
Kegiatan itu berupa Pelaksana Program Pemberdayaan Masyarakat Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) yang dilakukan dosen Unitomo yakni Dr Ully R Tampubolon sebagai Ketua Tim dengan anggota Prof Syahrul Borman, Safrin Zuraidah. Mereka berkolaborasi dengan dosen Untag Surabaya yakni Ir Ichlas Wahid.
Program yang didanai oleh DPPM Kemendiktisaintek ini mengusung tema “Optimalisasi Diversifikasi Produk Batik Tulis Tanjungbumi Berbasis Inovasi Teknologi Siap Bersaing dalam Tren Mode Kekinian.”
Kegiatan tersebut melibatkan UD Zulpah Batik Madura dan CV Naraya Batik sebagai mitra utama, dengan tujuan meningkatkan kualitas produksi serta daya saing batik tulis khas Madura.
Ully Tampubolon selaku ketua Tim PM-UPUD Unitomo ini menjelaskan produk batik tulis Tanjungbumi memiliki keunikan tersendiri, yang menurut data menurpakan salah satunya adalah batik tulis gentongan yang hanya diproduksi di kawasan Madura.
Proses pembuatannya membutuhkan waktu hingga 1–3 tahun karena menggunakan gentong tanah liat yang ditanam di dalam tanah. Hal ini yang membuat batik ini mempunyai nilai eksklusif karena batik tulis gentongan hanya diproduksi 20 persen dari total produksi kedua mitra sedangkan sisanya 80 persen berupa batik tulis dengan pewarnaan alam maupun sintetis.
“Namun, di tengah persaingan ketat dengan batik dari Yogyakarta dan Pekalongan yang sudah berinovasi dengan desain dan produk fashion modern, Zulpah Batik dan Naraya Batik menghadapi tantangan berat untuk tetap bersaing di pasar batik nasional”, papar dosen senior FEB Unitomo ini.
Untuk menjawab persoalan itu, sebagai ketua Tim PM-UPUD, Ully memberikan solusi melalui penerapan teknologi baru. “Pada mitra pertama, Zulpah Batik,kami telah melatih pada mitra penggunaan mesin jahit digital guna meningkatkan kualitas dan variasi model busana batik tulis fashion dan hasilnya, pengrajin mampu memproduksi lima model baju fashion yang diminati pasar dan menembus pesanan baru,” ujar Ully.
Di samping itu menurutnya diversifikasi produk adalah kunci agar batik tulis Tanjungbumi tidak hanya dikenal karena tradisinya, tetapi juga mampu menyesuaikan tren mode kekinian. “Melalui program ini, kami berharap kualitas dan kreativitas pengrajin terus berkembang,” imbuh Ully.
Sementara itu, mitra kedua, Naraya Batik, difokuskan pada peningkatan kualitas proses pelorotan malam yang selama ini masih menggunakan cara konvensional. Tim menyerahkan satu unit bak pelorot tembaga yang terbukti mampu melarutkan malam hingga 99 persen tanpa merusak kain. Selain itu, diberikan pula pelatihan dan praktik pendampingan pengurusan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk motif batik.
“Melalui pelatihan, pendampingan, dan praktek pengurusan HAKI, kami berharap Naraya Batik semakin percaya diri dalam melindungi motif khasnya sekaligus meningkatkan nilai jual produk,” ungkap Prof Syahrul Borman, anggota tim pelaksana.
Tak hanya aspek produksi, program ini juga menyentuh strategi pemasaran. Zulpah Batik mendapat pendampingan pembuatan konten kreatif untuk media sosial seperti Instagram dan YouTube, agar promosi lebih efektif dan menarik minat generasi muda. Dengan begitu, batik tulis Tanjungbumi diharapkan tidak hanya bertahan menghadapi persaingan, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.





































