SURABAYA | duta.co – Pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), Rabu (11/9/2019) malam menggelar konsolidasi di Hotel Mojopahit, Surabaya. Mereka melakukan sinergitas membidik pasar. Dengan begitu, warga nahdliyin yang jumlahnya mayoritas di negeri ini, tidak sekedar menjadi pasar di era digital.

“Kita sedang berada di era digital. Ada ‘keguncangan’ ekonomi. Butuh kekompakan. Baru saja kita dengar perusahaan aplikasi digital bermodal besar (unicorn) ingin berebut untung di sektor ibadah umrah dan haji di Indonesia. Menghadapi kondisi seperti ini, kalau pengusaha nahdliyin tidak kompak, akan tergerus habis,” demikian disampaikan Ir Abdul Kholik, MM, Ketua Umum DPP HPN kepada duta.co, Rabu (11/9).

Padahal, menurutnya, jumlah pengusaha nahdliyin di republik ini, tak kalah banyak. Yang sudah terdata di HPN saja, 70 ribu pengusaha dengan 12 item (jenis) bisnis. Angka ini belum menyentuh lapisan bawah.

“Makanya, setelah ini, kita lakukan safari ke daerah-daerah. Kita bangun kekompakan, kekuatan yang utuh sehingga memiliki daya tawar yang kokoh,” tegasnya sambil mengutip teori keunggulan kompetitif yang dicetuskan Michael Porter.

Menurut Abdul Kholik, potensi pengusaha nahdliyin sangatlah besar. Begitu juga kesadaran untuk bangkit di sektor ekonomi, seperti terbentuknya Nahdlatut Tujar. “Ratusan tahu lalu, para kiai membentuk Nahdlatut Tujar. Ini bukti, betapa keinginan membangun kemandirian ekonomi, begitu kuat,” jelasnya.

Selama ini, lanjutnya, kita bisa kompak dalam pengajian, kita bisa kompak dalam istighotsah, maka kita pun harus bisa kompak dalam berbinis. “Kalau pengusaha NU kompak, maka, nahdliyin tidak hanya sekedar menjadi pasar. Kita akan memiliki daya saing, daya tawar dengan kekuatan bisnis lain. Saya yakin, bisa,” tegasnya.

Selain Abdul Kholik, hadir dalam temu bisnis itu KH As’ad Said Ali, Ketua Dewan Pembina HPN, Dr Emil Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur. Ratusan pengusaha nahdliyin di Jawa Timur juga telah memberikan apresiasinya dan siap hadir untuk ‘ngaji’ kebersamaan bisnis di era digital ini. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry