Rektor Unitomo Bachrul Amiq (kiri) memberi ucapan selamat ke Gunadi Putra, sarjana sastra yang merupakan penderita autis di sela wisuda, Minggu (7/4). DUTA/istimewa

KETIDAKSEMPURNAAN yang dilihat orang lain pada diri kita sejatinya adalah kelebihan yang kita miliki dan tidak dimiliki orang lain itu. Buktinya, ketidaksempurnaan yang dimiliki Gunadi Putra justru membuatnya meraih prestasi membanggakan.

Gun-Gun meraih Indek Prestasi Komulatif (IPK) 3,74 dan mendapat beasiswa program magister (S2) dari kampusnya, Universitas Dr Soetomo Surabaya. Padahal Gun-Gun adalah anak dengan autism.

—-

Bahagia dan bangga, itu yang dirasakan pasangan Tjindra Halim dan Suadi Winata sebulan terakhir ini.

Pasalnya Gunadi Putra, anak bungsu warga Delta Asih Pertiwi Sidoarjo ini, dinyatakan lulus sebagai sarjana S1 Sastra Inggris dalam Yudisium Fakultas Sastra (FS) Unitomo Rabu (13/2) lalu.

Tidak tanggung-tanggung, Gun-Gun — panggilan akrab Gunadi — bahkan berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,74 sehingga berhak menyandang predikat Cum Laude. Mahasiswa angkatan 2015 ini dinyatakan lulus setelah menyelesaikan skripsi berjudul “x”.

Saat wisuda pada Minggu (7/4) Gun-Gun ternyata sosok yang istimewa. Dia berbeda dari teman-temannya. Gun-Gun adalah anak dengan autisme.

Memang tidak mudah mudah mengajaknya berkomunikasi. Kalau pun bisa, perlu upaya ekstra untuk itu.

Gerak anggota tubuhnya sulit dimengerti. Ia juga cenderung menghindari kontak mata. Tidak jarang, ia berlari kesana kemari, hingga akhirnya berhenti sendiri karena kecapekan.

Sejak berusia dua  tahun, Gun-Gun sudah didiagnosa menderita autisme, yaitu terjadinya gangguan neurobehavioral (syaraf dan perilaku) yang menyebabkan ia sulit berkomunikasi dan melakukan interaksi sosial dengan orang di sekitarnya.

Namun ini tidak membuat kedua orangtuanya putus asa. Sang mama, Tjindra Halim, yang saat itu bekerja sebagai guru di sebuah sekolah, langsung memutuskan untuk berhenti bekerja.

“Karena Gun-Gun punya kelainan dan butuh perhatian ekstra, maka setelah diskusi dengan suami dan keluarga besar kami, akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja agar bisa mencurahkan waktu sepenuhnya mendampingi dan membimbing Gun-Gun,” tutur Tindra.

Atas bimbingan dokter sejak saat itu Gun-Gun sudah diberi sejumlah terapi yang dirancang bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Tujuannya untuk menggali dan mengembangkan apa-apa yang sekiranya jadi minatnya, agar bisa dilatih dan diasah supaya bermanfaat bagi hidupnya.

“Melalui terapi ini akhirnya diketahui bahwa Gun-Gun ternyata suka bermain komputer dan punya minat terhadap bahasa Inggris,” ujar Tjindra.

Sementara untuk melatih kemampuan interaksi sosialnya, selain bersekolah di sekolah bagi anak berkebutuhan khusus, Tjindra juga memasukkan Gun-Gun ke sekolah umum guna memperluas pergaulannya. Agar ia tidak hanya bergaul dengan sesama penyandang autis, atau lingkungan keluarganya saja.

“Makanya ketika tamat SMA, dan ternyata ia juga ingin kuliah seperti kakaknya, saya menyarankan dia untuk lebih memilih prodi bahasa Inggris ketimbang komputer,” tuturnya.

“Pertimbangannya karena anak autis cenderung menyukai kegiatan yang berulang-ulang (repetitif), sehingga saya kawatir jika memilih prodi komputer ia akan makin tenggelam di depan layar monitor dan makin jarang bersosialisasi secara fisik dengan orang lain,” imbuh wanita berusia 55 tahun ini.

Karena belum berani melepas Gun-Gun berada sendirian di suatu tempat tanpa pengawalan, maka Tjindra selalu mendampingi ke mana pun ia pergi.

“Sebagai orang tua, saya tetap punya rasa kawatir akan ada apa-apa dengan Gun-Gun. Terutama karena ia punya kelainan, yang bisa jadi tidak dimengerti oleh orang lain,” ujarnya.

Selama Gun-Gun menempuh kuliah di Unitomo, Tjindra memang selalu tampak mendampingi.

Baik di luar kelas, maupun tak jarang juga di dalam kelas. “Saya diberi ijin bapak ibu dosen untuk menemani Gun-Gun, dan beruntung mereka tidak keberatan. Begitu pun teman-temannya,” ujarnya.

“Mereka semua baik, tidak ada satu pun yang memandang Gun-gun sebelah mata. Apalagi karena Gun-Gun ternyata juga mampu mengikuti perkuliahan dengan baik,” tambah Tjindra yang juga punya latar belakang sebagai guru bahasa Inggris.

Pengakuan atas kemampuan akademik Gun-Gun datang dari salah seorang dosen Fakultas Sastra (FS) Unitomo, Hariyono.

“Saya pernah memberi soal ujian di kelasnya, dan ternyata Gun-Gun berhasil menyelesaikannya kurang separuh dari waktu yang saya berikan. Lebih hebat lagi, hasilnya hampir tidak ada kesalahan,” tutur kandidat doktor ini dengan bangga.

Lantas, apa rencana Gun-Gun setelah diwisuda dan meraih gelar sarjana S1 Sastra Inggris. Gun-Gun mengatakan  keinginannya untuk mengajar bahasa Inggris di SD Bunga, sekolah bagi anak berkebutuhan khusus tempatnya dulu pernah belajar.

“Ya, saya ingin jadi guru di sekolah saya dulu. Supaya mereka juga bisa bahasa Inggris. Tapi saya juga ingin terus kuliah di Unitomo, karena di sini saya punya banyak teman. Dosennya juga baik-baik. Bisa khan?” ujarnya sambil bertanya-tanya.

Karena prestasi yang luar biasa ini, Gun-Gun dihadiahi beasiswa untuk meneruskan kuliah program magister atau S2 di Unitomo.

Rektor Unitomo Dr Bachrul Amiq sendiri yang mengutarakan hadiah itu kepada Gun-Gun saat wisuda digelar Minggu (7/4).

Kampus Kebangsaan dan Kerakyatan itu mewisuda 553 lulusan program D3, S1 dan S2. end/ril

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.