Okto Aditya Suryawirawan, S.M., M.S.M, Dosen Tetap STIESIA (duta.co/dok)

Oleh : Okto Aditya Suryawirawan, S.M., M.S.M, Dosen Tetap STIESIA

Perkembangan e-commerce di Indonesia sangat pesat dalam kurun waktu 1 dekade terakhir. Melalui sebuah artikel yang saya baca beberapa waktu yang lalu, dari 19,8 juta orang di tahun 2014, pengguna e-commerce di Indonesia diperkirakan dapat mencapai 39,3 juta pada tahun 2020.

Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh data statistik dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mencatat bahwa pengguna internet meningkat dengan pesat dari 88,1 juta pengguna di tahun 2014 menjadi 143,26 juta pada tahun 2017.

Keberadaan smartphone menurut APJII menjadi salah satu faktor kuat yang menyebabkan fenomena ini dimana 44% akses internet dilakukan melalui perangkat tersebut. Melalu data statistik diatas juga ditemukan bahwa 98,6% mengetahui perihal adanya jual beli secara online, 82,2 juta orang pernah mengunjungi situs jual beli online, 32% layanan yang paling banyak digunakan adalah untuk melakukan pembelian barang, namun sayangnya hanya 9% pengguna yang menggunakannya untuk melakukan penjualan. Ini menunjukkan bahwa potensi dari perkembangan e-commerce masih sangat besar di Indonesia.

Tentu peran perintis bisnis digital startup sangat besar dalam pesatnya perkembangan e-commerce di Indonesia. Kita memiliki Tokopedia, perusahaan online marketplace yang berdiri sejak tahun 2009. Didirikan oleh William Tajuwijaya, perusahaan ini telah meraih hampir 3 milyar dolar investasi dari berbagaiventure capitaldi berbagai belahan dunia. Akun penjual di Tokopedia, melalui artikel yang saya baca beberapa waktu yang lalu, kini telah mencapai hingga 7 juta pengguna, dengan 70%-nya yang mengaku baru menjadi entrepreneur untuk pertama kalinya. Belum lagi ditambah dengan berbagai aplikasi serupa lain seperti bukalapak dan shopee.

Oleh karena itu penting baik bagi pelaku usaha maupun mereka yang masih berencana menjadi pengusaha untuk memanfaatkan keuntungan yang diberikan oleh platform-platform e-commerce,yang sesuai dengan jenis produk, baik yang sudah mereka jual maupun yang nanti baru akan mereka ciptakan.

Tidak hanya untuk mempermudah mereka yang merupakan pelaku bisnis, e-commerce telah menjadi pilihan berbagai kalangan masyarakat ketika mereka ingin membeli sesuatu. Pada tahun 2018, Tokopedia yang telah kita bahas sebelumnya, mencapai nilai transaksi sebesar 5,6 Milyar Dolar Amerika. Dengan proyeksi nilai transaksi sebesar 37 Milyar Dolar Amerika pada tahun 2023, saat ini Tokopedia menjadi platform e-commerce terbesar yang ada di Indonesia. Melihat potensi dari e-commerce yang begitu besar, tentu saja pengusaha yang belum memanfaatkan e-commerce atau bahkan menjauhi penggunaan e-commerce tersebut,akan kehilangan pelanggan potensial yang jumlahnya cukup besar di Indonesia.

Mungkin ada pertanyaan yang muncul pada diri pembaca sekalian tentang mengapa menjadi entrepreneur atau wirausaha itu begitu penting, disebuah negara dimana mayoritas masyarakat masih memiliki mimpi yang cukup besar untuk dirinya ataupun putra-putrinya menjadi PNS atau ASN. Pada sebuah artikel yang dipublikasikan di World Economic Forum pada tahun 2015, menyatakan bahwa kita harus menjadikan entrepreneur sebagai juara bagi sebuah negara yang masih masuk dalam kategori negara berkembang. Di negara berkembang,entrepreneur yang inovatif dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan perkembangan ekonomi, sementara bersama dengan itu memperluas pasar akan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh konsumen.

Di Kenya, Peter Chege, seorang entrepreneur dari Nairobi mengembangkan sistem hidroponik untuk para petani, yang memungkinkan mereka untuk memproduksi bahan baku sereal lebih banyak dan diwaktu yang sama, mengurangi kebutuhan akan air, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya kerugian yang besar karena kekeringan akibat suhu udara yang sangat panas di Kenya.Di Jamaica, para petani mengalami kerugian yang cukup signifikan karena kurangnya akses langsung ke pasar,sehinggaentrepreneurJermaine Henry dan Janice Mcleod mengembangkan sebuah aplikasi, yang mampu menghubungkan para petani tersebut, dengan para konsumen potensialnya seperti hotel dan restoran.

Aplikasi tersebut memberikan kontribusi yang luar biasa dengan meningkatkan pendapatan para petani, mengurangi harga yang harus dibayarkan oleh konsumen dan berperan dalam pengurangan limbah di Jamaica. Bagi pembaca yang mungkin belum tahu, aplikasi serupa juga sebenarnya telah tersedia di Indonesia. Tanihub yang didirikan oleh Michael Jovan mampu meningkatkan kesejahteraan petani beras, sayuran, buah-buahan dan juga peternak telur di Indonesia, dengan penawaran harga yang jauh lebih baik dari tengkulak dan diwaktu yang sama, menghubungkan para petani di desa langsung ke konsumenmereka yang berada di kota besar.

Entrepreneur-entrepreneur tersebut telah menjadi tulang punggung dari ekonomi lokal yang berada di sekitar mereka. Mereka menciptakan lapangan kerja baru di sektor yang memiliki nilai tinggi, dan juga memperluas akses pada barang dan jasa untuk mereka yang berada di lokasi yang jauh dari perkotaan.

Kini kita sudah tidak bisamemungkiri pentingnya entrepreneurship khususnya melalui e-commerce dalam rangka memberdayakan masyarakat diberbagai sektor perekonomian di dalam negeri, terutama sektor usaha mikro kecil dan menengah. Sektor usaha mikro kecil dan menengah yang biasanya kita sebut dengan UMKM ini, memiliki kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian negara. Menurut data dari World Bank, 40% dari GDP sebuah negaraberasal dari kontribusi UMKM yang resmi atau telah terdaftar, angka tersebut tentu akan lebih tinggi lagi bila mereka mengikutsertakan UMKM yang masih belum terdaftar.

Terdapat data dari World Bank yang juga menyatakan bahwa 7 dari 10 lapangan pekerjaan yang ada di sebuah negara diciptakan oleh UMKM.Oleh karena itu,pemerintah di Indonesia,memberikan perhatian khusus yang sangat besar pada sektor UMKM tersebut.Peran mereka yang begitu penting bagi perekonomian kita, dan e-commerce tentu sajahadir untuk mempermudah masyarakat, baik yang sudah menjadi bagian dari pelaku UMKM, maupun mereka yang baru ingin memulai.

Dengan perkembangan e-commerce dan potensinya yang masih sangat besar di Indonesia, saya berharap e-commerce dapat menjadi solusi dari masih tingginya angka pengangguran yang ada di Indonesia. Statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2018 menunjukkan bahwa persentase pengangguran terhadap angkatan kerja di Indonesia berada di angka 5,34% pada bulan Agustus 2018. Meski terdapat penurunan dari data pada Agustus 2017 yang sebesar 5,50%, angka tersebut meningkat dari Februari 2018 yang hanya 5,13%. Ini menunjukkan bahwa masih ada hampir 7 juta orang Indonesia yang belum memperoleh pekerjaan.

Dengan keterbatasan lapangan kerja yang ada pada saat ini, saya tentu berharap penciptaan lapangan kerja baru melalui kewirausahaan khususnya e-commerce dapat membantu mengurangi lebih banyak angka pengangguran tersebut dari tahun ke tahun.Di negara berkembang, untuk seseorang mengembangkan jiwa kewirausahaan yang mereka miliki tentunya bukan hal yang mudah. Para pelaku UMKM membutuhkan bimbingan secara personal ditengah langkanya pendanaan dan mentor yang ada di sekitar mereka.Sehingga dalam hal ini perlu adanya dukungan, baik dari pemerintah maupun dari pelaku bisnis yang sudah berhasil, untuk mampu mengembangkan pelaku UMKM di Indonesia agar berkembang menjadi lebih baik.

Tidak bisa kita pungkiri saat ini, peran e-commerce yang sangat besar dalam mengeliminasi faktor-faktor yang dapat menjadi penghambat seseorang untuk menjadi pelaku usaha. Berkat adanya platform e-commerce seperti Tokopedia , Shopee, Bukalapak, Go-jek, kini tempat bukan lagi hal yang perlu kita khawatirkan, jarak sudah bukan lagi halangan, pemasaran dapat dilakukan hingga tanpa biaya sama sekali, sehingga modal seharusnya bukanlagi merupakan masalah yang terbesar bagi masyarakat yang ingin memulai usaha. Pertanyaan yang harus saya tinggalkan untuk pembaca kali ini kemudian adalah, kapan giliran anda? (*)

 

 

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry