*Elly Dwi Masita – Dosen FKK

Mengapa Pengasuhan Masa Kini Memerlukan Tradisi Kuno?

Dunia yang Selalu Berubah

Kehidupan di era modern berlangsung dengan sangat cepat. Gadget, media sosial, dan gaya hidup multitasking membuat orang tua masa kini menghadapi tekanan dan tantangan yang berbeda jauh dari generasi sebelumnya.

Anak-anak kita tumbuh di lingkungan digital yang sangat dinamis, dengan akses informasi yang luas namun minim penyaringan. Dalam konteks perubahan ini, muncul pertanyaan: bagaimana cara mendidik anak agar tumbuh bahagia, tangguh, dan memiliki empati yang tinggi?

Di sinilah warisan tradisi berperan penting. Kearifan lokal yang diturunkan dari generasi ke generasi menyimpan nilai-nilai pengasuhan yang tetap relevan dan dapat menjadi penyeimbang dalam pola asuh modern. Ini bukan tentang kembali ke masa lalu sepenuhnya, tetapi tentang menciptakan kolaborasi yang cerdas: pengasuhan masa kini bertemu dengan tradisi kuno.

Pengasuhan Masa Kini: Dinamis tetapi Rentan

Orang tua muda di zaman sekarang dihadapkan pada berbagai tuntutan: pekerjaan, media sosial, ekspektasi sosial, dan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Di sisi lain, arus informasi yang cepat sering kali membingungkan.

Berbagai teori pengasuhan dari Barat, metode pembelajaran digital, dan tren pengasuhan instan sering kali membuat orang tua kehilangan pijakan.

Beberapa tantangan dalam pengasuhan masa kini antara lain: overstimulasi gadget pada anak usia dini, kehilangan waktu berkualitas karena kesibukan orang tua, tingginya tingkat stres di kalangan orang tua muda, dan kurangnya keterhubungan emosional antara orang tua dan anak.

Namun, di tengah modernitas, anak-anak tetap memerlukan hal-hal mendasar yang tidak tergantikan: kehadiran orang tua, kasih sayang, kebiasaan baik yang dicontohkan, serta kedekatan emosional.

Tradisi Kuno: Kearifan yang Tak Pernah Usang

Tradisi kuno yang berasal dari budaya Nusantara, khususnya Jawa Timur, menyimpan banyak nilai luhur tentang pengasuhan anak dengan cinta, kesabaran, dan nilai-nilai komunitas. Contohnya adalah tradisi “ngemong” dalam budaya Jawa yang menekankan pengasuhan penuh kasih dan kesabaran. Upacara mitoni, selapanan, dan tedhak siten mengandung filosofi penghormatan terhadap pertumbuhan anak.

Nilai gotong royong dalam keluarga besar juga menjadi sistem dukungan penting dalam pengasuhan. Kearifan ini mengajarkan bahwa anak bukan hanya milik orang tua, tetapi juga milik komunitas. Proses tumbuh kembang anak dilihat sebagai bagian dari perjalanan spiritual dan sosial yang sakral.

Data dan Fakta: Ketimpangan dan Kerinduan Akan Nilai

Berdasarkan studi lapangan selama lima tahun terakhir (2019–2024) di wilayah Jawa Timur (Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bondowoso, dan Sumenep), ditemukan bahwa 60% orang tua muda merasa tidak percaya diri dalam mendidik anak, terutama dalam menghadapi emosi anak.

Selain itu, 70% anak usia 1–5 tahun di wilayah perkotaan menghabiskan lebih dari 4 jam per hari dengan gadget. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang masih menjalankan nilai-nilai tradisi lokal (misalnya, makan bersama, mendongeng sebelum tidur, dan gotong royong) menunjukkan perkembangan sosial emosional yang lebih baik. Data ini menunjukkan bahwa di balik gemerlap modernitas, terdapat kerinduan akan nilai-nilai dasar: kebersamaan, kasih sayang, keteladanan, dan kesederhanaan.

Kolaborasi yang Menguatkan

Tidak perlu memilih antara modern atau tradisional. Yang terpenting adalah kemampuan orang tua dan pendidik untuk memfilter nilai-nilai modern yang mendukung pengasuhan yang sehat, menghidupkan kembali tradisi lokal yang sarat makna, serta menciptakan pola asuh yang fleksibel, kontekstual, dan penuh cinta.

Misalnya, menggabungkan teknologi edukatif (seperti video storytelling) dengan dongeng lokal sebelum tidur, atau mengintegrasikan kegiatan motorik anak modern (seperti sensory play) dengan permainan tradisional seperti engklek, dakon, atau bermain pasir di halaman.

Saatnya Kembali ke Akar, Tapi Tumbuh ke Atas

Kita tidak bisa mengabaikan kemajuan zaman, tetapi kita bisa memilih untuk tetap terhubung dengan akar budaya kita. Mengasuh anak di era digital bukan berarti kehilangan kendali, melainkan saat yang tepat untuk merevitalisasi nilai-nilai lama dengan sentuhan baru.

Kearifan lokal bukanlah warisan yang usang, melainkan sumber inspirasi yang kaya. Ketika pengasuhan masa kini berkolaborasi dengan tradisi kuno, lahirlah model pengasuhan yang membumi, penuh kasih, dan mampu mencetak generasi anak-anak yang bahagia, kuat, dan berdaya.

Emosi Anak, Urusan Serius!

Usia 1–5 tahun merupakan masa kritis dalam perkembangan emosi anak. Pada fase ini, anak belajar mengenali, mengungkapkan, dan mengelola emosinya. Sayangnya, banyak orang tua muda yang belum memahami pentingnya validasi emosi anak.

Menurut Goleman (1995), kecerdasan emosional berkontribusi lebih besar terhadap keberhasilan hidup anak dibandingkan IQ semata. Pengasuhan berbasis budaya dapat memberikan anak ruang yang lebih ramah untuk belajar mengelola emosi—melalui cerita, lagu tradisional, dan interaksi sosial alami di lingkungan.

Kisah Inspiratif, Sekolah Alam Anak Osing

Mengintegrasikan budaya Osing dalam aktivitas belajar. Anak-anak diajak untuk menari gandrung, mendongeng legenda setempat, dan berkebun. Dampaknya adalah peningkatan kemampuan bersosialisasi dan penurunan agresivitas pada anak usia 3–5 tahun berdasarkan studi Universitas Airlangga (2021).

Komunitas Bunda Cerdas

Komunitas ini menyelenggarakan kelas pengasuhan berbasis budaya Jawa modern. Misalnya, cara menyampaikan emosi dengan bahasa Jawa alus kepada anak. Dampaknya adalah meningkatnya kesadaran orang tua muda tentang pentingnya bahasa kasih yang lembut.

Dongeng Madura sebagai Terapi Emosi

Dongeng Madura digunakan sebagai sarana untuk mengajarkan anak memahami rasa takut, kecewa, dan bahagia. Dampaknya adalah anak-anak menjadi lebih ekspresif dan memiliki kosa kata emosi yang lebih kaya.

Digitalisasi Budaya Pengasuhan

Orang tua muda sangat akrab dengan teknologi. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan konten seperti podcast cerita rakyat lokal untuk anak, video parenting singkat dengan tokoh budaya lokal, atau aplikasi permainan edukatif berbasis budaya lokal.

Dampak Jangka Panjang dan Masa Depan Pengasuhan

Anak-anak menjadi lebih tangguh secara emosional. Orang tua lebih terhubung secara emosional dan budaya dengan anak. Masyarakat menjadi lebih inklusif, menghargai budaya, dan saling mendukung. Dengan integrasi budaya dan teknologi, anak-anak di Jawa Timur dapat menjadi generasi yang global dalam wawasan, tetapi tetap lokal dalam identitas.

Saatnya kita semua membangun generasi emas bukan hanya dengan teknologi, tapi juga dengan hati. Karena sejatinya, cinta dan kearifan adalah fondasi terbaik untuk masa depan anak-anak kita. *

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry