
Oleh M Idris Hady, SE*
PERADABAN Nusantara bukanlah peradaban kosong. Ia adalah warisan amanah dari para ulama, aulia, dan leluhur yang berilmu. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” QS. Az-Zumar: 9.
Bukti nyata peradaban intelektual Nusantara, seperti manuskrip. Ribuan kitab kuno berisi hukum, thibbun nabawi, tauhid, dan sastra. Itu jejak ulama kita. Juga Karya Sastra & Filsafat seperti Negarakertagama, Babad, hingga tasawuf ulama Aceh dan Jawa. Ini adalah bukti kedalaman iman yang berpadu dengan akal. Pun Sains Maritim & Astronomi. Nenek moyang kita berlayar dengan membaca rasi bintang. Itu tanda kebesaran Allah dan kecerdasan umat. Tidak lupa Kearifan Lokal. Sistem desa dan pertanian adalah bentuk khilafah fil ardh — mengelola bumi secara adil dan berkelanjutan.
Dari Satu Gedung Saling Melumpuhkan
Hari ini Allah Swt hadirkan ujian. Muncul sosok-sosok seperti Roy Suryo dan dr. Tifa yang dengan izin Allah menjadi asbab pelatuk untuk membangkitkan kembali kesadaran intelektual bangsa. Lihatlah Republik Islam Iran. Kekuatan mereka bukan hanya senjata, tapi karena ruh peradaban Persia dan Islam menyatu di dada rakyatnya. Mereka siap berkorban menjaga izzah dan martabat negeri.
Lalu mengapa semangat kita melemah? Karena peradaban luhur Nusantara sengaja tidak diajarkan. Anak bangsa dijauhkan dari akar sejarah dan jati dirinya. Ingat sabda Nabi: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya…” (HR. Muslim)
Maka tidak berlebihan jika kita katakan: Roy Suryo dan dr. Tifa adalah salah satu pelita di tengah gelapnya pembodohan. Sekalipun upaya mulia ini ingin dipadamkan oleh orang-orang dari almamater yang sama.
Semoga Allah menjadikan perjuangan ini sebagai jalan lahirnya generasi Rabbani. Generasi yang menjaga nusa dan bangsa, bukan generasi pecundang, pengkhianat, dan penjual SDA kepada para oligarki. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Wallahu a’lam bishawab.
Bogor Timur, 13 Agustus 2026.
*M Idris Hady, SE adalah Sekjen ADA API (Aliansi Damai Anti Penistaan Islam) dan Alumni Ponpes Darul Ulum, Jombang.




































