Caption: DUTA/WIWIEK WULAN PERDAGANGAN: Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan BIPerwakilan Jatim, Taufik Saleh (tengah), Rektor STIE PERBANAS Surabaya, Lutfi (dua dari kiri) dan Direktur Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim), Rudie Hadiono (dua dari kanan) dalam bincang Ekonomi "Penguatan Kredit Guna pembangunan Ekonomi Bangsa" di Surabaya

SURABAYA – Perdagangan masih menjadi motor penggerak perekonomian di Jawa Timur. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) harus bisa terus menggerakkan sektor perdagangan ini agar sektor lain tidak mati.

Hal itu diungkapkan pengamat ekonomi yang juga Ketua STIE Perbanas Surabaya, Lutfi saat diskusi media di Surabaya, Rabu (28/12). Lutfi mengatakan sektor perdagangan menyumbang 30 persen produk domestik regional bruto (PDRB) Jatim. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan sektor-sektor lainnya. “Betapa besarnya kontribusi itu, apalagi Jawa Timur ini menjadi hub perdagangan di Indonesia Timur,” ungkapnya.

Sebagai kota perdagangan, Jawa Timur memang harus terus meningkatkannya, terutama Surabaya. Karena Surabaya sebagai kota transit untuk perdagangan antar pulau, bukanlah kota wisata. “Ketika perdagangan ini mati, maka sektor lain terutama hotel dan akomodasi juga akan mati. Berapa banyak hotel tumbuh di Surabaya, terutama hotel budget. Mereka berharap dari sektor perdagangan, kalau perdagangan mati, habislah bisnis hotel ini,” jelas Lutfi.

Untuk memperbesar sektor ini, dikatakan Lutfi, pemerintah provinsi harusnya jangan hanya fokus pada perdagangannya saja. Namun harus melirik sektor lain yang mendukung bisnis perdagangan ini. Misalnya, sektor pertanian. Di mana pemerintah provinsi harus menggelakkan adanya bisnis pengolahan sektor pertanian ini sehingga hasil olahan itu bisa diperdagangkan antar pulau.

“Jangan hanya bahan mentahnya saja yang dijual. Melainkan hasil pertanian itu harus diolah sehingga bisa menambah nilai jual produk itu sendiri,” tandasnya.

Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan BI Perwakilan Jatim, Taufik Saleh mengatakan perdagangan ini memang menjadi penggerak perekonomian di Jatim. Bahkan perbankan pun banyak yang menyalurkan kreditnya untuk sektor ini.

Dari catatan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Timur, rata-rata perbankan menyalurkan kredit untuk sektor ini antara 25 hingga 27 persen dari total kredit yang disalurkannya.

 

Dorong Perbankan Perbesar Kredit Pertanian

Selain perdagangan, BI mendorong perbankan agar memperbesar penyaluran kredit ke sektor pertanian. Pasalnya, sektor pertanian berkontribusi hingga 13 persen dari total PDRB Jawa Timur yang mencapai Rp 1.382 triliun hingga triwulan III 2016.

Taufik Saleh mengatakan penyaluran kredit ke sektor pertanian masih sangat rendah. Hingga November 2016, total penyaluran kredit perbankan di Jatim mencapai Rp 383,7 triliun. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian hanya kebagian 2,5 persen.

“Minimnya penyaluran kredit ke sektor pertanian tak lepas dari resiko kredit macet yang tinggi. Sebab, petani hanya mengandalkan panen musiman. Jika panen gagal, maka kredit jelas akan tersendat,” ujarnya.

Direktur Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim), Rudie Hadiono mendukung sektor pertanian agar membenahi sistem olahannya. Sebab, olahan hasil tani lebih menjanjikan ketimbang sektor pertanian itu sendiri. “Dengan sistem olahan yang baik, perbankan tak akan ragu untuk memberikan pinjaman. Karena itu, kami akan tunggu sekltor pertanian Jatim agar terus berbenah,” jelasnya.

Dengan menggenjot kredit ke pertanian, Taufik memprediksi sektor tersebut mampu berkontribusi lebih terhadap PDRB Jatim. “Tahun ini saja 13 persen. Jika permodalan memadai, kontribusinya terhadap PDRB melonjak hingga 20 persen tahun depan,” tutupnya. (end)

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan