PERLINDUNGAN : Ketua Umum Perbasi Pemkot Surabaya, Evi Ekawati bersama perwakilan dari BPJS Ketenagakerjaan Surabaya Darmo, Roby Erlangga di Surabaya, Senin (18/2). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Olah raga bola basket memang banyak diminati para siswa mulai SD hingga SMA. Hampir setiap sekolah di Surabaya ini memiliki klub basket untuk ekstra kurikuler mereka.

Selain mencari bibit-bibit unggul di olah raga ini, basket mulai menjadi andalan sekolah untuk promosi agar diminati siswa dan orang tua.

Hal itu diakui Ketua Umum Persatuan Bola Basket Indonesia (Perbasi) Pemkot Surabaya, Evi Ekawati.

“Sudah mulai memasyarakat. Di luar sekolah kini ada 55 klub yang terdaftar di Perbasi Pemkot Surabaya. Ada ribuan atlet pokoknya,” ujar Evi saat ditemui di kantornya di Surabaya, Senin (18/2).

Dengan mulai memasyarakatnya olah raga ini justru tidak diimbangi dengan adanya perlindungan untuk atlet.

“Jangankan atlet yang di sekolah, atlet yang sudah professional pun belum tentu mendapatkan perlindungan,” tukas Evi.

Padahal, atlet bola basket itu sangat rentan terjadi kecelakaan saat bertanding. Cedera ringan ringga berat banyak dialami para atlet. “Saya mengalami sendiri. Anak saya cedera saat persiapan Asian Games 2018 saat di Belanda. Harus operasi menghabiskan ratusan juta. Ini yang saya sedih tidak ada yang peduli,” jelas Evi.

Anak Evi, Jovita Elizabeth adalah pemain basket nasional yang selalu memperkuat tim basket Indonesia dalam berbagai ajang bergengsi.

“Sejak kejadian itu, saya mulai berpikir bagaimana atlet ini dilindungi dengan asuransi yang bisa meng-cover biaya berobat mereka kalau cedera,” tukasnya.

Diakui Evi, dia mencoba untuk mencari perlindungan itu. Beruntung saat Asian Games, asuransi milik pemerintah BPJS Ketenagakerjaan meng-cover seluruh atlet yang bertanding.

“Tidak tahu kenapa, saya dipertemukan dengan BPJS Ketenagakerjaan ini. Berjodoh,” tukasnya.

Dari sana, Evi mulai melakukan sosialisasi. Setahap demi setahap dia mencoba untuk mengikutkan atlet binaannya untuk menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan melalui program bukan penerima upah (BPU) dengan iuran Rp 16.800 per bulan.

“Sangat murah iuran segitu. Padahal perlindungannya sangat besar. Makanya, ini saya mulai mengikutkan atlet Perbasi. Selain itu saya sosialisasi ke berbagai klub yang ada, termasuk ke tim-tim basket di sekolah-sekolah. Ini penting lo, karena kalau cedera keluar uangnya besar,” jelasnya.

Sebanyak seribu lebih atlet basket yang ada di Surabaya ke depan harus dilindungi asuransi.

“Kalau tidak bisa repot. Sosialisasi ini terus saya lakukan. Misalnya kalau ada yang mengurus izin mengadakan pertandingan basket ke Perbasi Surabaya, saya pasti sosialisasikan perlindungan ini. Agar semua paham, pemilik klub paham, pelatih paham, atlet paham dan orang tua maupun sekolah bisa juga paham,” jelasnya.

Sampai saat ini, atlet basket Surabaya yang sudah terlindungi BPJS Ketenagakerjaan ini sebanyak 25 atlet termasuk ofisial yang saat ini berlaga di Kejurnas Basket untuk tim cewek kelompok usia 16 tahun.

“Namun banyak klub yang mau bergabung. Semoga semua bisa terlindungi,” tandas Pps Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Surabaya Darmo, Faridah Hanum.  end

 

 

end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.