
Ulliyatul Laili, SST., M.Keb.
Dosen Keperawatan dan Kebidanan (FKK)
ASI eksklusif merupakan pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai dengan usia 6 bulan, tanpa tambahan atau pengganti makanan lain, baik yang diberikan secara langsung dari payudara maupun ASI perah.
Saat ini, capaian ASI eksklusif di Indonesia belum mencapai target nasional dan masih menjadi tantangan dalam pemenuhan gizi bayi usia 0–6 bulan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, cakupan ASI eksklusif tahun 2022 sebesar 58,2%. Sedangkan target RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020–2024: 80%.
Karena itu, berbagai upaya perlu ditingkatkan untuk keberhasilan pencapaian cakupan ASI eksklusif. Karena dengan capaian ASI eksklusif yang tinggi akan memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya bagi bayi dan ibu, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, dan negara
Salah satu bentuk investasi kesehatan sejak dini yang dilakukan oleh seorang ibu adalah dengan memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
Namun, kondisi yang banyak ditemui saat ini adalah banyak perempuan yang kembali bekerja setelah melahirkan. Pada Sebagian besar perempuan akan mempengaruhi produksi ASI karena stres, keterbatasan waktu, dan kurangnya dukungan lingkungan kerja. Sehingga diperlukan peran teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ibu bekerja agar tetap dapat memproduksi dan memberikan ASI secara optimal
Ibu bekerja yang menyadari keunggulan dan manfaat ASI akan berupaya secara aktif untuk memenuhi kebutuhan ASI bayinya selama enam bulan pertama kehidupan, melalui berbagai strategi seperti memerah ASI, menyimpan ASI dengan benar, serta memanfaatkan fasilitas dan teknologi pendukung menyusui.
Penggunaan pompa ASI elektrik yang memiliki fitur hospital grade atau hands-free, memungkinkan ibu tetap dapat memerah ASI dengan efisien dan nyaman bahkan saat bekerja. Selain itu, juga juga terdapat aplikasi pelacak ASI seperti Milk Stash, LactApp, dan Baby Tracker memungkinkan ibu memantau jadwal menyusui, jumlah hasil perah, serta memberikan tips menyusui yang berbasis bukti ilmiah, serta sarana penyimpanan portabel dapat membantu ibu untuk menjaga produksi ASI tetap stabil.
Ketersediaan dan pemanfaatn teknologi tersebut juga harus disertai dukungan dan kebijakan dari lingkungan dan pemerintah. Perusahaan perlu menyediakan fasilitas pumping room dan akses ke internet untuk menggunakan aplikasi laktasi. Pemerintah dan institusi kesehatan dapat mengembangkan layanan telelaktasi gratis. Serta adanya kegiatan pelatihan digital untuk ibu agar mampu memanfaatkan aplikasi dan alat berbasis teknologi dengan maksimal.
Dukungan dari lingkungan kerja dan kebijakan yang mendukung juga sangat penting dalam mendukung peran teknologi ini. Investasi dalam teknologi yang mendukung laktasi bukan hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas ibu bekerja. Dengan demikian, optimalisasi capaian ASI eksklusif merupakan investasi penting bagi generasi mendatang dan harus menjadi perhatian bersama seluruh pihak—mulai dari keluarga, tenaga kesehatan, dunia kerja, hingga pemerintah. *








































