Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya, Andik Setiawan.

SURABAYA | duta.co – Seruan people power yang diserukan kubu Prabowo-Sandiaga dinilai sebagai hal yang tak dibutuhkan Indonesia. Karena situasi negara ini dalan kondisi yang berjalan dengan normal. Hal ini diungkapkan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya, Andik Setiawan.

“Saya kira belum. Sebab, prasyarat people power, di antaranya negara dalam situasi totaliter (totalitarian). Apakah kita sudah berada di masa totaliter itu? Saya kira tidak,” tegas Andik dalam forum diskusi Positive People with Positive Power yang digelar HMI Cabang Surabaya, Kamis (16/5/2019) malam.

Artinya, kata Andik, masih banyak ruang yang bisa dilakukan untuk melakukan diskusi, dialog dan sebagainya, termasuk media massa juga tidak ada yang dibredel. “Jadi banyak hal yang tidak relevan untuk kemudian kita harus melakukan people power,” ujarnya.

Andik menambahkan, beda dengan saat reformasi 1998 yang saat itu negara memang pada posisi totaliter. Mulai media dibredel, neraca perdagangan turun drastis dan sebagainya, sehingga menimbulkan gejolak luar biasa di masyarakat.

“Maka perlu adanya kekuatan besar masyarakat untuk mengganti rezim, nah itu yang dinamakan sebagai people power. Sedangkan hari ini apakah ini apple to apple ketika kita bandingkan dengan 98?” katanya.

Kalau memang apple to apple, jelas Andik, maka pihaknya akan mendukung. “Tapi kalau tidak terbukti bahwa ini melanggar norma dan aturan yang ada, yang tidak perlu people power,” ujarnya.

Karena itu, Adik tidak sepakat dengan istilah people power yang dinilainya sarat kepentingan politik. Dia lebih sepakat penggunaan istilah people pressure karena penekanannya pada kedaulatan rakyat atau negara.

“Kalau diarahkan ke people power yang konstitusional kita sepakat. Tapi kalau inkonstitusional, saya tidak (sepakat). Kalau inkonstitusional pasti makar, kita enggak ingin,” tandasnya.

Hal sama diungkapkan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) Agung Tri Putra. Menurutnya, people powertidaklah sederhana dan saat ini memang tidak diperlukan.

“Guyonannya, people power masih kalah dengan takjil power. Kalau people power yang lagi viral ini apa? Kalau takjil power kan jelas, makanan. Makanya jangan dulu bilang people power,” tegasnya.  zal

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.