Oleh: H.N  Falah Amru-DPR RI

 PENUGGANG motor masa kini, biasa disebut bikers, rata-rata punya rasa nasionalisme tinggi. Mayoritas klub motor selalu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk membuka event mereka. Dalam moment penting nasional mereka ikut merayakan dan terus mengibarkan bendera merah putih dalam setiap riungan. Jiwa nasionalisme itu memang sudah mengakar sejak sebelum revolusi, merebut dan mempertankan kemerdekaan.

Banyak peristiwa terekam tentang keterlibatan para bikers di awal kelahiran republik. Misalnya dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945. Almarhum Roeslan Abdulgani saat itu berpangkat kapten mengisahkan,  sore, 30 oktober 1945, Malaby, jenderal Inggris ditembak pejuang.”Siapa yang nembak tak ada yang tahu,” jelas Roeslan. Pasukan Inggris  dipimpim Jendreal Manserg marah besar. Bom menerpa Surabaya, menghancurkan banyak gedung dan rumah termasuk gedung Kempetai. Perang besar terjadi. Bung Tomo kobarkan semangat para pejuang dan ‘membakar’lewat retorika heroik  yang legendaris itu. Jl. Tunjungan dan sekitarnya jadi medang perang hebat! Korban berjatuhan, selain para pria, wanita-wanita Surabaya dengan gagah berani mengevakuasi korban yang bisa diselamatkan.”Banyak korban dari BKR (Badan Keamanan Rakyat), TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dan rakyat sipil. Waktu itu saya bertugas sebagai anggota PMI. Melihat banyaknya korban, saya dibonceng motor untuk mencari truk pengangkut,” kisah Soelistina Soetomo, istri almarhum Bung Tomo, pahlawan nasional kita. Kisahnya ditulis dalam sebuah buku, Bung Tomo Suamiku. Sayang, beliau tidak memerinci jenis motor apa yang dipakainya.

Juhana Sutisna alias Joe P-Project, artis yang juga sarjana sejarah Universitas Padjadjaran menjelaskan. Motor-motor rampasan perang bisa jadi BSA M20 rigid cangkrang 1941, bisa juga HD WL. Kebanyakan motor itu didapat Dari rampasan perang atau milik pengusaha Tionghoa. Dalam berbagai keterangan tercatat juga beberapa varian keluarga BSA, M21, BSA M16 versi  militer. Atau NSU atau Norton versi militer N16 atau Exelsior.

Muasal motor-motor sampai ke tangan pejuang republik bisa ditelusuri. Di Jawa Barat misalnya, Belanda sudah memiliki punya pasukan bermotor berjuluk CORO (Cursus Opleiding Reserve Officieren).  Mereka ini perwira cadangan. Tiap Sabtu sore, unjuk kekuatan  lewat upacara bendera yang disebut Vlag Vertoon dan Taptoe. Berdandan gagah dan klimis berbaris meninggalkan Kazerne (Asrama) di daerah lapangan Siliwangi menuju Pieterspark  (sekarang Taman Merdeka) sebelah Utara Jl. Braga

Saat Bandung dilanda perang, pejuang membakar sendiri bangunan-bangunan agar tidak ditempati Belanda. Bandung terang benderang oleh api yang dikenang sebagai Bandung Lautan Api. Pejuang kita nggak cuma mengincar senjata Belanda. Motor-motor yang mereka semplak juga jadi bagian penting perjuangan ini. Kisah-kisah perampasan ini jadi cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, para senior motor mereka seperti almarhum Rachmat Hidayat (presiden HDC Pertama-aktor senior), Letnan. Poniman (Alm),H.Bariji (Alm), Kang R.Amir (Alm), Brigjen Somali dan Haryoto Kunto  (Alm) seorang  planolog  kondang dan banyak lagi.

Selain hasil rampasan, motor motor itu ada di bumi Nusantara lewat perdagangan biasa. Tahun 20-an, orang-orang kaya, mandor kebun, pengusaha Eropa-Cina-Arab, kaum ningrat mampu membeli motor-motor keluaran Eropa-Amerika. Iklan majalah Sin-Po sudah mengedarkan motor-motor andalan pabrikan dengan segala keunggulannya.

Setelah merdeka, para motoris tetap aktif mengharumkan ibu pertiwi dan berperan aktif dalam perdamaian dunia. Kisah pasukan Garuda II kita ikut serta membantu perdamaian  di Democratic Republic Of Congo, misalnya menjadi sejarah menarik para motoris terutama skuteris karena moment itu melahirkan sebuah varian terkenal Vespa Congo. Saat kontingen Garuda I bertugas di sana tahun  1957, United Nations (UN) lewat perwakilannya di Kinshasa, Congo, menawarkan Vespa buatan Italia dengan pembayaran mudah dan ringan untuk dibawa ke Indonesia. Tentu saja, TNI saat itu menyambut antusias dan  dianggap sebagai kenang-kenangan mereka saat bertugas di Congo. Singkat cerita, skuter itupun hadir di Indonesia dan diberi julukan Vespa Congo.  Uniknya banyak skuteris berminat memiliki Vespa ini. PT. EK Toedjuh melihat peluang itu, merekapun ditunjuk sebagai agen resmi emmasukkan skuter-skuter ini ke Indonesia dengan nama beken Vespa Congo.

Kemajuan teknologi penerbangan juga pernah mencatat sejarah di tahun 1948. Saat itu tim insinyur mesin dari Biro Rencana dan Konstruksi Markas Tertinggi AURI-Magetan dipimpin  Opsir Udara III, Kapten  Wiweko Supono merancang pesawat terbang bermesin Harley-Davidson WL 750 cc (45 cu) buatan tahun 1925/1928 diberi nama WEL RI-X (Weeling Experimental Light). Proyek ambisius sekaligus eksperimantel ini menunjukkan kemampuan teknik dirgantara anak bangsa di masa kemerdekaan.

Sumbangsih para motoris di era Kemerdekan. Selamat merayakan 17 Agustus 2026, Merdeka!

 

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry