
SURABAYA | duta.co – Siapa yang tidak kenal dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Disamping jaringannya paling luas sampai ke pelosok wilayah Indonesia, BRI salah satu bank terbesar di Indonesia yang memiliki peran dan fungsi penting dalam perekonomian negara. Produk-produknya juga dikenal luas di masyarakat kecil di pelosok sekalipun.
BRI berperan penting dalam mendukung perekonomian Indonesia dengan menyediakan kredit untuk usaha kecil dan menengah (UKM) dan sektor pertanian. BRI juga berusaha meningkatkan inklusi keuangan dengan menyediakan jasa keuangan yang terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
Ada tiga fungsi BRI yakni sebagai bank komersial yang menyediakan jasa keuangan untuk individu dan perusahaan. Juga berfungsi sebagai bank pembangunan yang menyediakan kredit untuk sektor-sektor yang strategis, seperti pertanian dan infrastruktur. Tidak lupa BRI memiliki unit mikro yang menyediakan jasa keuangan untuk usaha kecil dan menengah (UKM) dan masyarakat pedesaan.
BRI memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia dan terus berusaha meningkatkan layanannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. BRI menawarkan berbagai jenis tabungan, seperti Tabungan BRI, Tabungan Simpedes, dan Tabungan BritAma. BRI menyediakan kredit untuk individu dan perusahaan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
KUR BRI berperan sangat penting dalam perekonomian mikro dengan menopang eksistensi pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) sekaligus menumbuhkan jutaan wirausahawan baru. Tidak sedikit mereka yang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pensiun dini ataupun memutuskan resign dari pekerjaan memiluh usaha sendiri dan bantuan KUR BRI mampu mengatasi semuanya.
Sebagai bank penyalur KUR terbesar di Indonesia, hingga akhir September 2025 PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah menyalurkan KUR sebesar Rp130,2 triliun kepada 2,84 juta debitur, atau setara 74,40% dari total alokasi KUR BRI tahun 2025 sebesar Rp175 triliun.
Penyaluran KUR BRI tersebut didominasi oleh sektor produksi, yang mencakup pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, dan jasa lainnya, dengan porsi sebesar 64,31% dari total penyaluran.
Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp58,37 triliun atau setara 44,83% dari total KUR yang disalurkan BRI. Hal ini mencerminkan komitmen BRI dalam memperkuat sektor riil dan menjaga ketahanan pangan nasional.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan Bank BRI menegaskan dukungannya terhadap penyelenggaraan Akad Massal Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi 800.000 debitur dan peluncuran Kredit Program Perumahan (KPP). BRI berkomitmen mendukung program pemerintah melalui akses pembiayaan yang menyentuh sektor-sektor yang memberi daya ungkit besar terhadap ekonomi rakyat.
“BRI meyakini bahwa inisiatif ini akan menjadi katalis penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya beberapa waktu lalu.
KUR BRI Bangkitkan Semangat dan Majukan Usaha
Nasib dan perjalanan jalan hidup orang tidak ada yang tahu. Dari kerja kantoran, kini kerja usaha sendiri dan ternyata bisa meski harus melewati jalan berliku untuk mencapai tahap stabil meski belum bisa dikatakan sukses. Yang penting bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak.
Itulah pengalaman Nono Kusmaryono, setelah belasan tahun bekerja di percetakan media di Kota Surabaya dilanjut ke Jember, akhirnya harus memilih pensiun dini lima tahun lalu dan mengawali dunia baru yang selama ini tidak pernah ia tahu. Tidak ada gaji bulanan, mau tidak mau harus memulai usaha yang sudah ada dalam pikirannya.
“Awal buka usaha sendiri mencoba jualan penyetan seperti ayam, lele, kakap, gurami dan sejenisnya. Bayangan lokasi sudah ada disekitaran kampus di Kota Jember. Namun kenyataannya tidak mudah, tidak berjalan sesuai rencana akhirnya terpaksa tutup agar tidak menggerus simpanan,” kata Nono panggilan akrabnya.
Setelah gagal dengan usaha makanan, pikirannya berkecamuk harus tetap usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pemasukan bulanan. Sampai akhirnya ketemu dengan memilih usaha dengan produk yang tidak basi dalam durasi lama. Dipilihnya jualan bantal dan guling ala hotel.
“Untuk mendapatkan produk juga tidak mudah, perlu jalan berliku untuk menemukan produk yang bagus dan bisa mendapatkan margin. Setelah sekian lama putar-putar akhirnyaa ketemu dengan Hilon, perusahaan kapas silicon yang digunakan bahan utama bantal dan guling. Dari Hilon ini pula akhirnya direkomendasikan untuk mengambil produk dari home industri yang ada di Kota Jember dan bisa dijual kembali,” jelas Nono.
Setelah mantap jualan bantal dan guling, Nono menegaskan diri dengan membentuk nama usahanya sekaligsu berbdan hukum yakni PT Valend Pillow. Keyakinan mendirikan PT didasarkan pada optimisme dalam diri dan potensi pasar produk bantal dan guling berkualitas sangat dicari dan dibutuhkan orang demi kesehatan.
“Bantal dan guling kami kualitasnya setara hotel, tidak berdebu dan tidak menggunakan kapas layaknya bantal tradisional. Bisa dicuci ulang sehingga tetap bersih dan kembali kenyal, tidak menggunakan bahan lainnya selain kapas silicon. Setelah berjalan sekian lama akhirnya memberanikan diri mengajukan KUR di BRI Cabang Wirolegi Jember dan berhasil mendapatkan dana Rp 10 juta,” ujar Nono.
Menurut Nono proses mendapatkan KUR tidak rumit asalkan syarat yang dibutuhkan lengkap sesuai yang dibutuhkan. Salah satunya keberadaan PT, agunan dan penentuan skema yang dikehendaki. Saat ini tahun 2021, mengajukan KUR Rp 10 juta dengan tenor setahun cicilan Rp 1,250.000 per bulan. Setelah lunas, tahun selanjutnya mengajukan KUR kembali dan disetujui Rp 25 juta dengan tenor juga setahun.
“KUR sangat membantu dan dibutuhkan UMKM. Dengan beban yang sangat minimalis dibanding kredit reguler, KUR solusi bagi pengembangan dan membangkitkan UMKM. Lebih baik lagi kalau KUR BRI dipermudah persyaratan sehingga makin banyak UMKM yang tidak bankable mendapatkan KUR dengan skema kusus,” jelas Nono.
Diakui Nono KUR BRI secara tidak langsung membantu usahanya berkembang lebih cepat lagi karena UMKM pemula perlu dukungan modal untuk bertahan dan mengembangkan diri. Setelah mendapatkan KUR BRI, usaha Vallend Pillow berkembang pesat, dalam sebulan bisa meraih omset kisaran Rp 10 juta – Rp 15 juta.
“Pemasarannya via online dan offline. Untuk online bisa menjangkau seluruh Indonesia dengan pemasaran via media sosial. Dan tahun 2025 ini saat ekonomi sedang melandai berpengaruh juga pada penjualan turun kisaran 40 persen. Namun demikian, tetap optimistis dan tetap menggeluti usaha bantal guling karena sudah bisa menjadi penopang pemasukan keluarga dan pendidikan anak-anak,” jelas Nono.
Masukan Nono kepada KUR BRI agar waktu pencairannya dipersingkat, tidak lagi dua minggu sejak syarat lengkap. Selain itu menghapuskan aturan UMKM yang sudah mengambil kredit reguler tidak bisa mendapatkan KUR. Pasahal bisa jadi karena aturan kredit reguler lebih cepat banyak UMKM memilih reguler, padahal harusnya bisa mendapatkan KUR.
Desa BRILian Pemerataan Ekonomi dan Berdayakan Warga
BRI memperluas pemberdayaan desa melalui program Desa BRILiaN yang hingga akhir September 2025 telah menjangkau 4.909 desa di seluruh Indonesia. Langkah ini diklaim sebagai upaya BRI mendorong pemerataan ekonomi dari akar rumput sekaligus menyokong agenda Asta Cita Presiden Prabowo terkait pembangunan dari desa.
Salah satunya Desa BRILiaN Desa Hendrosari melalui kawasan Edu Wisata Lontarsewu. Dengan lahan yang dipenuhi pohon lontar (siwalan) dan sejumlah wahana wisata, Lontarsewu menjadi destinasi yang menyita perhatian banyak pengunjung.
Branch Manager BRI BO Manukan, Fuaad Fauzi mengatakan program Desa BRILiaN yang digulirkan BRI bertujuan mendorong empat aspek kunci: BUMDesa sebagai motor ekonomi desa, digitalisasi aktivitas dan produk, inovasi kreatif dalam solusi desa, serta keberlanjutan (sustainability) pembangunan pedesaan. Langkah langkah strategis BRI memilih Desa Hendrosari dalam mengembangkan ekosistem desa yang produktif sekaligus memperkuat sektor UMKM dan potensi wisata pedesaan – khususnya di area Edu Wisata Lontarsewu yang sudah dikenal dengan keunikan alamnya.
“Kami melihat potensi besar di desa-desa yang belum tergarap maksimal, khususnya dalam digitalisasi dan pengembangan UMKM. Program Desa BRILiaN hadir sebagai jembatan,” ungkap Fuaad Fauzi.
Lebih lanjut Fauzi mengatakan “Kami ingin agar kawasan ini tidak hanya menjadi tempat wisata, tapi juga menjadi pusat ekonomi kreatif dan pembelajaran bagi masyarakat setempat. Dengan pembinaan dari BRI, diharapkan UMKM di sini dapat tumbuh dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Hendrosari H. Asno Hadi Seputro menuturkan bahwa apresiasi ini menjadi motivasi bagi seluruh warga. “Kami mengucapkan terima kasih kepada BRI yang mempercayakan Desa Hendrosari. Kami berkomitmen untuk memajukan desa lewat potensi lokal yang ada, seperti wisata dan UMKM,” ujarnya.
Pasca-apresiasi Desa Brilian, BRI telah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan program dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Hendrosari. Salah satunya adalah peningkatan kapasitas manajemen BUMDesa dan UMKM, yang akan difokuskan pada pengelolaan keuangan, pemasaran, dan pengembangan produk.
Selain itu, BRI juga akan mendorong pemanfaatan digitalisasi layanan keuangan dan pemasaran produk lokal, seperti kerajinan dari lontar, melalui platform e-commerce dan media sosial.
Kolaborasi pengembangan paket wisata edukatif di Lontarsewu juga menjadi prioritas utama, dengan menggandeng Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang diketuai oleh H. Sunaryo. Program ini melibatkan UMKM klaster BRI seperti Petani Abdul Manab, pembatik Paryani, serta Ketua UMKM Mat Kolil, demi menjadikan Lontarsewu sebagai pendukung utama ekonomi lokal.
Untuk memastikan program ini berjalan efektif dan berkelanjutan, BRI akan melakukan monitoring secara berkala, sehingga program ini tidak hanya menjadi seremonial belaka, tetapi benar-benar memberikan manfaat yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Desa Hendrosari.
“Apresiasi ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Kami akan terus mendampingi dan mengawal supaya ekosistem desa ini benar-benar berfungsi,” tutup Fuaad Fauzi.
Penyerahan Apresiasi Desa BRILiaN 2025 kepada Desa Hendrosari oleh BRI BO Manukan di Edu Wisata Lontarsewu adalah bukti nyata dukungan lembaga keuangan terhadap pembangunan pedesaan. Melalui program ini, dorongan terhadap UMKM, digitalisasi desa, dan pengembangan wisata bisa menjadi kombinasi pendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
“Dengan langkah-strategis dan kemitraan yang baik, Desa Hendrosari diharapkan tumbuh menjadi model desa maju di kawasan Jawa Timur yang mampu memadukan wisata, ekonomi kreatif, dan transformasi digital.”
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan “Desa BRILiaN merupakan salah satu bukti nyata BRI dalam membangun ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (11/11/2025).
Program Desa BRILiaN dirancang untuk mendorong desa mengoptimalkan potensi lokal dengan dukungan ekosistem keuangan digital BRI. Desa tidak hanya diarahkan menjadi penerima bantuan, tetapi juga dipacu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayahnya.
Pendekatan BRI dibangun melalui empat aspek utama, yakni penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa), digitalisasi, sustainability, dan innovation. Empat pilar ini dikaitkan dengan Asta Cita ke-6 yang menekankan pembangunan dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.
Secara konsep, Desa BRILiaN menjanjikan desa yang lebih mandiri, melek digital, dan mampu mengolah potensi sendiri menjadi nilai ekonomi. Tantangannya, implementasi di hampir lima ribu desa ini perlu diawasi agar tidak berhenti pada seremoni dan papan nama, tetapi benar-benar mengubah cara warga desa mengelola usaha.
Di luar Desa BRILiaN, BRI mengklaim memiliki berbagai inisiatif pemberdayaan yang menyentuh masyarakat desa dan pelaku usaha kecil. AgenBRILink memperluas akses layanan keuangan, LinkUMKM menjadi platform digital untuk mempertemukan UMKM dengan pasar dan akses pembiayaan, sementara Klasterku Hidupku dan Rumah BUMN diarahkan membangun ekosistem ekonomi digital berbasis komunitas.
“Penguatan desa merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan. BRI berkomitmen untuk terus menjadi jembatan antara desa dan ekonomi modern, memastikan masyarakat desa turut serta menjadi pelaku ekonomi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.
Bagi masyarakat desa, kehadiran program seperti Desa BRILiaN idealnya terasa dalam bentuk akses pasar yang lebih luas, kelembagaan BUMDesa yang profesional, dan literasi digital yang meningkat. Tanpa itu, jargon ekonomi inklusif dikhawatirkan sulit menjawab kesenjangan pendapatan dan terbatasnya kesempatan kerja di banyak desa.
BRILink Solusi Masyarakat Unbankable
Lokasinya jauh di pinggiran wilayah Kabupaten Bojonegoro. Warga Desa Sumberarum Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro sangat terbantu hadirnya agen BRILink. Para pensiunan, pelaku Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) yang tidak semuanya memiliki rekening perbankan dimudahkan dengan layanan BRILink layaknya perbankan.
Seperti diceritakan Amini, warga Desa Sumberarum pensiunan guru sangat senang dan terbantu dengan hadirnya agen BRILink. Karena dengan hadirnya agen BRILink tidak perlu lagi ke Kota Bojonegoro yang jaraknya sekitar 15 km dan perlu biaya Rp 100 ribu menggunakan Ojek dan transportasi umum lain.
“Tidak perlu lagi ke kota kalau hanya untuk mengambil uang ataupun setor. Semuanya bisa dilakukan di agen BRILink dengan biaya yang sangat terjangkau dibandingkan biaya ke kota. Di sini ada 6 agen BRILink jadi tidak khawatir dengan jarak yang tidak jauh. Yang terdekat jalan 100 meter belakang rumah sudah bisa, “ jelas Amini yang suaminya juga pensiunan Pegawai BPN.
Amini menambahkan Hadirnya agen BRILink di Desa Sumberarum jelas sangat besar manfaatnya bagi masyarakat. Selain memudahkan untuk tarik, setor ataupun transaksi, kini banyak masyarakat yang paham manfaat bank dan keuntungan menyimpan uang di bank. Tidak perlu khawatir rusak, ataupu dicuri, sehingga saat ini tinggal sedikit masyarakat yang menyimpan uangnya dibawah bantal, kasur, lemari dan cara-cara tradisional lainnya.
“Saya per bulan bisa transaksi ke agen BRILink bisa sampai 5 kali lebih. Kalau misalkan dapat uang pagi, sore langsung disetor. Sementara kalau ambil uang juga tidak banyak, disesuaikan dengan kebutuhan karena mudahnya transaksi di BRILink. Yang tidak memiliki rekening ataupun bukan rekening BRI bisa juga transaksi sehingga sangat mudah dan membantu sekali.”
Apa yang dialami Amini, pasti juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Desa Sumberarum dengan hadirnya agen BRILink. Maklum saja di Desa Sumberarum banyak warganya yang merantau ke kota besar bahkan tidak sedikit yang bekerja di luar negeri. Sehingga sangat diperlukan layanan perbankan untuk mengirimkan uang mereka.
Tadik, pemilik salah satu agen BRILink di Desa Sumberarum mengakui tiap tahun transaksi mengalami peningkatan. Makin banyak masyarakat yang paham mudahnya transaksi di agen BRILink untuk transaksi tarik, setor ataupun transaksi lain.
“Semuanya bisa, tidak hanya masyarakat yang punya rekening, yang tidak punya bisa transaksi dengan biaya yang terjangkau. Dalam sehari kisaran 25-40 transaksi seperti setor, transfer ataupun tarik dana,” kata Tadik yang selain menjadi agen BRILink juga punya toko kelontong serba ada King.
Tadik menambahkan untuk setor ataupun tarik tunai tidak ada batasan sebenarnya. Namun masyarakat Desa Sumberarum sudah paham kalau setor ataupun tarik tidak dalam jumlah besar. Namun demikian, dalam sebulan agen BRILink yang dikelolanya nilai transaksinya lebih dari Rp 2 miliar.
“Jumlah makin besar pada momen menjelang perayaan hari agama ataupun menjelang liburan. Seperti puasa dan Idul Fitri, Idu Adha, liburan sekolah. Selama ini tidak masalah meski di Desa ini ada enam agen BRILink,” pungkas Tadik.
BRI : Tetap Fokus dan Perkuat Sektor Ritel
Abdul Mongid Pengamat ekonomi sekaligus Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengatakan sebagai salah satu BUMN yang juga terus melaksanakan perannya sebagai agen pembangunan, BRI tidak hanya fokus untuk bertumbuh secara berkelanjutan. Namun juga terus mengembangkan, serta membangun pola bisnis yang mendukung perekonomian rakyat sampai pelosok yang tidak dilakukan bank lain termasuk bank pemerintah.
“Upaya mendorong pertumbuhan perekonomian grass roots secara konkret tersebut diantaranya adalah dengan adanya Holding Ultra Mikro (UMi) yang membuka akses layanan keuangan ke segmen mikro dan ultra mikro,” katanya.
Apa yang dilakukan BRI jelas Abdul Mongit saat ini tepat dan memang seharusnya dilakukan agar tidak diambil oleh bank swasta ataupun bank asing. BRI identik dengak bank rakyat kecil, tidak masalah dan harus diperkuat lagi dengan kemudahan layanan sehingga masyarakat makin percaya.
“Sektor ritel peluangnya masih terbuka luas, banyak masyarakat unbankable yang perlu mendapatkan layanan jasa perbankan. Dan agen BRILink mampu menjadi ujung tombak bagi BRI untuk memberikan layanan perbankan sampai pelosok desa dan pegunungan. Ini jelas sangat membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat pedesaan dan rural,” jelas Mongid.
Dengan eksistensi agen BRILink yang mampu menjangkau masyarakat pelosok desa dan pegunungan tegas Mongid tak ubahnya konsep Grameen Bank di Bangladesh. Metode Grameen Bank merupakan program penyaluran kredit mikro yang ditujukan bagi golongan masyarakat miskin di pedesaan. Sejak diluncurkan pertama kali di Bangladesh, telah banyak memberikan dampak positif bagi pemanfaatnya, sehingga mengundang banyak negara untuk mengadopsi program ini termasuk Indonesia.
“BRI juga punya kredit mikro dengan konsep KUR-nya, bunga sangat terjangkau dan tidak memberatkan bagi PKL dan pelaku usaha UMKM. Yang perlu dilakukan BRI yakni tingkatkan layanan dan harus bisa bersaing dengan bank swasta ataupun bank asing sekalipun. Jangan sampai idiom sebagai bank rakyat, namun layanan ala kadarnya,” pungkas Mongid.
Segmen ultra mikro dan UMKM selama ini menajadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Segmen ini memiliki 64,2 juta entitas dan merepresentasikan 99% total bisnis entitas di tanah air, dengan penyerapan tenaga kerja lebih 117 juta orang. Imam ghozali








































