
TUBAN | duta.co – Peran sentral orang tua, khususnya ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga sangatlah penting, di mana golden age dalam mengasuh anak sejak bayi sangat dianjurkan.
“Misalnya stimulus positif kepada anak saat menyusui, ibu bisa membacakan doa atau sholawat. Ini secara tidak langsung membentuk ikatan emosional dan karakter yang kuat,” ungkap Ketua Tim Kerja Humas dan Informasi Publik BKKBN Jatim, Taufik Daryanto saat memberikan materi teknis Program Bangga Kencana dengan tema “keluarga sebagai pilar utama pembangunan menuju Indonesia Emas” yang digelar di Grand Javanilla, Minggu (15/6).
Dalam acara yang digelar Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bersama Anggota DPR RI Komisi XII Ratna Juwita Sari dan organisasi Perempuan Bangsa Kabupaten Tuban itu Taufik Daryanto mengatakan, hingga saat ini pernikahan dini masih menjadi problem dimana data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim 2023 mencatat masih banyak perempuan menjadi kepala keluarga dibawah usia 20 tahun.
“Di Jawa Timur masih banyak perempuan dibawah usia 20 tahun terpaksa menjadi kepala keluarga, salah satunya factornya pernikahan dini, perceraian karena tidak dinikahi, atau pernikahan yang tidak tercatat secara hukum negara,” terangnya.
Untuk itu, pihaknya meminta kepada semua pihak terutama para orang tua lebih proaktif mengawasi dan mendidik anak, hal ini tidak lepas dari perubahan dan kemajuan zaman, kecanggihan teknologi juga perlu diperhatikan.
“Perlunya pengawasan penggunaan gawai anak, kalau dulu kita bisa tahu siapa teman anak kita di kampung, sekarang anak bisa berteman dengan siapa saja dari balik kamar lewat HP. Ini harus menjadi perhatian serius,” ucapnya.

Anggota DPR RI Komisi XII, Ratna Juwitasari, transformasi BKKBN menjadi bagian dari kementerian merupakan bentuk penguatan struktural terhadap isu kependudukan dan keluarga dalam kebijakan nasional, keberadaan anak tidak hanya menjadi urusan pribadi keluarga.
“Kita meyakini bahwa anak itu membawa rezekinya masing-masing, tapi sekarang kita tahu bahwa kegagalan keluarga akan berdampak sosial luas dan akhirnya menjadi tanggungan negara,” ujar Ratna.
Politisi kelahiran 29 Maret 1984 ini juga menambahkan pentingnya peran remaja dalam memahami kesehatan reproduksi dan tidak terjebak dalam pernikahan dini.
“Pemahaman inilah nantinya akan membantu para orang tua dan bekal untuk remaja khususnya saat nanti berumah tangga mencegah terjadinya perceraian, dimana tren ini masih cukup tinggi,” ucap politisi yang akrab disapa Bunda Ratna ini.
Melalui program Bangga Kencana, yang merupakan rebranding dari Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) kini tidak hanya menyoal jumlah anak, melainkan kualitas hidup, lingkungan sehat, dan penguatan peran perempuan dalam pembangunan keluarga.
“Kami berterimakasih atas kolaborasi ini, melibatkan seluruh kementerian yang ada di pusat dan dinas di daerah. Ini masalah bersama dan tidak bisa diselesaikan satu pihak,” pungkasnya (sad)





































