, dr., Sp.O.G., Subsp.Urogin-RE memberikan kalungan bunga pada Prof Kevin Wang saat inagurasi Adjunct Professor di FK Unair, Rabu (21/10/2026). DUTA/ist
SURABAYA | duta.co — Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan serta penelitian berstandar dunia.

Melalui program Adjunct Professor, FK Unair secara resmi merangkul pakar bedah saraf terkemuka asal Amerika Serikat, Prof. Kevin K.W. Wang, Ph.D., dari Center for Neurotrauma, Multiomics and Biomarkers, Morehouse School of Medicine, Atlanta, Georgia.

Dekan FK Unair, Prof. Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas kesediaan Prof. Kevin Wang untuk berkolaborasi dan berbagi ilmu dengan para sivitas akademika di FK Unair. Menurutnya, kolaborasi internasional semacam ini memiliki peran yang sangat strategis bagi kemajuan lembaga pendidikan tinggi saat ini.

“Kolaborasi internasional menjadi sesuatu yang sangat penting untuk institusi pendidikan. Ini akan membuat sivitas akademika kita tidak hanya terpatok pada mindset lokal, tetapi juga terbawa pada pengetahuan, keterampilan, penelitian, hingga community development di level internasional,” ujar Prof. Eighty usai inagurasi Adjunct Professor di FK Unair, Rabu (21/10/2026).

Inovasi Bedah Saraf dan Neurotrauma

Pemilihan disiplin ilmu bedah saraf dan neurotrauma bukan tanpa alasan. Menurut Dekan FK Unair, ilmu bedah saraf saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dari sisi teknologi medis maupun dasar sains (basic sciences). Keahlian mendalam Prof. Kevin Wang di bidang sains dasar neurologi dan bedah saraf diharapkan mampu memberikan dorongan signifikan bagi kemajuan riset medis di Indonesia.

Selain itu, topik neurotrauma dinilai sangat relevan dengan dinamika kesehatan masyarakat saat ini. Jika di Indonesia angka kejadian neurotrauma umumnya didominasi oleh kasus kecelakaan lalu lintas, paparan dari Prof. Kevin Wang turut membukakan wawasan baru mengenai potensi riset dan penanganan kasus cedera lain, seperti cedera dalam olahraga (sports injuries).

“Neurotrauma itu bisa terjadi di mana saja. Kalau di negara kita mungkin terbanyak terkait kecelakaan lalu lintas. Namun, beliau membawakan perspektif bahwa ada juga penanganan pada cedera olahraga. Spirit inilah yang kami harapkan nantinya dapat menginspirasi dan memberikan kemajuan besar bagi pengembangan ilmu bedah saraf di FK Unair,” kata Prof. Eighty.

Dorong Riset Kualitas Hidup Pasien Meningkat

Penanganan kasus cedera otak akibat trauma (Traumatic Brain Injury/TBI) kini mengalami pergeseran paradigma. Fokus medis tidak lagi sebatas menyelamatkan nyawa pasien, melainkan juga memastikan kualitas hidup (quality of life) mereka kembali optimal, baik secara fisik, mental, maupun sosial.

​Ketua Departemen Ilmu Bedah Saraf FK Unair periode 2025–2030, Dr. Wihasto Suryaningtyas, dr., Sp.BS(K), SubSp. N-Ped, menegaskan penanganan neurotrauma membutuhkan dukungan sistemik dan kolaborasi lintas disiplin.

​”Proses penanganan neurotrauma bukan lagi sekadar pasiennya hidup, tetapi yang kita pikirkan kemudian adalah kualitas hidupnya ke depan setelah mengalami trauma, baik secara fisik maupun mental,” ujar Dr. Wihasto.

​Ia menjelaskan, dampak trauma otak yang tidak tertangani hingga tuntas dapat mengganggu fungsi sosial pasien. Kasus seperti perubahan emosi di rumah, penurunan kinerja di tempat kerja hingga berujung pemutusan hubungan kerja (PHK), menjadi perhatian mendalam para spesialis bedah saraf.

​”Kami tidak ingin menumpuk ‘sampah’ dari hasil apa yang pernah kita tolong. Ini membutuhkan kolaborasi yang sangat kuat sejak penanganan dini (early management),” tegasnya.

​Penanganan Dini

​Dr. Wihasto juga menyoroti bahwa cedera otak trauma tidak hanya terjadi pada orang dewasa akibat kecelakaan lalu lintas atau olahraga (sports injury), tetapi juga mengintai anak-anak. Faktor seperti perundungan (bullying) serta kekerasan di lingkungan sekolah turut menjadi pemicu cedera kepala pada anak-anak.
​
“Kita tidak ingin menurunkan generasi yang kelak ke depannya, akibat pernah mengalami cedera, kemudian kualitas hidupnya jadi turun,” kata Dr. Wihasto.
​
Kolaborasi Riset Bersama Prof. Kevin K.W. Wang

​Untuk memperkuat manajemen dini dan hasil klinis pasien, FK Unair menggandeng pakar internasional, Prof. Kevin K.W. Wang, Ph.D. Kehadiran Prof. Kevin di FK Unair diharapkan dapat meningkatkan kapasitas riset di bidang deteksi dini (early detection) dan penanganan awal.

​Selain itu, kolaborasi ini fokus meneliti berbagai modifier atau faktor pemengaruh pemulihan pasien yang mungkin selama ini luput dari pengamatan medis harian, seperti nutrisi, dukungan sosial, hingga dampak lingkungan (environmental impact).

​”Beliau akan membantu kami melakukan riset untuk melihat sesuatu yang mungkin terlewat oleh kami. Faktor modifier seperti nutrisi, dukungan sosial, dan dampak lingkungan itu sangat mempengaruhi hasil pemulihan (outcome) dari cedera otak trauma tersebut,” pungkas Dr. Wihasto.

Prof Kevin mengakui di Amerika juga masih belum ada obat untuk mengobati TBI. Begitupun di Eropa.

“Tetapi telah terbukti berulang kali bahwa penanganan pasien yang lebih baik, bisa  menghasilkan kondisi pemulihan pasien yang lebih baik pula,,” katanya.

Itulah mengapa penelitiannya berfokus pada tes berbasis darah yang dapat memantau apa yang terjadi pada otak dari waktu ke waktu. Apakah kondisi pasien menjadi lebih buruk atau membaik.

“Jadi kami berharap hal itu dapat mengurangi tingkat kematian dan memberikan hasil pemulihan pasien yang lebih baik,” ungkapnya. lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry