PASURUAN | duta.co – Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Prof. Badri Munir Sukoco, memberikan paparan strategis dalam acara Halal Bihalal dan Sarasehan Pendidikan NU yang diselenggarakan oleh LPT PWNU Jatim pada hari Sabtu (18/4) di UNU Pasuruan.
Di hadapan pimpinan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama se Jawa Timur ia menegaskan bahwa PTNU harus menjadi garda terdepan dalam mentransformasi sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.
​Prof. Badri menyoroti tantangan besar berupa tingginya angka ketidaksesuaian (mismatch) antara kualifikasi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Ia memaparkan bahwa untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, perguruan tinggi tidak boleh lagi menjadi “menara gading”, melainkan harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing tinggi dan mampu beradaptasi dengan perubahan industri yang sangat cepat.
​
“PTNU diharapkan tidak hanya fokus pada bidang ilmu sosial, tetapi juga memperkuat penguasaan sains dan teknologi. Hal ini krusial untuk meningkatkan “kompleksitas ekonomi” Indonesia melalui inovasi yang lahir dari kampus.” terang Guru Besar UNAIR ini
Yang menarik, ia juga menyoroti soal ‘Creative Class’. Prof. Badri menekankan pentingnya melahirkan kelompok masyarakat kreatif (creative class). Menurutnya, jika 20% SDM Indonesia memiliki kapasitas inovasi yang tinggi, Indonesia akan mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap).
​”PTNU memiliki potensi besar dengan basis massa yang luas. Jika potensi ini dikelola dengan orkestrasi pendidikan yang tepat, maka warga NU akan menjadi motor penggerak utama kemajuan bangsa di tahun 2045,” tegas Prof. Badri dalam sesinya.
​Melalui sarasehan ini, diharapkan PTNU di seluruh Jawa Timur dapat bersinergi untuk mempersempit kesenjangan kualitas pendidikan dan bersama-sama berkontribusi pada kedaulatan sains dan teknologi nasional.(*)
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry