“Iran dikenal sebagai pusat kekuatan Islam Syiah, sementara banyak negara lain di kawasan tersebut didominasi kelompok Sunni. Persaingan ini sering menciptakan polarisasi sektarian yang memperluas konflik geopolitik menjadi konflik identitas keagamaan.”

Oleh M. Khusna Amal*

KONFLIK antara Iran dan Amerika Serikat sering dipahami dalam kerangka geopolitik, persaingan militer, maupun perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah. Namun jika dilihat dari sudut pandang sosiologi agama, konflik tersebut juga mengandung dimensi religius yang kompleks, yakni bagaimana agama digunakan sebagai sumber identitas kolektif, legitimasi politik, serta mobilisasi sosial dalam konflik internasional.

Dalam perspektif ini, agama tidak selalu menjadi penyebab utama konflik, tetapi sering kali berfungsi sebagai kerangka simbolik yang memperkuat narasi politik dan ideologi negara.

Jika dilihat secara historis posisi agama dalam politik Iran tidak dapat dilepaskan dari peristiwa Iranian Revolution, yang mengubah Iran dari monarki sekuler menjadi republik Islam. Revolusi ini menjadikan Islam Syiah sebagai dasar legitimasi politik negara dan menempatkan ulama sebagai aktor utama dalam struktur kekuasaan.

Sejak saat itu, identitas religius menjadi elemen penting dalam membentuk kebijakan domestik maupun hubungan luar negeri Iran. Beberapa kajian menunjukkan bahwa agama sering digunakan untuk membangun legitimasi bagi kebijakan negara, terutama dalam menjelaskan keterlibatan Iran dalam berbagai konflik regional.

Dalam kerangka sosiologi agama klasik, pemikiran Émile Durkheim dapat digunakan untuk memahami fungsi agama dalam konflik tersebut. Durkheim melihat agama sebagai sistem simbol yang menciptakan solidaritas sosial dan identitas kolektif dalam masyarakat. Dalam konteks Iran, identitas keagamaan Syiah tidak hanya berfungsi sebagai sistem keyakinan spiritual, tetapi juga sebagai simbol solidaritas politik yang menyatukan masyarakat dalam menghadapi ancaman eksternal. Narasi religius mengenai perjuangan melawan dominasi Barat sering diproduksi untuk memperkuat solidaritas nasional dan memperkuat legitimasi pemerintah di mata masyarakat.

Sementara itu, dari perspektif sosiologi agama modern, konflik antara Iran dan Amerika Serikat juga dapat dianalisis melalui konsep “agama sebagai identitas politik”. Di Amerika Serikat sendiri, terdapat kelompok-kelompok religius yang memandang konflik di Timur Tengah melalui lensa teologis, terutama dalam tradisi Kristen evangelikal yang sering mengaitkan politik Timur Tengah dengan narasi apokaliptik atau perjuangan moral global. Dalam beberapa diskursus politik Amerika, Iran kerap digambarkan sebagai ancaman terhadap nilai-nilai Barat atau bahkan sebagai musuh ideologis yang bertentangan dengan peradaban Barat.

Dimensi religius dalam konflik ini juga berkaitan dengan dinamika sektarian di Timur Tengah. Iran dikenal sebagai pusat kekuatan Islam Syiah, sementara banyak negara lain di kawasan tersebut didominasi oleh kelompok Sunni. Persaingan ini sering menciptakan polarisasi sektarian yang memperluas konflik geopolitik menjadi konflik identitas keagamaan. Dalam berbagai konflik regional seperti di Suriah, Irak, dan Yaman, keterlibatan Iran sering dipahami dalam kerangka solidaritas Syiah dan upaya memperluas pengaruh politiknya di kawasan tersebut.

Banyak ilmuwan menilai bahwa agama sering kali lebih berfungsi sebagai alat legitimasi politik daripada sebagai penyebab utama konflik. Negara atau aktor politik menggunakan simbol dan narasi religius untuk memperoleh dukungan publik, membangun solidaritas sosial, serta membenarkan kebijakan luar negeri mereka. Dengan kata lain, konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak dapat disederhanakan sebagai konflik agama semata, melainkan merupakan kombinasi kompleks antara kepentingan politik, identitas ideologis, serta strategi kekuasaan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa agama dalam konflik internasional sering berperan sebagai bahasa simbolik kekuasaan. Agama memberikan kerangka moral dan identitas yang dapat memobilisasi masyarakat, tetapi keputusan politik tetap didorong oleh kalkulasi kepentingan negara. Oleh karena itu, memahami konflik Iran–Amerika melalui perspektif sosiologi agama membantu kita melihat bahwa perang modern tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga di ranah simbolik yakni pertarungan narasi, identitas, dan legitimasi moral di tingkat global.

*Prof. Dr. M. Khusna Amal S.Ag., M.Si adalah Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

 

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry