Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Risetdan Teknologi,  Anindito Aditomo  saat  menjadi pembicara dalam seminar pendidikan bertajuk " Strategi Sekolah dalam Implementasi Asesmen Kurikulum Merdeka "  di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, Rabu (15/2/2023). DUTA/Wiwiek Wulan

Terus Sosialisasikan Program Merdeka Belajar

SURABAYA | duta.co –  Menilai anak didik di awal-awal pembelajaran sangat penting dilakukan. Itu untuk mengukur capaian pembelajaran pada anak didik.

Caranya membandingkannya  dengan nilai asesmen di akhir pembelajaran. Jika nilai meningkat maka guru sudah melaksanakan pembelajaran dengan baik namun sebaliknya jika menurun berarti guru belum melaksanakannya dengan baik.

Peningkatan di masing-masing anak didik itu tidak sama. Sehingga nilai capaian tidak boleh disamaratakan antara siswa yang satu dengan yang lain.

Semua asesmen itu terangkum dalam program Merdeka Belajar yang gencar dilakukan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP)  Kemendikbudristek, Anindito Aditomo salah satu yang gencar untuk menyosialisasikan program itu. Rabu (15/2/2023) Anandito hadir di Smamda Tower untuk menyosialisasikan program Merdeka Belajar ini ke kepala sekolah dan guru SMP sederajad di Surabaya.

Di harapan tamu undangan,  Anandito mengatakan Merdeka Belajar ini  untuk menggerakkan sistem pendidikan dengan menyediakan kesempatan belajar berkualitas untuk semua anak. Program ini untuk memastikan semua anak di kelas dikenali potensi  sehingga bisa bertumbuh dan berkembang.

“Masing-masing anak berbeda. Kalau dulu KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) itu disamaratakan misalnya 80 ke atas, atau kalau di sekolah unggulan 90 ke atas, sekarang tidak lagi begitu. Karena potensi anak itu masing-masing berbeda,” jelasnya.

Karena yang diinginkan dari program ini kata Anandito setiap anak harus lebih baik di akhir dibandingkan ketika mereka masuk pertama kali ke kelas. “Kalau misalnya di awal nilai 30 dan di akhir 50, berarti siswa itu sudah mengalami peningkatan dan guru sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Tidak harus semua sama 80 misalnya,” tukasnya.

Namun memang tidak semua guru bisa melakukan penilaian di awal. Karenanya Kemendikbudristek memangkas kurikulum agar tidak terlalu membebani guru sehingga bisa melakukan penilaian di awal.

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, Astajab mengatakan Kurikulum Merdeka  ini pada dasarnya mempermudah sekolah karena struktut kurikulum lebih sederhana.

“Hanya materi esensial sehingga kami bisa mengembangkan kurikulum lebih jauh sesuai keunggulan dan karakteristik sekolah kami,” ungkapnya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry