Sunanto (kri) dan Firman Syah Ali. FT/IST

INDRAMAYU | duta.co – Salah satu pendiri Majelis Nusantara, Sunanto, asal Indramayu meninggal dunia tadi tengah malam, Selasa 1 Desember 2020. Para Netizen muslim moderat dan toleran dari seluruh penjuru Indonesia berkabung, menyampaikan ungkapan duka mendalam.

Seperti diketahui, Majelis Nusantara adalah Grup WA fenomenal yang didirikan tahun 2015 silam oleh Firman Syah Ali Surabaya, Sunan Jaga Kali alias Sunanto Indramayu, Jolo Sukmo Bangil dan Basyarudin Pelaut.

Istimewanya: Grup WA Majelis Nusantara pada saat didirikan beranggotakan para tokoh muslim Indonesia dari berbagai Manhaj, Madzhab dan harokah. Mereka berdiskusi 24 Jam tentang teologi, ideologi dan politik dengan aturan ketat.

Saking ketatnya, narasi yang masuk harus ‘bersih dan benar’, tidak boleh posting hoax; tidak boleh ujaran kebencian; Tidak boleh fallacy; Tidak boleh nyepam;Tidak boleh caci-maki; dll

Tidak mudah, memang, tokoh-tokoh dari berbagai aliran yang berseberangan satu sama lain, itu dipaksa tertib tidak boleh saling caci-maki, ujaran kebencian dan hoax, apalagi tahun 2015 sedang panas-panasnya polarisasi politik Pro Jokowi Vs Anti Jokowi.

Apalagi, diantara bintang diskusi Majelis Nusantara adalah tokoh-tokoh kontroversial, seperti Tengku Zulkarnaen (Alwashliyah); Alfian Tanjung (Muhammadiyah), KH Ulil Abshar Abdalla (JIL), M Guntur Romli (JIL), Abbas Mawardi (NU GL), Habib Abubakar Alhabsyi (Syi’ah), Habib Usman Arsal Alhabsyi (Syi’ah), Habib Abdillah Baabud (Syi’ah), Habib Ali Muthollib Assegaf (Syiah), Habib Abdullah Haidar Shahab (FPI), Ziyyulhaq Syamsul Falahi (Gus Iblis) Waskita Jawi Ponorogo, Dadang Merdesa (Presiden Jaringan Kafir Liberal), Gus Kevin Haekal (Pemuda NU).

Ada juga Emilia Renata (Syi’ah), Zulkarnaen El Madury (Salafi Wahabi), Hairul Anas Suaidi Robot situng Pilpres 2019 (Tarbiyah/Jamaah Salman ITB), Ahmad Dhani, Maher Thuwailibi waktu itu  pakai nama lama, Abu Janda, Raden Linawati (Pakar Nasab) dan lain-lain

Saking panasnya suasana diskusi grup, admin tegas mewajibkan seluruh member grup pasang nama  asli dan setor KTP. Tujuan member grup setor KTP adalah agar jelas pertanggungjawaban dari semua komen yang bersangkutan dalam diskusi yang selalu panas.

Bertahun-tahun mereka diskusi panas 24 jam, tanpa ada ujaran kebencian dan lain-lain, akhirnya secara personal mereka bersahabat satu sama lain, bahkan ada yang kemudian saling terikat bisnis yang menghasilkan, padahal di grup Majelis Nusantara mereka saling gempur dengan keras dan ganas.

Keempat admin (Firman, Sunan Jaga Kali, Jolo Sukmo dan Basyarudin) adalah tokoh-tokoh sarjana kuburan (Sarkub) dan Kenthiriyyun yang bersikap sangat obyektif, walau sesama sarkub/kenthir kalau melanggar aturan grup langsung dikick.

Sarkub adalah istilah untuk para penghobi ziarah makam waliyullah, mereka di media sosial biasanya bertarung dengan salafi wahabi yang biasa membid’ah-bid’ahkan ziarah makam wali.

Salah satu pendiri Majelis Nusantara Firman Syah Ali menyampaikan duka cita terdalam atas wafatnya Sunan Jaga Kali. “Sunan adalah seorang pengikut tasawuf yang sangat cerdas, humoris dan tidak pernah menyakiti orang lain dengan komen kasar. Komennya pasti lucu sehingga lawan diskusi tidak sakit hati walaupun sebetulnya sedang dikritik oleh Sunan” ucap Firman Syah Ali.

“Majelis Nusantara adalah Majelis Ilmu, semoga semua amal baik sunan dalam memfasilitasi diskusi konstruktif di Grup Majelis Nusantara mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah, dan semoga semua kesalahan Sunan diampuni, Aamiin”, pungkas tokoh muda NU yang oleh Gus Yaqut pernah disebut sebagai Ketua GP Ansor Dunia Maya ini. (*)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry