
SURABAYA | duta.co – Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, masyarakat tidak hanya dituntut untuk adaptif secara teknologi, tetapi juga sadar akan pentingnya pola hidup sehat dan edukatif.
Itulah semangat yang dibawa oleh tim pengabdian masyarakat dan kuliah kerja nyata (KKN) dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) saat menjalankan program pemberdayaan masyarakat di RW 15 Kelurahan Kalirungkut, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, 10 Juni – 10 Juli 2025.
Dosen Pembimbing, Ima Kurniastuti mengatakan RW 15 adalah wilayah padat penduduk yang dihuni oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, serta pelaku UMKM lokal.
Di balik potensi besar yang dimiliki, lingkungan masyarakat ini memiliki sejumlah tantangan di antaranya banyak warga yang belum aware tentang pemantauan Kesehatan. “Mereka juga kurang literasi digital dalam kehidupan sehari-hari, serta keterbatasan pemanfaatan teknologi, terutama di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi,” ujarnya.
Selama program ini dijalankan, tim Unusa melakukan rangkaian kegiatan. Seperti senam lansia untuk menjaga kebugaran warga lanjut usia, edukasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada anak-anak PAUD. Juga ada pelatihan pemanfaatan aplikasi kesehatan, hingga sosialisasi penggunaan handphone secara bijak bagi para anak.
Bentuk kegiatan ini dilakukan secara interaktif, menyenangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Di sisi lain, sektor UMKM pun tidak luput dari sentuhan inovasi.
Warga diajak mengenal desain grafis sederhana lewat aplikasi Canva, serta memahami pentingnya digital marketing. Bagi para pelaku usaha lokal, pelatihan ini menjadi pembuka jalan untuk promosi produk secara online. Bahkan, mereka juga diajak untuk mengaktifkan QRIS sebagai metode pembayaran digital yang modern dan efisien.
Salah satu program yang cukup menarik perhatian adalah pendampingan penggunaan aplikasi kesehatan “Aplikasi Adem Gluacho”. Dengan aplikasi ini, warga bisa memantau kondisi tubuhnya secara mandiri, mulai dari kadar gula darah hingga kadar kolesterol.
Ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, bahkan tanpa harus ke puskesmas.
Langkah yang dilakukan oleh RW 15 Kalirungkut bersama Unusa membuktikan bahwa kolaborasi antara edukasi, teknologi, dan kesehatan dapat menghasilkan dampak nyata. Di era yang serba digital seperti saat ini, pemberdayaan masyarakat harus menyentuh aspek yang paling mendasar—kesadaran, pemahaman, dan keberanian untuk berubah.
Bagi mahasiswa dan generasi muda yang ingin terlibat dalam perubahan sosial berbasis teknologi, Program Studi Sistem Informasi Unusa adalah salah satu tempat terbaik untuk mengasah kemampuan.
Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga ditantang untuk menciptakan solusi konkret bagi masyarakat. Program ini bukan hanya tentang kegiatan pengabdian. Ini adalah awal dari gerakan masyarakat yang lebih sadar teknologi, lebih sehat, dan lebih mandiri. RW 15 Kalirungkut telah memulainya—sekarang giliran kita semua ikut bergerak. ril/hms







































