
Tiga dosen FKK Unusa yang melakukan pengmas itu adalah Rizky Amalia, Ratna Ariesta dan Yunik Windarti dibantu mahasiswa keperawatan dan kebidanan.
Pengmas dilakukan di RW 04 Kelurahan Wonokromo mengusung tema Kesehatan Psikologis Ibu Nifas Dapat Diatasi dengan Inovasi Berbasis Digital.
Kegiatan tersebut dihadiri kurang lebih 50 peserta terdiri dari Ketua PKK RW 04 Wonokromo beserta pengurus, kader Kesehatan dan ibu hamil serta ibu nifas.
Kegiatan ini mengundang antusias warga mengingat kejadian post partum blues kerap terjadi di lingkungan RW 04 Wonokromo.
“Dalam hal ini dukungan dari suami, keluarga dan warga sekitar sangat penting dan diharapkan untuk mencegah terjadinya gangguan psikologis ibu nifas,” kata Rizki, Ketua Tim Pengmas.
Penurunan hormon ketika masa nifas membuat gangguan psikologis semakin meningkat jika tidak dikendalikan dengan baik, meskipun tingkat kejadian gangguan psikologis pada ibu nifas cukup tinggi, tingkat deteksi dan intervensi di banyak negara, termasuk di Indonesia, masih tergolong rendah.
Hal ini disebabkan berbagai faktor, antara lain keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, stigma sosial terhadap gangguan mental, serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental ibu pasca-persalinan. Di sisi lain, sistem layanan kesehatan yang ada saat ini cenderung berfokus pada perawatan fisik ibu dan anak, sementara perhatian terhadap kesehatan psikologi ibu seringkali terabaikan.
“Perhatian terhadap kesehatan ibu nifas sering kali kurang mendapatkan prioritas, terutama dalam aspek dukungan emosional dan psikologis,” tambah Rizki.
Teknologi kesehatan berbasis digital seperti kiaweb.org menawarkan potensi besar dalam menyediakan layanan kesehatan jarak jauh untuk ibu nifas, termasuk edukasi, monitoring, dan dukungan psikologis. Namun, keberhasilan implementasi teknologi ini sangat ditentukan oleh penerimaan pengguna terhadap sistem yang ditawarkan. ril/lis