JAKARTA | duta.co — Ini mungkin karena umat kurang menghendaki KH Ma’ruf Amin terjun ke dunia politik. Umat khawatir Kiai Ma’ruf menjadi korban kebusukan dunia politik yang biasanya menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan.
Karena itu, hasil survei Charta Politika, cawapres nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin, dinilai belum memberikan dampak suara signifikan terhadap pasangannya, Joko Widodo (Jokowi). Faktor Kiai Ma’ruf sebagai insentif elektoral ke pemilih Jokowi masih kecil, hanya 0,2%.
“Masih kecil sekali bagaimana faktor Kiai Ma’ruf sebagai calon wakil presiden menjadi insentif elektoral ternyata dari keseluruhan pemilih dan ini hanya ditanyakan kepada pemilih Jokowi hanya 0,2 persen karena suka dengan Kiai Ma’ruf, belum menjadi insentif elektoral,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, di kantor Charta Politika, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (16/1/2019).
Dibanding Kiai Ma’ruf, pengaruh cawapres nomor 02 Sandiaga Uno justru lebih besar ke pemilih Prabowo Subianto. Hasil survei Charta Politika menyebut faktor Sandiaga sebagai insentif elektoral ke pemilih Prabowo sebanyak 2,5%. Salah satu faktornya adalah Sandiaga punya pengalaman memimpin di Ibu Kota saat menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.
“Menarik, ada muncul angka suka Sandiaga Uno angkanya lebih besar dari Kiai Ma’ruf ketika kita uji insentif elektoral ada 2,5 persen yang memilih nomor 2 karena faktor Sandi,” paparnya.
Meski demikian, Yunarto memaparkan ada stagnasi elektabilitas dari pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo Subainto-Sandiaga Uno. Stagnasi itu selama 3 bulan terakhir, yakni dari Oktober hingga Desember 2018.
“Pada survei bulan Oktober, Jokowi mendapat perolehan 53,2 persen melawan Prabowo 35,5 persen. Namun, di bulan Desember, suara Prabowo turun menjadi 34,1 persen. Dari situ terlihat suara kedua paslon masih stagnan antara Oktober sampai Desember 2018,” ujar Yunarto.
Dia mengatakan stagnasi itu terjadi karena kedua calon memiliki strong voter 80 persen. Faktor pertarungan ulang antara Jokowi dan Prabowo juga dinilai membuat elektabilitas dua calon jalan di tempat.
“Di situlah stagnasi sangat mungkin terjadi karena ini rematch dari dua kelompok yang itu-itu aja memang berantem terus-terusan,” paparnya.
“Yang kedua, kalau dilihat, ada pola pemberitaan yang agak sedikit mulai datar. Awal-awal ada beberapa isu kontroversial yang menarik jadi pergunjingan, misalnya terkait ‘tempe setipis ATM’ sampai pakai wig pete. Tapi dengan masa kampanye yang cukup lama pasca dua bulan ada kejenuhan,” lanjut Yunarto.
Lebih lanjut, dia juga memaparkan pengaruh isu-isu yang menyerang Jokowi ataupun Prabowo terhadap elektabilitas. Hasil surveinya menyatakan 13,3 persen masyarakat percaya keterkaitan Jokowi dengan PKI. “Isu PKI memang ada 13,3 persen yang menyatakan Presiden Jokowi terkait PKI yang percaya,” kata dia.
Sementara itu, reuni 212 disebutkan Yunarto tak berdampak signifikan terhadap Prabowo. Hasil surveinya membantah hipotesis elektabilitas naik karena reuni 212. “Gerakan reuni 212 lebih diapresiasi positif tapi kalau dari elektabilitas ternyata tak terlalu berpengaruh ke elektabilitas Prabowo. Ini termasuk membantah hipotesa yang menyatakan pasca-212 ada kenaikan elektabilitas pasangan nomor 02,” tuturnya. (det/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.