CATATAN PERADABAN

(Membaca Peristiwa, Merawat Nilai, Menata Masa Depan)
Oleh: Dr Romadlon Sukardi, MM*

DI balik setiap angka pengangguran yang berhasil diturunkan, sesungguhnya terdapat kisah-kisah kemanusiaan yang sering tidak terlihat. Ada seorang ayah yang kembali mampu membawa pulang nafkah untuk keluarganya. Ada seorang ibu yang dapat membantu biaya pendidikan anak-anaknya. Ada seorang lulusan sekolah yang akhirnya menemukan harapan setelah sekian lama menunggu kesempatan kerja.

Karena itu, ketika Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerima penghargaan sebagai Pemerintah Daerah Terbaik I dalam Penurunan Tingkat Pengangguran pada ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 dari Kementerian Dalam Negeri, sesungguhnya yang patut dirayakan bukanlah sekadar sebuah trofi penghargaan. Yang lebih penting adalah bertambahnya harapan hidup jutaan masyarakat Jawa Timur.

Data menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada Februari 2026 turun menjadi 3,55 persen, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 4,68 persen. Bahkan dalam lima tahun terakhir, angka pengangguran Jawa Timur terus menunjukkan tren penurunan yang konsisten.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin hanya statistik. Namun bagi mereka yang pernah merasakan sulitnya mencari pekerjaan, angka itu adalah simbol hadirnya peluang, optimisme, dan masa depan yang lebih baik.

Dalam perspektif pembangunan modern, keberhasilan menurunkan pengangguran bukanlah pekerjaan sederhana. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu melihat persoalan secara utuh, membangun kolaborasi lintas sektor, dan menghadirkan kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Di sinilah kita melihat bagaimana kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menunjukkan karakter kepemimpinan transformatif, inovatif, kreatif, empatik, dan berkelanjutan. Kepemimpinan transformatif bukan hanya tentang menghasilkan program. Kepemimpinan transformatif adalah kemampuan mengubah tantangan menjadi peluang dan mengubah potensi menjadi prestasi.

Keberhasilan Jawa Timur menurunkan angka pengangguran tidak lahir dalam semalam. Ia merupakan hasil dari orkestrasi besar berbagai program pembangunan yang dijalankan secara konsisten melalui Nawa Bhakti Satya sebagai arah pembangunan Jawa Timur.

Program Jatim Kerja menjadi salah satu fondasi utama dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya saing tenaga kerja. Program Jatim Cerdas memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Program Jatim Sejahtera memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas. Sementara Jatim Amanah dan Jatim Harmoni menjadi fondasi tata kelola pembangunan yang kolaboratif dan berkelanjutan.
Yang menarik, keberhasilan ini tidak hanya terlihat dari turunnya angka pengangguran secara umum. Penurunan pengangguran lulusan SMK menjadi indikator yang sangat strategis.

Selama bertahun-tahun, lulusan pendidikan vokasi sering menghadapi tantangan dalam memasuki dunia kerja. Namun kini, melalui pendekatan link and match antara sekolah, dunia usaha, dunia industri, dan perguruan tinggi, Jawa Timur berhasil menunjukkan bahwa pendidikan vokasi mampu menjadi jembatan efektif menuju dunia kerja.
Inilah bukti bahwa pendidikan yang relevan adalah investasi terbaik bagi masa depan bangsa.

Dalam perspektif akademik, keberhasilan tersebut menunjukkan efektivitas konsep Triple Helix bahkan Penta Helix Development, yaitu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dunia industri, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Tidak ada satu institusi pun yang mampu menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi, inovasi, dan kemauan untuk bergerak bersama.

Hal ini sejalan dengan teori pembangunan berkelanjutan yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat dan terbukanya kesempatan yang setara bagi semua.

Dalam perspektif Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi. Bekerja adalah bagian dari ibadah dan bentuk kemuliaan manusia. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tangan yang bekerja lebih mulia daripada tangan yang meminta. Islam menempatkan pekerjaan sebagai sarana menjaga kehormatan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Oleh karena itu, menciptakan lapangan pekerjaan sesungguhnya bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga misi kemanusiaan dan pengabdian sosial.

Ketika pemerintah membuka akses pelatihan, memperluas kesempatan kerja, menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan industri, dan memberikan peluang kerja hingga ke tingkat global, sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah memuliakan manusia.

Dalam konteks global, dunia saat ini sedang menghadapi disrupsi besar akibat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), otomatisasi, digitalisasi, dan perubahan pola kerja. Banyak pekerjaan lama akan hilang, tetapi pekerjaan baru akan lahir dengan kompetensi yang berbeda.

Karena itu, keberhasilan Jawa Timur hari ini tidak boleh membuat kita berpuas diri. Tantangan masa depan justru semakin kompleks.

Generasi muda harus dipersiapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Pendidikan harus melahirkan inovator, technopreneur, sociopreneur, creativepreneur, dan pemimpin masa depan yang mampu bersaing secara global.

Ke depan, penguatan ekonomi digital, industri kreatif, ekonomi syariah, green economy, dan pengembangan keterampilan berbasis teknologi harus menjadi agenda prioritas agar Jawa Timur tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari capaian ini. Pertama, pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kedua, kepemimpinan yang empatik mampu menerjemahkan data menjadi kebijakan yang menyentuh kehidupan rakyat.

Ketiga, pendidikan yang terhubung dengan dunia kerja merupakan investasi paling strategis untuk masa depan.

Keempat, kolaborasi lintas sektor adalah kunci keberhasilan pembangunan modern.
Kelima, kualitas sumber daya manusia akan menjadi faktor penentu daya saing bangsa di era global.

Pada akhirnya, penghargaan ini bukanlah garis akhir. Ia adalah penanda bahwa Jawa Timur sedang berada di jalur yang benar dalam membangun manusia sebagai pusat pembangunan.

Karena sesungguhnya keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya diukur dari tingginya gedung yang dibangun atau besarnya anggaran yang dikelola, tetapi dari berapa banyak harapan yang berhasil dihidupkan, berapa banyak kesempatan yang berhasil dibuka, dan berapa banyak masyarakat yang berhasil merasakan manfaat pembangunan.

Ketika pengangguran menurun, kesejahteraan meningkat, pendidikan semakin relevan, dan kesempatan kerja semakin terbuka, maka sesungguhnya yang sedang tumbuh bukan hanya ekonomi. Yang sedang tumbuh adalah optimisme, martabat, dan peradaban.

Karena setiap peristiwa bukan sekadar berita. Ia adalah pelajaran bagi mereka yang mampu membaca tanda-tanda zaman. Wallahu A’lamu Bisshawab.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry