Dr Sri Setyadji SH MH

Suraba|duta.co-Dalam sepekan terakhir ini, sejumlah kawasan di Surabaya dipenuhi spanduk dukungan muculnya duet cawali-cawawali Puti Soekarno-Gus Hans.

Selain terdapat gambar Puti-Gus Hans, spanduk dengan paduan warna merah-kuning tersebut dengan tulisan Young and  Clean, Puti-Hans. Spanduk itu bertebaran di kawasan Bulak Banteng, kawaasan Jembatan Suramadu, Sidotopo dan Kedinding Lor.

Menanggapi maraknya spanduk Puti-Hans   dosen Untag Surabaya , Dr Sri Setyadji SH MH,  menegaskan duet Puti-Hans akan  lebih kompetitip untuk bertarung dalam Pilwali Surabaya 2020 mendatang.

“Jikalau pasangan itu yang akan menjadi jago PDIP / Partai Golkar, maka lebih kompetititif, karena elite partai sudah mengkalkulasi indikator calonya. Misalkan integritas, kapasitas, elektabilitas dan akuontabilitas,”tegas Sri Setyadji kepada duta.co, Selasa (17/3).

Pemerhati Hukum dan Masyarakat ini menambahkan dengan munculnya calon yang sudah berpasangan, maka kontestasi akan lebih memberikan pilihan pada pemilih.

“Disini nampak endorse dari elite politik paham segmen pemilih. Artinya pasangan ini akan membagi eksplorasi pemilih, sehingga tidak akan bias,” bebernya.

Tetang parpol pengusung PDIP sendiri, menurutnya, PDIP Surabaya sangat paham dengan kondisi Surabaya. “Karea beberapa perioden Surabaya adalah milik (PDIP). Tingga; bagaimana manjemen kampanye dan visi  misi,  agar pemilih yakin.  Kalaupun bukan birokrat pasangan ini bisa menjaga dan membuat lebih baik kota Surabaya. Disitu sebuah jawaban yang meyakinkan pemilih,” tegasnya.

Sebelumnya mantan Ketua DPC PDIP Surabaya Saleh Ismail Mukadar menjelaskan partainya kalau ingin memenangkan pertarungan dalam Pilwali Surabaya 2020  harus mengusung  Puti  Guntur Soekarno.

Selain itu, Puti harus menggandeng calon walikota dari parpol yang punya basis partai kuat. “Kalau mau menang mudah,  Puti berpasangan dengan pasangan luar PDIP,“ tegas Saleh kepada duta.co, Jumat (13/3/2020).

 

Kenapa harus Puti yang dicalonkan?   Saleh  menjelaskan, Puti  lebih berpotensi menyatukan faksi-faksi di tubuh DPC PDIP Surabaya.

“Puti lebih punya potensi menyatukan faksi-faksi. Juga memiliki  elektabilitas,  kapabilitas dan harapan keterpilihan lebih daripada calon lain,” tambahnya.

Mantan anggota DPRD  Jatim ini membeber panjang lebar, peluang kader PDIP Surabaya lainnya. Menurutnya, Wisnu Sakti Buana (WS) di internal PDIP bagus,  namun kurang bagus di ekternal.

“Wisnu di internal bagus, tapi dia sangat tidak bagus di eksternal. Di internal juga ada potensi tidak solid. Sementara Eri Cahyadi selain elektablitasnya rendah, dia bukan kader asli yang memiliki basis massa yang solid,” beber Saleh. (mha)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry