“Jika Iran vs Israel berhenti perang, Gaza vs Israel masih berlanjut. Antrian panjang bahan makanan menjadi sasaran tentara Israel yang mengakibatkan 700 nyawa melayang.”
Oleh Achmad Murtafi Haris*

SETELAH saling serang selama 12 hari, akhirnya kedua pihak Iran dan Israel menyepakati gencatan senjata yang berlaku per 25 Juni. Aktivis hak asasi manusia di Iran menyebut 900 korban nyawa di pihak Iran dan 30 di pihak Israel. 4000 korban luka di pihak Iran dan 600 di pihak Israel. Ada yang mengatakan bahwa kesepakatan ini tercapai karena ada tekanan kepada pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dari para ulama moderat dan petinggi politik untuk menerima gencatan senjata atau kalau tidak, posisinya sebagai pemimpin tertinggi akan diperhitungkan.

Baik Netanyahu maupun Masoud Pezeshkian, presiden Iran, mengaku memenangkan perang ini. Ajakan Amerika untuk gencatan senjata dianggap dilatarbelakangi rasa takut akan serangan Iran yang menghantam pangkalan militernya di Qatar. Juga karena banyaknya rudal Iran yang berhasil menembus kubah baja yang menghancurkan beberapa pemukiman warga dan target setrategis Israel. Serangan ini mengkhawatirkan Israel jika terus berlanjut hingga mendorong gencatan senjata.

Jumlah korban yang banyak jatuh di pihak Iran patut menjadi perhatian utama dan keprihatinan bersama. Keberhasilan rudal Iran menembus iron dome tidak sebanding dengan korban nyawa di pihak Iran. Belum lagi dari sisi kualitas sasaran, Israel mampu menarget petinggi nuklir dan militer Iran dengan menggunakan drone yang mendekat ke apartemen target dan meledak persis pada tempat tinggal sasaran. Ada 11 ahli nuklir Iran yang wafat oleh serangan 13 Juni 2025. Serangan presisi dengan menggunakan drone menunjukkan keberadaan agen Mossad yang lama menguntit mereka. Sebelumnya dari 2007 hingga 2020 ada 7 ahli nuklir Iran yang dibunuh agen rahasia Israel. Sadar akan banyaknya agen Mossad berkeliaran, keamanan Iran menangkap banyak tersangka mata-mata Mossad. Setidaknya semenjak serangan Amerika atas Iran pada 13 Juni, pemerintah Iran telah menangkap 700 orang. 7 telah dieksekusi mati karena terbukti menjadi bagian jaringan Mossad untuk membunuh ahli nuklir, petinggi militer, dan rencana penggulingan rezim Khamenei. Di antara mereka adalah warga Kurdi yang telah dieksekusi.

Tercapainya gencatan senjata yang begitu cepat menimbulkan analisa akan resiko yang terlalu besar jika perang diteruskan. Amerika sudah puas dengan dihancurkannya 3 instalasi nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan meskipun Iran mengaku telah memindahkan semua piranti nuklir di sana. Sementara Israel khawatir akan keberhasilan rudal Iran menembus sistem penangkal yang mengakibatkan kerusakan di area sipil Israel dan jatuhnya korban nyawa dan cidera. Israel mengecam dan mengancam Iran jika menyasar warga sipil tapi dia juga sadar kalau Iran tidak ada pilihan lain kecuali untuk menembus kubah baja (iron dome) entah yang kena siapa. Sementara di pihak Iran dia menerima gencatan senjata karena sadar akan keterbatasan dirinya. Untuk bisa menembus pertahanan Israel, Iran melepaskan banyak rudal dengan perhitungan akan ada yang tembus. Para pengamat militer menyebut bahwa kemungkinan lolos adalah 10-20%. Artinya Iran harus melepas 10 rudal untuk bisa tembus salah satunya. Ini artinya persediaan rudal akan habis jika serangan terus dilakukan. Jika rudal habis, ke depan menjadi ancaman besar jika menghadapi Israel. Tidak hanya itu, pengamat Arab menyebut ancaman bahkan bagi rezim Khamenei jjka persenjataan yang dimiliki susut drastis akibat perang melawan Israel saat ini. Iran saat ini tidak seperti dahulu yang solid mendukung sistem kekuasaan ulama (wilayat alFaqih). Generasi Iran sekarang tidak memiliki hubungan emosional dan apalagi kebanggaan terhadap revolusi Islam Iran. Karenanya dukungan terhadap sistem tidak sekuat dulu. Jika perang terus berlanjut dan rakyat menjadi korban, dukungan atas rezim Khamenei dikhawatirkan akan menurun dan menjadi ancaman bagi masa depannya. Daya tahan warga Iran menjadi perhitungan utama penguasa Iran dalam mendukung gencatan senjata.

Selain itu faktor Rusia dan Cina yang lebih memposisikan diri sebagai juru damai daripada terlibat perang mendukung Iran menjadikan pilihan tiada lain kecuali cease fire (berhenti perang). Rusia dan Cina tidak berkepentingan terhadap tanah suci Yerusalem yang menjadi episentrum perang. Keduanya negara non-muslim yang tidak memiliki hubungan emosional kecuali kemanusiaan. Semangat kemanusiaan mendorong kedua negara adidaya itu mendamaikan perang bukan membela mati-matian sekutu yang sedang menghadapi musuh bersama Amerika. Belum lagi Rusia masih berperang melawan Ukraina yang tidak kunjung usai meski Ukraina tidak lagi didukung Amerika. Jika dia ikut berperang membantu Iran, maka semakin berat beban yang dipikul.

Jika Iran vs Israel berhenti perang, Gaza vs Israel masih berlanjut. Antrian panjang bahan makanan menjadi sasaran tentara Israel yang mengakibatkan 700 nyawa melayang. Sebentar lagi gencatan senjata Hamas-Israel diupayakan terwujud untuk 60 hari dan diharapkan berlanjut seterusnya. Dalam gencatan ke depan Hamas akan membebaskan 10 sandera Israel yang masih hidup dan 18 jasad mayat. Selain mereka masih ada sandera yang lain yang ada dalam tahanan Hamas. Israel menuntut Hamas segera melepas semua untuk mengakhiri perang. Hingga kini sekitar 57 ribu korban nyawa di pihak Palestina dan 1300 korban nyawa di pihak Israel (50 : 1).

*Dr Achmad Murtafi Haris adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry