KLAKSON TELOLET -- Pembuat klakson telotet tekun selesaikan pekerjaannya (foto : abdul)
KLAKSON TELOLET — Pembuatan klakson telotet oleh Gito di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Selasa (27/12/2016). (duta.co/Abdul)

PASURUAN | duta.co — Demam om telotet om ternyata membawa berkah tersendiri bagi Gito, perajin atau pembuat klakson telotet di Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Sejak ramai diberitakan di media sosial (medsos), penghasilan para perajin ini meningkat tajam hingga 75 persen dibanding bulan sebelumnya. Bahkan tiap hari pesanan dari para pengemudi truk meningkat signifikan seiring dengan demam telotet.

Tak hanya pengemudi truk besar saja yang pesan, melainkan para sopir truk kecil tak mau ketinggalan untuk memasang klakson yang lagi trend tersebut.

“Hampir setiap hari kami selalu didatangi pemesan yang tak lain para sopir truk yang hendak memasang klakson dengan suara keras ini, ” ucap Gito, pembuat klakson telotet saat berada di bengkelnya, Selasa (27/12/2016).

Tentu saja omzet perajin klakson ini juga ikut meningkat drastis, lantaran kali ini hasil pekerjaannya diburu. Padahal, jenis klakson telotet sempat ditinggalkan dan berganti jenis klakson dengan suara kapal dan truk besar. Namun semenjak berita om telotet om di medsos gencar, perajin satu-satunya di Kabupaten dan Kota Pasuruan yang membuat klakson jenis telotet ini, kini kewalahan karena banyak diburu konsumen yang datang.

Dalam sehari Gito mampu melayani pembeli antara 5 buah hingga 10 buah klakson. Sedangkan proses pembuatannya tergolong gampang-gampang susah. Sebab, usai klakson dibentuk, lalu disambung dengan cara dilas, selanjutnya dihaluskan dengan kertas gosok hingga proses pendempulan.

“Setelah kering, langsung dicat dan satu persatu semua klakson harus diuji coba hasil suara, “katanya.

Menurutnya, dari semua suara, ada 7 jenis suara. Hal itu tergantung tombol yang ditekan dengan bantuan stroom dan dorongan angin. Dengan begitu, imbuh Gito, akan muncul suara yang cukup unik telotet jenis panjang, cepat, dan pelan. Suara itu yang banyak diminati para pengemudi truk yang bertonase besar. Sehingga pemesannya pun sehari mencapai 10 pesanan baik dari lokal dan luar kota.

Gito menuturkan, jika awalnya ada 9 perajin setelah itu tinggal 5 dan akhirnya hanya Gito saja yang mengerjakan klakson telolet tersebut. Hasilnya, selama dua bulan terakhir meningkat tajam.

Masalah harga, kata Gito, misalkan dengan tabung angin Rp 1,1 juta lengkap dijamin bunyi. Sedangkan kendaraan besar sudah ada tabungnya cukup merogoh kocek Rp 480 ribu. Pemesanya mulai dari Pulau Jawa hingga luar pulau, seperti Bali dan NTT.

Seperti salah satu pembeli dari Jepara, Jawa Tengah, Sahir. Dia datang dari jauh hanya ingin membeli satu set klakson telotet buatan Gito.

Menurut Sahir, suara klakson buatan warga Nguling ini berbentuk unik dan harganya terjangkau dibandingkan dari kota-kota lain. Disamping itu, klakson yang dibeli rencananya akan digunakan untuk persiapan menjelang pergantian tahun baru mendatang.

“Klakson buatan pak Gito ini berbeda dengan daerah lainnya. Sebab suaranya memang unik jadi senang membeli klakson telolet, banyak macem suaranya. Tak hanya itu, saat dibunyikan di jalanan, juga bisa untuk penghilang stress. Masalah harganya standar tidak terlalu mahal bagi kami kalangan sopir truk besar. Bahkan banyak teman sopir lainnya yang kepingin membeli,” terang Sahir. (dul)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan