
KUALA LUMPUR | duta.co — Komunitas remaja, di sekolah Malaysia kini semakin melek terhadap pemanfaatan tanaman herbal sebagai bahan kosmetik alami.
Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), dr Hotimah Masdan Salim menginisiasi hal tersebut bekerjasama dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan dosen dari Fakultas Kedokteran Universiti Putra Malaysia (FK UPM).
Kegiatan berlangsung di lingkungan SIKL dan Sanggar Bimbingan (SB) Sentul Al Amin, Kuala Lumpur, melibatkan aktif para siswa, orang tua, dan keluarga yang merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Program ini menitikberatkan pada level pengetahuan (knowledge) dan tingkat pemanfaatan (utilization) tanaman herbal sebagai bahan kosmetik di kalangan remaja sekolah. Tim melakukan pemetaan awal mengenai pengetahuan dasar mengenai keamanan, khasiat, cara penggunaan, serta risiko bahan alami, kemudian diikuti dengan rangkaian edukasi praktis yang mudah diterapkan di rumah.
“Remaja perlu memahami bahwa kosmetik herbal bukan sekadar ‘alami’, tetapi mesti aman, bersih, dan berbasis bukti. Literasi inilah yang kami perkuat,” ujar dr Hotimah.
Kegiatan ini menegaskan komitmen FK Unusa dalam pengabdian berbasis riset di komunitas diaspora Indonesia. Dukungan SIKL mempermudah akses pendampingan berkelanjutan bagi siswa, sementara kolaborasi dengan FK UPM memperkuat validitas ilmiah, khususnya pada aspek toksikologi bahan, stabilitas sederhana, dan etika penggunaan tanaman lokal.
“Kolaborasi ini membuka ruang pertukaran pengetahuan lintas negara dan memberi pengalaman belajar kontekstual bagi siswa kami,” kata perwakilan SIKL.
Dari pihak UPM, kolaborasi menambah dimensi evidence-based practice supaya praktik kosmetik herbal di rumah tidak mengabaikan keselamatan kulit dan potensi alergi. Tim menekankan ketepatan identifikasi tanaman (menghindari salah spesies), kebersihan bahan, serta uji sensitivitas kulit sebelum pemakaian.
Edukasi juga mencakup pengenalan regulasi dasar kosmetik rumahan, pentingnya label yang jujur, tanggal pembuatan–kedaluwarsa, serta anjuran tidak menggunakan bahan yang dilarang atau konsentrasi tinggi yang berisiko.
“Anak-anak dan keluarga dijelaskan kapan tidak boleh menggunakan—misalnya pada kulit luka aktif, kondisi sensitif, atau ketika muncul gejala iritasi,” tambah dr Hotimah.
Keterlibatan orang tua TKI menjadi kunci keberhasilan. Melalui forum keluarga, orang tua mendapatkan panduan praktis, terjangkau, dan aman untuk mendampingi minat anak pada kosmetik herbal, sambil menumbuhkan kewirausahaan mikro berbasis nilai tambah bahan dapur/kebun.
“Anak-anak belajar tidak hanya ‘cara membuat’, tetapi kapan tidak boleh menggunakan—misalnya pada kulit luka aktif, kondisi sensitif, atau ketika muncul gejala iritasi,” tambah dr Hotimah. ril/hms








































