Dwi Handayani, S.KM., M.Epid – Dosen S1 Ilmu Kesehatan Masyaraka

BEBERAPA tahun terakhir pondok pesantren di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup  pesat baik di wilayah pedesaan, pinggiran kota, maupun perkotaan. Model pendidikan yang ada di pondok pesantren menekankan pada pelajaran agama Islam dan didukung asrama sebagai tempat tinggal santri.

 Kondisi santri yang tinggal bersama dalam jumlah banyak dan dengan waktu yang cukup lama tentunya rentan terhadap berbagai masalah kesehatan, seperti masalah terkait sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat yang dapat berdampak pada munculnya penyakit potensial KLB/wabah.

Untuk itu Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan Bersama Nomor 1067/ Menkes/SKB/VIII/2002, Nomor 385 Tahun 2002, dan Nomor 37 Tahun 2002 tentang Peningkatan Kesehatan Pondok Pesantren dan Institusi Keagamaan Lainnya. Realisasi keputusan bersama tersebut dilakukan dengan membentuk Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren).

Menurut Permenkes RI No. 1 Tahun 2013, Poskestren merupakan salah satu wujud UKBM di lingkungan pondok pesantren, dengan prinsip dari, oleh dan warga pondok pesantren, yang mengutamakan pelayanan promotif (peningkatan) dan preventif (pencegahan) tanpa mengabaikan aspek kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan), dengan binaan Puskesmas setempat.

Namun kegiatan Poskestren selama ini belum maksimal dalam kegiatan promotif dan preventif. Sering ditemukan kegiatan poskestren lebih bersifat kuratif saja, jadi ketika santri sudah sakit baru mereka ke layanan poskestren untuk berobat. Padahal dari sekian banyaknya kegiatan poskestren salah satu aspek terpenting adalah melakukan kegiatan Survei Mawas Diri (SMD).

Survei Mawas Diri (SMD) merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh warga pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya bersama-sama petugas puskesmas, stakeholders terkait dalam mengenal keadaan dan masalah kesehatan di lingkungan pondok.

Namun kegiatan SMD sering tidak dilakukan secara rutin di pondok pesantren dan tidak ditemukan hasil inventarisasi data/informasi tentang masalah kesehatan dan potensi yang dimiliki warga pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya. Padahal data dan informasi dari hasil kegiatan SMD sangat penting sebagai upaya deteksi dini permasalahan kesehatan yang ada di pondok pesantren. Terlebih lagi saat ini kita sudah mengarah pada paradigma sehat, jadi upaya preventif dengan deteksi dini masalah kesehatan harus lebih digalakkan.

Maka diperlukan komitmen yang besar dari berbagai pihak terkait untuk penguatan kegiatan SMD. Dukungan dari pengelola pondok pesantren dan pimpinan daerah setempat juga sangat diperlukan untuk mencapai derajat kesehatan warga pondok pesantren yang setinggi-tingginya. Selain itu, peran puskesmas dan Dinas Kesehatan sangat diperlukan untuk membina dan mengawasi kegiatan poskestren  agar kegiatan SMD dapat dilakukan secara berkesinambungan.

Secara garis besar upaya penguatan kegiatan SMD dapat dilakukan dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen yang mengacu pada permenkes, yaitu adanya fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan.

Indikator keberhasilan kegiatan SMD ini adalah menghasilkan ketersediaan pencatatan yang representatif, pelaporan kegiatan yang kontinyu dan dokumentasi kegiatan yang lengkap. Sehingga informasi dari hasil kegiatan SMD dapat dimanfaatkan untuk perencanaan kegiatan yang akan datang dan mampu memprediksi risiko kesehatan sejak dini.

Harapannya dengan kegiatan SMD yang maksimal dapat terwujud peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, sanitasi lingkungan yang baik, sehingga angka kesakitan santri menurun. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry