
:Dalam dunia yang gaduh dengan ambisi dan angka, Wathanah datang membawa kelembutan yang membumi.”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif*
DALAM sunyi malam, ketika dzikir menggema lirih, ada langkah-langkah lembut yang tak terdengar namun mengakar kuat dalam sejarah ruhani bangsa. Mereka bukan hanya ibu, istri, atau anak perempuan.
Mereka adalah wanita ahlith thariqah, para pejalan sunyi dalam samudra makrifat yang tak banyak menuntut sorotan, namun teguh menyalakan pelita iman dalam rumah dan tanah air.
Di dalam tradisi An-Nahdliyah, mereka dikenali sebagai Wathanah, perempuan tangguh yang menautkan cinta kepada Allah, tanah air, dan keluarganya dalam satu tarikan napas zikir.
Sejarah para sufi perempuan adalah lembaran yang harum namun kerap tersembunyi. Siapa yang tak mengenal Rabi‘ah al-‘Adawiyah, sang kekasih Allah dari Basrah yang mencintai-Nya tanpa pamrih, bahkan mengibarkan panji cinta Ilahi di tengah gersangnya dunia yang maskulin dan penuh penghakiman?
Rabi‘ah bukan hanya tokoh spiritual; ia adalah revolusi yang sunyi, teladan tentang bagaimana perempuan bisa menjadi ‘sumbu api’ cinta ilahi, menghangatkan, menerangi, tapi tak pernah membakar.
Kini, napas Rabi‘ah hidup dalam Wathanah. Mereka adalah perempuan yang tak sekadar paham maqamat dan ahwal, tetapi juga pandai merawat luka batin keluarga, menjaga shalat anak-anaknya, mendampingi suami dalam suka-duka perjuangan hidup.
Di tangan merekalah, rumah menjadi surau kecil, dan dapur menjadi ruang munajat tak terucap. Mereka bukan sekadar pendamping; mereka adalah qiyam, tiang penyangga yang menopang langit rumah tangga dan benteng pertahanan moral bangsa.
Dalam kehidupan thariqah, Wathanah bukan hanya jamaah pasif. Mereka hadir dalam majelis dzikir, suluk, bahkan mujahadah malam hari.
Mereka menjahit kain untuk haul, memasak untuk jamaah, menyusun bunga untuk tabarrukan, dan yang lebih dalam lagi, mereka turut menyalurkan ketenangan ruhani dalam gelombang masyarakat yang haus makna.
Dalam dunia yang gaduh dengan ambisi dan angka, Wathanah datang membawa kelembutan yang membumi. Mereka adalah kekuatan lunak (soft power) yang menyublim, tak terlihat tapi nyata membentuk peradaban.
Tak berlebihan jika kita katakan bahwa ketahanan bangsa hari ini bertumpu pada ketahanan ruhani perempuan-perempuan thariqah. Ketika negara limbung oleh polarisasi dan erosi nilai,
Wathanah tetap memintal kasih sayang dalam rumah, tetap menuntun anak-anak mengenal Allah, tetap mencium tangan suami yang pulang letih dari ladang atau kantor, tetap mendidik dengan cinta bukan teriakan.
Wathanah adalah nadi yang berdetak di antara dzikir dan dapur, antara sajadah dan sekolah anak, antara air mata doa dan senyum menyambut pagi.
Mereka adalah penjaga peradaban dari balik tirai, tiang negara yang tak berdiri di podium, namun hadir dalam setiap sujud malam yang mereka persembahkan bagi keselamatan negeri.
Di saat banyak yang bicara tentang kekuatan, mereka hadir dengan kelembutan yang tak bisa dikalahkan.
Karena negeri ini tak hanya dibangun oleh tangan-tangan kekuasaan, tetapi juga oleh hati-hati yang tak putus menyebut nama-Nya di ruang paling sunyi rumah tangga. Dan di sanalah, Wathanah menegakkan negara dari dalam jiwa.(*)