“Jika yang menang NU, yang kalah juga NU, maka konsep yang harus disodorkan adalah menang tanpa ngasorake, memenangi sebuah pertarungan tanpa menghinakan lawan. Yang menang tidak jumawa atas kemenangannya dan yang kalah tidak merasa ternistakan atas kekalahannya. Bisa langsung move on.”

Oleh Anwar Hudijono

Jika dua jagoan top yang seimbang beradu laga, kerap kali disebut ‘Perang Bintang’. Misalnya pertarungan jagoan tinju kelas berat dunia antara Antony Joshua melawan Vladimir Klitschko. Atau dulu Mike Tyson melawan Evander Holyfield. Pertandingan Real Madrid melawan Juventus di Piala Champions 2017 sangat layak disebut ‘Perang Bintang’ karena di kedua klub bola itu bertaburan bintang. Di Madrid ada Christiano Ronaldo, Gareth Bale, Sergio Ramos. Di Juventus ada Mario Mandzukic, Giogio Chiellini, Blaise Matuidi. Dan ‘Perang Bintang’ mesti heboh, dramatis.

Istilah ‘Perang Bintang’ layak dilabelkan untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018. Kedua calon gubernur Khofifah Indar Parawansa (KIP) melawan Saifulah Yusuf yang kondang disebut Gus Ipul (GI) adalah sosok bintang.

Keduanya ibarat batu mozaik hasil tintingan dari timbunan pasir kali. Walhasil keduanya hebat, ciamik, ampuh, ajib, super, tops, dahsyat. Saya tidak berani membuat perbandingan kebintangan keduanya karena bisa memantik penilaian penulis telah berpihak, atau menjadi tim sukses gelap. Jika sampai dinilai begitu, menjadi sangat tidak enak ibarat kleleken balung ora mangan daginge.

Kedua calon akan terlibat dalam pertarungan head to head. Ini memang bukan pertarungan pertama mereka. Dalam dua Pilgub Jatim sebelumnya, keduanya sudah terlibat dalam pertarungan. KIP sebagai cagub sementara GI sebagai cawagub bersama cagub Pakde Karwo. Karena cagub dan cawagub itu satu paket, maka hakikatnya pilgub kali ini merupakan pertarungan beruntun mereka yang ketiga. Oleh karena itu bolehlah dibilang mereka ini musuh bebuyutan.

Apalagi lebih kurang selama 10 tahun itu masih belum pernah gencatan senjata. Karena, KIP tetap memendam obsesi menjadi Gubernur Jatim sementara GI juga tak pernah beringsut dari obsesi menjadi orang nomor satu di Jatim. Setiap kali ada upaya mengislahkan keduanya, termasuk  oleh kalangan kiai, selalu gagal mana kala menyangkut ‘satu saja’ yang jadi cagub. Karena sama-sama tidak ada yang mau merelakan obsesinya kandas.

Ibaratnya, upaya mengislahkan Arjuna dengan Karna agar tidak saling bertempur di Perang Baratayudha karena pada dasarnya mereka adalah saudara sekandung. Di situ ada masalah obsesi, harga diri, ambisi, kewajiban, tanggung jawab sehingga tidak bisa islah. Akhirnya pertarungan keduanya di Padang Kurusetra tidak bisa diredam. Menjadilah pertarungan terdahsyat dalam epos Mahabharata yang berakhir dengan kematian Karna.

Peristiwa itu oleh dalang diceritakan dengan:
Risang Arjuna mentang langkap
Nglepasaken Sang Pasopati kang bedhore koyo wulan tumanggal
Lepase panah kadya suara ngakake Sang Hwang Anontobogo
Sang Pasopati tumama mring janggane Sang Karna
Wusana tugel thel mustakane sang Karna gumlundung ing bantala
Dimen mirsani Karna tumekeng lalis
Sang Dewi Kunthi nangis jelih..jelih ngrungkebi lelayone Sang Karna
Kunthi remuk sajoring tyas

Artinya: Arjuna membentangkan busur. Hendak melepaskan panah Pasopati yang ujungnya seperti bulan sabit. Panah pun lepas yang suaranya seperti jerit Dewa Ular Anantobogo. Pasopati menghujam di leher Karna kontan lehernya putus dan kepalanya menggelundung di tanah. Begitu melihat kejadian itu, Dewi Kunti menangis menjerit-jerit sambil memeluk jazad Karna. Hati Kunthi remuk redam.

Unik

Pilgub Jatim 2018 ini boleh juga dibilang ‘Perang Bintang Sembilan’. Karena dua cagub yang head to head adalah sama-sama kader NU tulen ibarat emas 24 karat bukan suwasa. KIP saat ini Ketua Umum Muslimat NU, sedang GI Ketua Tanfidziyah PBNU. Keduanya menjadi cagub sama-sama mengantongi beselit dari kiai NU. Hanya bedanya, GI dibeseliti ‘kiai struktural’ seperti KH Anwar Iskandar, KH Mutawakkil Alallah, sedang KIP dibeseliti ‘kiai kultural’ seperti KH Solahuddin Wahid, KH Asep Saifuddin Chalim dengan backup handal Cak Anam (Choirul Anam red.).

Memang Pilgub Jatim 2018 ini boleh dibilang unik. Galibnya, penjaringan atau seleksi awal pencalonan itu  dilakukan atas inisitif partai. Tetapi untuk KIP dan GI, penjaringan masing-masing diawali oleh sekelompok kiai. Para kiai kemudian yang menyodorkan calonnya kepada partai. Baru kemudian partai yang memproses secara kelembagaan politik. Uniknya lagi, ketika ada tiga partai yaitu Gerindra, PAN dan PKS menggunakan mekanisme konvensional bahwa proses penjaringan adalah urusan partai, malah gagal menghasilkan calon. Walhasil mereka pun nemplok ke komposisi yang sudah ada.

Oleh karena itu sah-sah saja kalau banyak orang yang bilang Pilgub Jatim ini All NU Final. Siapapun yang menang, entah KIP atau GI, pada dasarnya yang menang NU juga. Hanya masalahnya, dalam pilgub atau pilkada itu di samping harus ada yang menang tetapi juga harus ada yang kalah. Tidak ada pilgub berakhir dengan semuanya menang layaknya dalam olah raga Persebaya-Persija yang menjadi juara kembar di tahun 1970-an karena untuk menghindari bakar-bakaran kota. Tidak juga ada yang berakhir sampyuh atau sama-sama kalah. Untuk itu, jika yang menang NU, secara petungan enteng-entengan boleh dibilang yang kalah juga NU.

Jika yang menang NU dan yang kalah juga NU, maka konsep yang harus disodorkan adalah menang tanpa ngasorake, memenangi sebuah pertarungan tanpa menghinakan lawan. Yang menang tidak jumawa atas kemenangannya dan yang kalah tidak merasa ternistakan atas kekalahannya. Bisa langsung move on. Memang bukan win win solution tetapi minimal soft win-lah. Dan bagi NU benar-benar happy ending.

Agar happy ending mudah dicapai, haruslah ada penataan prakondisi yang saksama. Atau proses pilgub berlangsung dengan mengindahkan aturan hukum, berlandaskan akhlakul karimah, dibingkai dalam harkat dan semangat fastabihul khairat (berlomba dalam kebaikan).  Bagaimanapun di kalangan ahlus sunnah wal jamaah sudah memiliki landas-acuan bahwa addinu as-siyasah (agama itu politik). Bahwa as-siyasatu furuin min furuis-syarí (politik itu cabang dari cabangnya syarak). Betapapun politik itu tidak bisa lepas sama sekali dari syarak atau hukum agama.

Untuk mencapai happy ending ini tentu saja butuh upaya all out. Keduanya merupakan musuh bebuyutan. Terkadang dalam ‘bebuyutan’ itu rasa permusuhannya sudah njangget (melekat). Memang keduanya itu terikat dalam ikatan persaudaraan, yaitu ukhuwah nahdliyah, tetapi terkadang pertarungan yang ada kaitan ‘saudara’ itu justru lebih keras dan awet.

Ibaratnya, sesama gelas kalau bentik kemudian retak akan sulit menyambungnya. Lihat saja permusuhan Korea Utara dengan Korea Selatan yang masih  ‘saudara’ sampai sekarang tidak mereda. Berbeda dengan permusuhan Amerika Serikat dengan Vietnam yang lebih cepat selesai. Permusuhan mazhab Sunni dengan Syiah sudah berlangsung berabad-abad walau keduanya masih saudara dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Apalagi sudah ada pemanasnya yang bisa mengobarkan ‘musuh bebuyutan’ itu. Di antaranya pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kistriyanto terkait dengan foto-foto syur yang menyebabkan Abdullah Azwar Anas mundur dari cawagub berpasangan dengan GI. Hasto menuding hal itu dilakukan oleh ’pihak sana’. Hal ini direspon kubu KIP sebagai tuduhan yang menyakitkan dan black campaign.

Di NU sendiri ada preseden jika pertarungan atau konflik  berbau politik, berlangsung ketat, keras dan awet. Contohnya konflik (jika tidak boleh disebut pertarungan) kubu Cipete vs Situbondo sejak awal dekade 1980-an. Konflik ini ada unsur politiknya.  Konflik ini berlangsung lebih kurang 20 tahun. Baru mereda ketika tokoh-tokoh kedua belah pihak letih, semakin sepuh, wafat ibarat bara yang padam karena kehabisan sekam. Konflik kubu Tebuireng vs kubu Alun-alun Jombang yang meletus di Muktamar 2015, sampai sekarang belum islah karena juga berbau politik.

Berbeda dengan konflik friksional yang tidak berbau politik akan cepat islah. Misalnya konflik KH Idham Chalid dengan Subchan ZE yang cepat diislahkan. Apalagi masih ada ulama linuwih KH Bisri Syansuri yang berperan besar sebagai pereda konflik. Di NU kiai itu panutan.

Karena kalangan kiai yang merupakan sosok panutan terlibat sejak awal dalam proses Pilgub Jatim ini, tentu saja ada harapan besar kepada para kiai akan menjaga, mengawal dan membimbing pilgub sehingga benar-benar happy ending.  Akhirnya kebarokahan happy ending itu dirasakan seluruh rakyat Jawa Timur. Semoga. (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.