Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2020 semoga tidak hanya sekedar memunculkan tema anyar, setelah yang usang tidak sedikit menelan anggaran lumayan besar bersumber uang rakyat. ‘Sadar, Sehat, Produktif dan Bahagia’, membaca tema ini terasa pas bagi orang berduit. Namun bagi  anak – anak kurang mampu bermain sekelas pil koplo, orang tuanya tak akan mampu menebus hukuman maksimal saat palu diketuk di meja hijau. Narkotika atau obat bius tetaplah menjadi ancaman utama generasi muda. Memiliki efek langsung mampu menurunkan kesadaran ketika anak terlibat masalah. Mampu merangsang otak dalam beraktifitas, menjadikan ketagihan atau ketergantungan bersifat mengikat selain obat ini mampu menimbulkan daya khayal.
Penulis : Nanang Priyo Basuki
Wartawan Harian Duta Masyarakat Biro Kediri

 

Inilah menjadi PR besar bagi Badan Narkotika Nasional (BNN) apalagi di tengah wabah pandemi Covid-19. Langkah konkrit tidak cukup dengan blusukan ke sekolah berdalih sosialisasi. Atau menggandeng sejumlah ulama dalam kegiatan di atas mimbar. Ingin menjadikan mereka jera, namun bila pemakai ini tinggal satu sel dengan pengedar atau bandar narkoba, tentunya malah menjadi masalah serius dikemudian hari.

Meski saat wabah pandemi kemudian ditetapkan libur panjang, para pelajar terlihat gandrung dengan gadget-nya bermain game, bukan berarti mereka nyaman berada di rumah. Anak – anak sekarang tidak lagi bermain dengan teman sebaya atau satu sekolah, tak tertutup kemungkinan mereka menemukan lingkungan di luar sekolah. Atau bergabung sejumlah komunitas kini bermunculan dengan beragam cara berusaha memamerkan jati dirinya.

Melihat keadaan Kota Kediri dan sekitarnya dikelilingi sejumlah pondok pesantren bahkan hampir di setiap gang selalu ada tempat ibadah. Namun keberadaan tempat hiburan malam harus mendapatkan pengawasan super ekstra. Sosialisasi saja ternyata belum cukup, karena masih adanya pemakai atau pengedar yang tertangkap tangan. Meski kadang kita bertanya, betapa susahnya nangkap sang bandar narkoba, dimana dalam bayangan kita hidup bergelimang harta.

Saat pemerintah melalui tim gugus tugas tengah berjuang sekuat tenaga menanggani Virus Corona. Semoga ini menjadi inspirasi bagi BNN untuk bekerja lebih keras, agar tidak dikira hanya tukang dongeng atau piawai di atas mimbar, dengan menggandeng atau merekrut masyarakat terlibat dalam penggiat anti narkoba. Harus bekerja secara profesional, membantu BNN dan juga Polri memburu gembong narkoba beserta jaringannya demi mewujudkan harapan penyelamatan anak – anak dari penyalahgunaan narkoba. Semoga BNN bukanlah lembaga pemerintah yang anti kritik, selalu siap saat dibutuhkan dan tidak sekedar (maaf) tukang foto, memasang poster atau kreatif pembuat yel-yel.

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.

Seto Mulyadi
Psikolog anak dan pembawa acara televisi dari Indonesia 1951-

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry