Arif Helmi Setiawan, S.Kep., Ns., M.Kep – Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

ERA global saat ini berdampak pada perubahan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, termasuk sektor pendidikan dan ketenagakerjaan.  Mobilitas lulusan dan tenaga kerja antar negara memberikan tantangan bagi perguruan tinggi untuk memperoleh pengakuan masyarakat global terhadap hasil pendidikan selama ini.

Hal ini juga berlaku bagi pendidikan tinggi keperawatan, besarnya peluang tenaga perawat bekerja di luar negeri membuat penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan dipacu untuk terus meningkatkan pengelolaan system pendidikan meliputi input, proses, dan output.

Pendidikan tinggi keperawatan dibangun untuk menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan professional dalam menerapkan dan mengembangkan keilmuannya.

Tujuan pendidikan dan pelayanan keperawatan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan, pendidikan bertujuan mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi tenaga profesional dan trampil. Untuk menghasilkan lulusan keperawatan yang berkualitas, maka diperlukan pengorganisasian dan pengelolaan yang tepat pada aspek pengetahuan, sikap dan ketrampilan.

Penyelenggaraan pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia terdiri atas dua tahap yang terintegrasi dan tidak terpisahkan yakni pendidikan akademik dan profesi.

Pada tahap akademik, mahasiswa belajar dikelas dan di laboratorium menggunakan manikin, proses untuk menghasilkan  ketiga aspek tersebut harus dikelola dengan baik sesuai dengan kebutuhan pasar luar negeri.

Hal itu meliputi kurikulum, metode pembelajaran, dan sarana belajar termasuk peningkatan kemampuan bahasa asing,  semua aspek tersebut harus dapat dikelola sedemikian rupa sehingga dapat diaplikasikan pada tatanan nyata.

Pada tahap profesi mahasiswa akan mengaplikasikan berbagai kompetensi yang sudah dipelajari pada tahap akademik.  Beberapa hal yang mempengaruhi aplikasi hasil pembelajaran tahap akademik di wahana klinik, seperti karaktersitik mahasiswa, kondisi tempat praktik, kompetensi, pembimbing, dan sarana belajar.

Hal inilah penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan harus mampu menentukan metoda pembelajaran yang tepat agar menghasilkan peningkatan capaian belajar mahasiswa di wahana klinik.

Ada berbagai teori belajar yang dapat digunakan  dalam proses pembelajaran di wahana klinik, salah satunya adalah teori belajar humanistic.

 Teori ini menyatakan bahwa belajar apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, dan realisasi diri orang yang belajar secara optimal.

Teori ini lebih banyak berbicara tentang konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang ideal dan berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pembelajar.

Salah satu model belajar yang dikembangkan dari teori ini adalah pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning.

Pembelajaran experiential adalah bagian dari model pembelajaran student centered learning yakni mahasiswa secara aktif berpikir tentang sesuatu yang dipelajari dan kemudian bagaimana menerapkan yang sudah dipelajari dalam situasi nyata.

Pembelajaran berbasis pengalaman memanfaatkan pengalaman baru dan reaksi mahasiswa terhadap pengalamannya untuk membangun pemahaman dan transfer pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

Pembelajaran berbasis pengalaman ini banyak digunakan oleh penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan pada saat pembelajaran di wahana klinik seperti rumah sakit, puskemas, panti dan masyarakat.

Pada tahap profesi mahasiswa belajar untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam mengatasi masalah kesehatan khususnya pemenuhan kebutuhan dasar yang dibutuhkan pasien di rumah sakit dan klien di masyarakat.

  Mahasiswa dipersiapkan melalui proses transformasi, menjadi perawat trampil dan professional.

Pembelajarn klinik berbasis pengalaman ini memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan pasien, tenaga kesehatan lain dan beradaptasi dengan lingkungan wahana klinik. Aplikasi pembelajaran ini berupa penugasan kasus yang diberikan sesuai dengan kompetensi dan tujuan belajar.

Selama di ruangan  mahasiswa memberikan  asuhan keperawatan bagi pasien secara holistik meliputi pemenuhan kebutuhan bio-psiko-sosio-spiritual dan kultural sesuai tahapan proses keperawatan, kemudian dilanjutkan dengan penulisan dokumentasi keperawatan.

  Kunci keberhasilan dalam pembelajaran klinik bagi mahasiswa keperawatan adalah karakteristik mahasiswa, rumah sakit yang sesuai, strategi pembelajaran klinik dan komitmen. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry