SURABAYA | duta.co – Kekuatan Civil Society di Indonesia mendapat penopang yang kuat untuk menggerakkan fungsinya atas dukungan media massa. Kerja pers yang sehat dan profesional menjadikan posisi tawar Civil Society dan negara semakin kuat, dalam menyuarakan fakta dan kebenaran di tengah masyarakat yang terus berubah.

“NU sebagai Civil Society sudah lazim mengajak kerja sama dengan media massa dan kalangan pers. Karenanya, kolaborasi dengan pengambil kebijakan di institusi media yang profesional akan menjadikan kekuatan tersendiri bagi kemajuan bersama,” tutur Prof DR KH Abd A’la Basyir, Ketua Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-99 NU dalam keterangan Jumat, 25 Februari 2022.

Guru Besar UIN Sunan Ampel yang juga Rais Syuriah PBNU menegaskan, sebagai kekuatan Civil Society NU bersama-sama pers mempunyai tanggung jawab sosial dan moral, untuk melakukan pembelaan terhadap masyarakat secara luas.

“Apalagi, keberadaan media massa selalu berjalan seiring dengan perkembangan masyarakat. Sejak perjalanan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan, media massa berfungsi untuk melakukan kesadaran akan kebangsaan dan perubahan-perubahan ke arah perbaikan masyarakat,” tutur Prof KH Abd A’la.

Prof Abd A’la, yang juga Pengasuh Pesantren An-Nuqoyyah Guluk-Guluk Sumenep, menyampaikan pesan pengantar dalam Forum Group Discussion (FGD) Nahdlatul Ulama dan Forum Pemimpin Redaksi Jawa Timur, berlangsung  di ruang utama kantor PWNU Jawa Timur di Surabaya, Kamis 24 Februari 2022.

lebih dari 40 Pemimpin Redaksi (Pemred) media-media di Jawa Timur, baik media cetak, media elektronika dan media berita online, hadir. Mulai dari Jawa Pos, Kompas, Kantor Berita Antara, Duta Masyarakat, SindoNews, Surya, dll. Sedang  televisi di antaranya, TV9, JTV, KompasTV, MaduTV, CNN, TVOne, dll.

Siap Menerima Kritik Pers

FGD NU dan Forum Pemred Jawa Timur, ini juga hadir KH Abdus Salam Shohib, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, yang secara intens mendengar masukan dan kritik dari para wartawan senior. Di antara dari media berita online, beritajatim.com, ngopibareng.id, duta.co, dll. Tak ketinggal, Pemred Majalah Joyoboyo dan Panjebar Semangat menyampaikan kritiknya.

Sedang utusan dari organisasi profesi, ada Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Masyarakat Siber Indonesia (AMSI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (ITJI).

Pada kesempatan FGD yang dipandu Riadi Ngasiran, juga tersampaikan pesan-pesan soal program NU ke depan oleh Hakim Jayli, CEO TV9, yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur dan Sekretaris PWNU Jatim Dr Muhammad Hasan Ubaidillah.

Sementara itu, KH Abdus Salam Shohib didampingi Wakil Katib PWNU Jatim KH Sholeh Hayat, memberikan penjelasan, menjelang satu abad, tantangan yang dihadapi NU semakin kompleks. Tidak hanya terkait keumatan namun juga bagaimana respons NU terhadap perkembangan zaman.

Menurut Gus Salam, panggilan akrab Pengasuh Pesantren Manbaul Maarif Denanyar Jombang, NU harus menyikapi dengan bijak dunia digital. Karena dengan sikap bijak itu, jam’iyyah ini tidak akan ketinggalan juga tidak boleh menggadaikan nilai-nilai utama yang NU miliki.

“Seorang yang bijak dan cerdas itu akan mengikuti perkembangan zaman dan akan bersikap sesuai kebutuhan zaman dengan tidak menggadaikan nilai-nilai fundamental seperti akhlak dan norma-norma.

“Namun kita bisa menyesuaikan cara dan desainnya dengan massif di media sosial dan menggunakan platform digital. Karena jika tidak mengikuti zaman, dakwah yang kita tidak sampai di masyarakat,” katanya.

Dalam acara Forum Grup Discussion (FGD) Pemimpin Redaksi se-Jawa Timur itu, Gus Salam juga mengungkapkan ada beberapa masukan yang awak media berikan kepada NU.

“Ada banyak masukan dari awak media kepada NU, diantaranya adalah digitalisasi di berbagai hal dan konsentrasi NU dalam kehadiran media di persoalan umat,” ujar Gus Salam, cucu pendiri NU KH Bisri Syansuri.

Kritik-Masukan Selaras Fokus PWNU

Gus Salam memaparkan bahwa sebenarnya masukan-masukan tersebut selaras dengan fokus utama PWNU Jatim.

“Ini sebenarnya sama dengan fokus kita menjelang satu abad ini. Salah satunya yang paling kita inginkan adalah orientasi pelayanan umat yang maksimal. Makanya ada panca harakah dengan fasilitas kesehatan, BMT, literasi digital, pendidikan, dan pengkaderan. Itulah bentuk pelayanan NU kepada umat,” tutur Gus Salam.

Menjelang FGD ini berakhir, Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, berkesempatan menyampaikan tanggapan dan sekaligus menutup dengan doa.

“Pada dasarnya, kami siap menerima kritik. Asalkan, media dan kalangan pers bekerja profesional dalam menyampaikan fakta,” pesan Marzuki Mustamar, yang Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Gasek Kota Malang.

FGD ini mendapat apresiasi pimpinan media massa di Jatim. “Sangat menarik. Seluruh pimpinan media arus utama (mainstream) memberikan apresiasi. Bahkan ada yang menyebutnya, seakan kembali pada 30 tahun lalu. Kritik wartawan, berikut keterbukaan dan kebesaran NU ini, akan kita turunkan secara bersambung di Koran Dua Masyarakat. In sya Allah  mulai edisi Selasa, pekan depan,” demikian Mokhammad Kaiyis, yang juga Pemred duta.co. (zi)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry