SURABAYA | duta.co – Merawat asip, dokumen atau artefak, bukan hal mudah. Tidak cukup bermodal serius. Menjaga kemurnian asip, jelas butuh biaya. Dan, Alhamdulillah, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki tokoh yang peduli pada kearsipan organisasi. Ialah KH Umar Burhan (Gresik), yang sampai kini (keluarganya) ikhlas kediamannya menjadi Rumah Arsip NU.

“Gus Dur menjuluki beliau sebagai Disket NU. Tokoh-tokoh NU menjulukinya Sang Dokumentator NU, beliau (almaghfurlah KH Umar Buhan) adalah Arsiparis NU,” demikian disampaikan H Edy M Ya’qub, Koordinator Jaringan Penulis dan Pegiat Literasi (JPPL) NU Jatim, kepada duta.co, Kamis (6/11/25).

Tim Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Senin (3/11/25) berkunjung ke Rumah Arsip KH Umar Burhan, di Jl Nyai Ageng Arem-Arem No.35, Gresik. Rombongan diterima langsung KH Chisni Umar Burhan, HM Yahya Umar Burhan, dan Asrul Sani.

Edy M Ya’qub, mantan wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara,  mengatakan, PWNU ingin meminta izin untuk melakukan duplikasi dokumen sejarah NU. Di era digital seperti ini pekerjaan itu perlu, PWNU Jatim juga bisa bekerjasama dengan Museum NU dan Rumah Arsip, untuk bersama-sama merawat Arsip yang sangat berharga itu.

Adapun data arsip atau dokumen yang diperlukan untuk duplikasi sejarah NU meliputi embrio NU (Nahdlatul Wathan, Taswirul Afkar, Komite Hijaz), lokasi Kelahiran NU (Kertopaten), peserta atau tokoh pembentukan Komite Hijaz NU, peran Historis NU (Resolusi Jihad, Penumpasan G30S/PKI), dan Muktamar Periode Awal (1-9 Surabaya-Banyuwangi).

KH Chisni Umar Burhan mengapresiasi niatan baik ini. Ia berharap PWNU Jatim memiliki kepedulian terhadap Rumah Arsip. Selama ini, masih person atau peneliti, belum secara kelembagaan. “Bentuk tim, baiat mereka, agar kinerjanya bisa dipertanggungjawabkan,” tegas KH Chisni serius.

Dikado Buku Penting dan jarang dimiliki oleh nahdliyin oleh KH Chisni Umar Burhan. (ft/duta.co)

Rumah Arsip, memang, siap bekerja sama dengan PWNU melalui beberapa tahapan, mulai baiat tim penulis (Tim PWNU dan Tim Rumah Arsip), duplikasi dokumen (kerja pendokumentasian atau duplikasi dokumen), sarasehan ‘buku dokumen’ di Rumah Arsip, tashih ‘buku dokumen’ oleh PWNUdan Rumah Arsip, pentashih: sejarahwan NU dan dzurriyah NU, dan MoU Rumah Arsip dan PWNU/LTN dan Museum NU.

“Cak Anam (almarhum) dulu berhari-hari di sini, untuk menyusun skripsi di IAIN Surabaya yang kemudian menjadi buku Babon NU, ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’. Cak Anam memiliki ketajaman tersendiri dalam menganalisasi dokumen atau arsip tersebut,” tambah KH Chisni.

Ketua PWNU Jatim KH Kikin A Hakim Mahfudz atau Gus Kikin merespons dan mempersilakan tim penulis PWNU dan LTN untuk menggali data sejarah kelahiran NU yang ada di Rumah Arsip Gresik. Kiai Kikin siap membaiat tim penulis PWNU dan LTN untuk mengawali penggalian dan duplikasi data sejarah itu.

“Saya bersedia menjadi salah satu pentashih ‘buku dokumen’ itu saat finishing,” pungkasnya, Selasa (04/11/2025) kepada jatim.nu.or.id. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry