Mahasiswa dan dosen foto bersama usai digelar edukasi Kesehatan di Wonokromo Surabaya bbeberapa waktu lalu. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar pengabdian masyarakat bertema Sehat Tanpa Gula : Edukasi 5 Pilar Diabetes dalam Pengendalian Diabetes Mellitus”.

Program ini dilaksanakan di RW 01 Kelurahan Wonokromo, Kota Surabaya beberapa waktu lalu dan menyasar kelompok lansia serta kader kesehatan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif terhadap penyakit diabetes.

Program berlangsung selama empat kali pertemuan dalam suasana yang interaktif dan aplikatif. Pada hari pertama, tim yang terdiri dari enam mahasiswa dan dosen dibagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama melakukan penyuluhan awal dan pengenalan program bersama ibu-ibu posyandu lansia di balai RW, sementara kelompok kedua terjun langsung ke lapangan melakukan pemeriksaan jentik nyamuk bersama kader kesehatan, sembari memperkenalkan diri dan menggali kondisi lingkungan warga.

Kegiatan berlanjut di pertemuan kedua dengan pelatihan penggunaan alat pengukur gula darah (GDA). Para kader dilatih secara langsung bagaimana cara menyiapkan alat, mengambil sampel darah, membaca hasil, hingga mencatat kadar gula darah dengan benar.

Pelatihan ini bertujuan agar kader mampu membantu lansia memantau kadar gula darah secara mandiri di rumah. Pertemuan ketiga menjadi inti dari kegiatan pengabdian.

Para lansia dan kader mendapatkan edukasi tentang lima pilar pengendalian diabetes, yaitu edukasi dasar mengenai penyakit diabetes, pengaturan pola makansehat, aktivitas fisik teratur, kepatuhan konsumsi obat dan pemantauan kadar gula darah secara rutin.

Materi disampaikan dalam Bahasa sederhana dan disertai media bantu berupa poster serta leaflet agar lebih mudah dipahami. Dalam sesi ini, tim juga menyerahkan bantuan berupa tiga alat GDA, stik pemeriksaan, alkohol swab, dan handscoon kepada warga serta kader sebagai bentuk dukungan keberlanjutan program.

Ketua Tim Pengmas, Difran Nobel Bistara, menyampaikan bahwa kelima pilar pengendalian diabetes harus dijalankan secara terpadu. Iamenekankan pentingnya keterlibatan aktif keluarga dan kader dalamproses pemantauan kesehatan lansia agar edukasi tidak berhenti di satutitik, melainkan menjadi budaya hidup sehat yang berkelanjutan.

“Melalui edukasi dan pelatihan ini, kami ingin membekali masyarakat agar lebihmandiri dalam mengelola diabetes sejak dini, bukan hanya bergantungpada layanan kesehatan,” ujarnya.

Program pengabdian ini mendapat sambutan positif dari warga dan perangkat RW. Evaluasi singkat menunjukkan peningkatan pemahaman warga terhadap pengelolaan diabetes serta komitmen untuk mulai mengurangi konsumsi gula harian.

Para kader yang telah dilatih juga menyatakan siap mendampingi lansia dalam pemeriksaan rutin guladarah di lingkungan mereka. Melalui langkah-langkah kecil ini, Unusa berharap dapat memberikankontribusi nyata dalam pengendalian diabetes di masyarakat.

Edukasi berbasis komunitas dinilai efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kemandirian kesehatan masyarakat, terutama di lingkungan padat penduduk seperti RW 01 Wonokromo. Sehat tanpa gula bukan sekadar slogan, tetapi gerakan bersama menuju hidup yang lebih berkualitas bagi para lansia.

Pertemuan keempat ditutup dengan kegiatan senam diabetes bersama kader dan warga lansia. Senam dilakukan dengan gerakan ringan yang disesuaikan dengan kondisi fisik lansia, bertujuan menjaga kebugaran dan mendorong lansia tetap aktif bergerak di rumah.

Para peserta terlihat antusias dan bersemangat mengikuti setiap gerakan, membuktikan bahwa pendekatan edukasi kesehatan bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. ril/hms

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry