Dosen Kebidanan, FKK Unusa, Siska Nurul Abidah memberikan edukasi pada para remaja putri di Poskestren Pondok Pesantren Pelajar Mahasiswa (PPPM) Baitul Makmur Wonokromo, Surabaya, Sabtu (5/9/2026) lalu. DUTA/ist
SURABAYA | duta.co – Anemia pada remaja putri masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Itu terjadi karena masa remaja mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Pada fase ini, remaja putri memiliki kebutuhan gizi yang lebih besar, salah satunya kebutuhan zat besi. Dan sayangnya kebutuhan zat besi ini terkadang diabaikan sehingga banyak terjadi anemia.

Anemia terjadi ketika tubuh tidak memiliki jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Pada remaja putri, kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya kehilangan darah saat menstruasi yang berlangsung secara rutin.

Selain itu, pola makan yang kurang beragam, rendahnya konsumsi sumber zat besi, serta kurangnya pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan zat besi juga dapat meningkatkan risiko anemia.

Karena itu, dosen Kebidanan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK), Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Siska Nurul Abidah memberikan edukasi pada remaja putri dib Poskestren Pondok Pesantren Pelajar Mahasiswa (PPPM) Baitul Makmur Wonokromo, Surabaya, Sabtu (5/9/2026) lalu.

Dosen Kebidanan, FKK Unusa, Siska Nurul Abidah mengatakan edukasi ini penting dilakukan. Karena dampak anemia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisikl, namun juga psikis.

“Remaja yang mengalami anemia dapat lebih mudah merasa lelah, lemah, kurang bertenaga, sulit berkonsentrasi, dan mengalami penurunan produktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Jika tidak dicegah sejak remaja, masalah anemia juga dapat memberikan dampak pada kesehatan perempuan pada tahap kehidupan berikutnya,” jelas Siska dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/9/2026).

Dikatakan Siska, salah satu upaya pemerintah untuk mencegah anemia pada remaja putri adalah pemberian tablet tambah darah (TTD). Namun, keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya dengan memastikan tablet tersedia dan dibagikan kepada remaja.

“Yang tidak kalah penting adalah memastikan remaja memahami mengapa tablet tersebut perlu dikonsumsi dan bagaimana mengonsumsinya dengan benar,” tuturnya.

Di sinilah literasi kesehatan memiliki peran penting. Literasi kesehatan bukan sekadar kemampuan membaca informasi, tetapi juga kemampuan memahami, menilai, dan menggunakan informasi kesehatan untuk mengambil keputusan yang tepat.

Remaja perlu mengetahui bahwa tablet zat besi bukan sekadar “tablet yang harus diminum karena diberikan sekolah”. Mereka perlu memahami bahwa zat besi dibutuhkan tubuh untuk membantu pembentukan hemoglobin dan mendukung fungsi tubuh.

Dengan pemahaman tersebut, konsumsi TTD diharapkan dapat tumbuh menjadi kesadaran dan kebiasaan menjaga kesehatan, bukan sekadar kewajiban.

Mencegah anemia berarti mempersiapkan remaja putri untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Remaja yang sehat memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar, beraktivitas, berkarya, dan mempersiapkan masa depan dengan lebih baik.

“Karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat dengan memberikan edukasi tentang pencegahan anemia menjadi langkah sederhana namun penting,” ujar Siska.

Pemberian edukasi ini mengingatkan remaja bahwa pemberian tablet saja tidak cukup. Pengetahuan harus diperkuat, pemahaman harus dibangun, dan kebiasaan sehat perlu ditumbuhkan bersama.

Remaja putri yang sehat hari ini adalah bagian dari investasi kesehatan generasi Indonesia di masa depan. lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry