Oleh: Suparto Wijoyo*

PERANG, konflik bersenjata yang tergelar di kawasan Timur Tengah sejatinya membuat publik terperangah. Kekuatan Amerika Serikat dikerahkan sepenuhnya. Israel serius meminta-minta perang ini kepada orang tua asuhnya, USA. Presiden USA kegirangan atas permohonan “anak nakalnya” dan menurutinya dengan penuh ambisi untuk menumbangka kepemimpinan di Iran. Gempuran dimulai dengan nafsu yang memuncak. Berpeluru kendali, rudal-rudal dikerahkan. Membunuh pimpinan tertinggi Iran dijadikan target utama. Peran menjadi bahasa Amerika Serikat dan Israel agar seluruh pihak tunduk kepadanya. USA dan Israel tampaknya membutuhkan validasi diri sebagai negara yang butuh pengakuan sebagai satu-satunya yang paling perkasa di muka bumi. Maka menggempur wilayah merdeka dan berdaulat Republik Islam Iran dianggap ringan, dan biasa saja. Bahkan menculik Presiden dari sebuah entitas negara saja juga dengan riang gembira dilakukan. Tidak merasa mereka, USA dan “gang” itu melanggar hukum internasional maupun kaedah kepatutan relasi antar bangsa.

Kini dunia melihat, Iran bangkit menunjukkan wibawa negara yang tidak menjilat. Negara yang terang-terangan memiliki keberanian. Masa embargo selama 47 tahun tidaklah singkat. Inilah negara yang telah mengalami penderitaan paling spektakuler dalam sejarah modern. Iran tampil dengan gagah. Berbagai rudal balasan diluncurkan. Serangan pada areal-areal yang berbendara USA di Timur Tengah menunjukkan bahwa itulah selayaknya yang dilakukan. Iran tidak menyerang negara tetangga tetapi menyerang teritorial yang menandakan hadirnya kedaulatan Amerika Serikat. Kapal induk ataupun kantor-kantor perwakilan Amerika Serikat yang ada di Timur Tengah, apalagi semacam pangkalan militer sejatinya adalah titik singgung kedaulatan Amerika Serikat. Jadi Iran sesungguhnya menyerang eksistensi kedaulatan Amerika Serikat yang ditancapkan di Timur Tengah.

Kini kobaran api itu berkobar di banyak wilayah negara-negara tetangga Iran, tetapi juga ada dalam ketiak kedaulatan Amerika Serikat. Sebuah skema peperangan yang menjadi tontonan mengeroyok Iran. Tetapi negara Iran tegar menggeliatkan perlawanan. Serangan ke Israel sebagai balasan atas perilaku Israel yang selama ini terlalu lama melakukan kezaliman di Timur Tengah. Negara-negara di Timur Tengah yang beratribut membawa nama Islam, tampak dalam kendali Amerika Serikat. Hanya Iran yang berdiri mengukuhi kedaulatannya dan harga sebuah bangsa. Ingatan publik langsung kepada era Persia yang dijiwai oleh Iran.

Garda Revolusi Iran membuka mata kita semua. Negara dengan tentara yang memperkuat diri melalui inovasi teknologi yang dipersembahkan bagi pertahanan bangsa. Iran menghimpun kekuatan meski tantangannya sangat berat. Rakyatnya diobrak-abrik Amerika Serikat dan Israel untuk menunjukkan kekuatan agar menggulingkan rezimnya. Tapi apa hendak dikata, rakyat Iran sangat cerdas dan memiliki ghirah persatuan, sehingga demo-demo yang tidak luput dari kekuasaan lama yang monarkhis tidak sanggup memecah belah rakyat Iran. Pekan duka yang menjelma menjadi pekan-pekan pencahayaan. Penderitaan Iran yang berlangsung berpuluh-puluh tahun tidak membuat mereka rapuh. Ini bangsa menjadi sangat istimewa. Iran menunjukkan kekuatan diri yang sangat terteguhkan dengan pemimpin tertingginya yang sederhana dan sangat kharismatik.

Pada titik perlawanan Iran yang mempertahankan diri, saya menjadi terbuka betapa pendidikan adalah mandat yang terus disorongkan. Pendidikan yang membangun karakter kebangsaan. Iran bangga dengan kekuatannya sendiri dan pemanfaatan SDA sendiri. Kekuatan militer Iran tumbuh dengan keterbatasn tetapi kecerdasan membuatnya luar biasa. Produk persenjataannya mengesankan banyak pihak. Keuletan berpadu dengan kecerdasan serta kecerdikan yang tertuntun tauhid menghasilkan kekuatan besar di Iran. Apa yang tergelar di Iran ini menjadikan potret bahwa perjuangan Iran bukanlah perjuangan biasa atas nama materialisme seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Para tentara yang bergerak untuk mempertahankan kedaulatan negara adalah panggilan Illahiyah yang bermuatan mencintai tanah airnya. Apa yang dilakukan Iran yang mempertahankan negaranya yang diserang Israel dan Amerika Serikat adalah bentuk tanggungjawab atas tanah air yang diusik oleh lawan. Bukankah sesuai maqolah yang diserukan oleh Hadratusyaikh KH Muhammad Hasyim Asyari: Hubbul wathon minal iman. Mencintai negara itu lambang keimanan warga negaranya.

Dari konteks peperangan yang terselenggara di Timur Tengah ini dapatlah bertanya-tanya, bagaimana mungkin di abad ke-21 ini masih ada manusia model dari negara yang berbilang maju, melakukan negosiasi dengan cara menekan, berunding dengan cara memaksa, dan bahkan mengancam. Dialog disumbat dengan senjata. Akhirnya perang alias senjata dipanggungkan untuk berbicara. Amerika Serikat dan Israel ini patut dipertanyakan tingkat keberhasilan lembaga pendidikannya. Sebab pendidikan itu untuk meningkatkan kapasitas manusia lebih bermartabat dengan kecakapan yang utuh. Manusia menjadi tertuntun untuk santun dan mengedepankan pemikiran bukan peperangan. Dan Presiden Amerika Serikat dan Israel lebih memilih peperangan dengan menyerang negara yang diajaknya untuk bermusyawarah. Artinya di Amerika Serikat dan Israel yang diwakili oleh pemimpinnya ini, sejatinya tergolong orang-orang yang tidak terdidik dengan baik sesuai nilai-nilai universal. Pilihan kalah berrunding dengan melakukan peperangan itu pertanda bahwa mereka tidak mengutamakan akal sehat tetapi kekuatan fisik. Jadi saya bertanya masihkah mereka ini pemimpin yang terdidik, masihkah para akademisi di USA dan Israel bangga memiliki pemimpin yang sangat jauh perilakunya dari nilai-nilai universial pendidikan yang membuat manusia bertindak bermartabat.

Gaya kepemimpinan mereka seperti adagium lama “homo homini lupus” yang sangat populer di referensi politik. Negara yang satu memangsa negara yang lain dan itulah yang selalu dilakukan oleh nenek moyang mereka ekspansi ke wilayah Amerika dan Israel ke Palestina. Ajaran klasik yang mengkristal bahwa  “manusia adalah serigala bagi sesamanya” merupakan bentuk klasik manusia-manusia yang tidak berpendidikan. Sebuah kata yang tertampilkan dalam  komedi Plautus berjudul Asinaria sekitar tahun 195 SM. Begitu info dari regerensi kuno yang diunggah oleh Thomas Hobbes dalam karyanya De Cive (1642). Sebuah pemeo yang diajarkan ke banku-bangku kuliah masa silam. Kini manusia semakin modern legikanya adalah orang-orang terpelajar sehingga lebih mengedepankan kekuatan akal daripada kekuatan okol (otot) semata.  Selamat berpuasa ya.(*)

*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry